Boas 1

Minggu, 22 Agu '10 20:17

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menanyakan kesan bekas kiper Indonesia era 70-80-an, Yudo Hadiyanto, soal tim nasional jaman sekarang.

Pria yang sudah sangat sepuh itu memberi jawaban yang terkesan mencemooh yuniornya. "Payah. Semuanya mikirin ini," katanya sambil menggosokkan ibu jari dengan empat jari di tangan kanannya.

Maksudnya, uang. Pendeknya, para pemain Indonesia jaman kini tak punya motivasi kebangsaan ketika dipanggil ke timnas. Tidak seperti para pemain seangkatannya. Jikapun ada pada pemain masa kini, mungkin kadarnya cuma pelengkap.

Itu pula yang pernah dikatakan oleh bekas pelatih timnas asal Inggris, Peter Withe. Para pemain Indonesia hanya termotivasi oleh uang.

Saya paham pemain sepakbola tak akan mungkin bermain hingga usia 50 tahun. Seperti orang kantoran, misalnya. Maksimal, rata-rata cuma akan bermain hingga usia 35 tahun. Menjadi wajar jika mereka berpikir mengenai penghasilan.

Tetapi dipanggil ke timnas adalah kesempatan langka dan sekaligus istimewa. Saya menjadi tak habis pikir pemain sekelas Boas Solossa dan Ian Kabes mangkir untuk mengikuti pelatnas.

Alasan pertama yang dikemukakan adalah kesulitan tiket penerbangan dari Papua ke Jakarta. Tapi ternyata, Boas terlihat bermain dalam sebuah pertandingan lokal bernuansa eksibisi atau tarkam.

Agak sulit bagi saya mencerna mengapa Boas memilih bermain di sebuah laga tak resmi ketimbang memenuhi panggilan timnas untuk berlatih.

Apabila alasan tarkam yang dipakai, itu pun tak logis. Sebagai pemain nomor satu, gajinya di Persipura Jayapura jauh di atas kebanyakan pemain Liga Indonesia. Pemain level timnas di klub masing-masing punya bayaran per tahun minimal Rp 300 juta. Libur beberapa bulan karena kompetisi sedang rehat, saya pikir tak akan memengaruhi asap dapur.

Alasan berikutnya yang muncul adalah kerinduan masyarakat Papua di luar wilayah Jayapura dan Wamena untuk menyaksikan Boas di lapangan. Namun pelatnas dilakukan tidak dalam waktu yang sangat lama. Untuk memuaskan dahaga masyarakat terhadap seorang bintang pasti masih bisa dilakukan setelah itu. Bahkan bisa pula dilakukan di sela-sela kompetisi, andai mau. Toh itu cuma laga eksibisi.

Alasan ketiga yang dilontarkan banyak orang adalah perlakuan lama timnas kepada Boas ketika cedera patah engkel silam. Mungkin Boas merasa sakit hati. Orang kemudian juga mengaitkannya dengan hubungan antara Indonesia dan Papua. Untuk hal ini, saya tak bisa berkomentar. Tetapi andaikata memang benar ada perlakukan tidak semestinya kepada Boas saat cedera, toh dia tetap menjadi pemain istimewa saat memperkuat timnas.

Suporter juga masih menyukainya karena dia memang hebat secara kemampuan individu.

Pemanggilan ke timnas adalah sebuah perlakuan istimewa. Dipercaya untuk memperkuat timnas adalah pengakuan atas kemampuan seorang pemain. Dia dianggap sebagai salah satu pemain terbaik di sebuah negeri sehingga pantas membela timnas.

Timnas adalah purna karir seorang pemain. Timnas adalah representasi negara di lapangan olahraga. Ini layaknya sebuah perang membela panji negara. Membela negara ada di atas segalanya, kecuali memang ada hal urgent.

Saya merasa Boas bukan orang yang tak mau membela timnas. Dia mungkin menjadi korban situasi. Tapi apapun alasannya, dia tetap harus dikenai sanksi karena menolak panggilan timnas. Bila tidak, pemain lain bisa mencontoh. Pemanggilan timnas akan dianggap sepele. Ini bisa menjadi preseden buruk dan lebih jauh lagi melemahkan timnas.

Bila seorang pemain tak lagi mengindahkan timnas kita yang sudah lemah itu, entah apa jadinya kesebelasan Indonesia.


Tag: Timnas Indonesia, Boas Solossa

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Holligan 0 0
yg penting kompetisinya emang hrs dibetulin dulu *teteup* : ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat