Legenda: Max Timisela 0
Jumat, 20 Agu '10 17:19
Timisela tidak akan pernah menyesal memilih I sepak bola sebagai jalan hidup. Padahal dunia yang telah melambungkan namanya itu telah lama ia yakini tidak memberikan apa-apa. Max-pemain Persib Bandung (1962) dan tim nasional (1965)-bisa segera terlupakan. Tapi lelaki berdarah Ambon itu tidak peduli, dan ka-tanya,"Saya lahir di sepak bola, saya sangat menikmati hidup ini .. bersama sepak bola "
Max-lahir di Cimahi, 7 Juni 1944-dulu dikenal sebagai penyerang cerdik,"licik", dan jeli membongkar pertahanan lawan. Dia adalah salah satu murid kesayangan Erents Alberts Mangin-daan (pelatih tim nasional 1966-1970). Bersama Sutjipto Soentoro, Max pernah ditawari bermain di Werder Bremen ketika tim nasional melakukan tur ke Eropa.
Max kini tinggal di Bandung dan sudah menjadi bagian dari Persib Bandung. Bersama mantan bintang-bintang Persib, di antaipnya Eneas Tonil, Adjat Sudradjat, dan Risnandar, Max mendapat kepercayaan dari Umuh Muchtar, Manajer Persib, sebagai tim pemandu bakat Maung. Pekerjaan lain Max adalah membuat dokumentasi perjalanan Persib, yang diambil dari koran-koran yang ada di Bandung. Dia sangat senang menja-lani pekerjaan ini.
Saya terakhir kali bertemu dengan Max di pemakaman Karet, Jakarta, ketika kami sama-sama mengantar mantan pemain nasional Iswadi Idris ke tempat peristirahatan terakhir pada Juli 2008. Rabu lalu, saya menghubungi Max. Dia mengabarkan dalam kondisi sehat dan kembali menegaskan tidak pernah berpikir meninggalkan sepak bola ketika saya menggodanya dengan menyatakan bahwa dunia yang ia cintai ini tidak memberikan apa-apa.
Kini Max tidak sedang mencetak gol. Dia bukan lagi bintang lapangan. Kisah sukses dia sebagai pemain telah lama tergerus oleh hiruk-pikuk kompetisi di Tanah Air. Dan Max-dia gantung sepatu pada 1979-cepat atau lambat akan segera dilupakan orang. Namun, di mata saya, Max adalah lelaki (mantan pemain) yang bersih, apa adanya, loyal, dan memiliki karakter kuat.
Apa yang saya lihat pada diri Max bertolak belakang dengan kondisi sepak bola nasional, yang kian karut-marut. Di dalamnya tidak ada lagi kejujuran, dan penuh dengan akal-akalan. Kompetisi (Liga Super, Divisi Utama, serta Piala Indonesia) yang sudah sampai pada tahap akhir ini belum mencerminkan kompetisi yang bersih dan sehat.
Sejatinya kompetisi harus terlindungi seperti yang dikatakan Presiden FIFA Sepp Blatter di Kongres FIFA, yang berlangsung di Sydney Opera House, Sydney, Australia, 30 Mei 2008. Seorang teman (dia bukan pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang hadir di sana menggambarkan bahwa sesungguhnya Blatter sangat menginginkan kompetisi yang bersih dan terlindungi. "Eac/i/federation mustmake sure to protect their competition," kata Blatter.
Kompetisi yang tak terlindungi terlihat ketika ada wacana Liga Super akan dipecah menjadi dua atau tiga wilayah pada musim mendatang. Pembagian wilayah ini (pernah diterapkan pada musim 2005/2006) bisa mengabaikan sistem promosi serta degradasi dan tentu saja banyak klub yang diselamatkan.
FIFA pada Kongres 2005 di Marrakech, Maroko, jelas menyatakan sistem promosi dan degradasi wajib dijalankan dalam kompetisi di seluruh dunia kecuali di Amerika dan Australia. Badan sepak bola dunia itu membentuk satuan tugas dalam usahanya mengatasi permasalahan yang memberikan dampak buruk pada sepak bola demi kebaikan permainan, dan salah satunya adalah penerapan sistem promosi serta degradasi.
Konsep ini tentu saja untuk mencegah sepak bola akal-akalan. Promosi hanya bisa diberikan kepada klub yang benar-benar berprestasi. Bukan diberikan dengan cara pembelian atau pemindahan sebuah klub (Persija Jakarta Timur menjadi Sriwijaya FC). Saya tidak akan mampu memahami jika benar pembagian wilayah ini akan diterapkan. Atau ketika salah satu petinggidi Senayan dengan seenaknyamenekan Kuningan (PT Liga Indonesia) agar menggelar sepuluh besar di Divisi Utama.
Kompetisi yang tak terlindungi juga saya lihat ketika Komisi Disiplin FIFA masih menempatkan Indonesia di peringkat pertama negara paling banyak memunculkan masalah dengan 48 kasus yang muncul dari konflik pemain (pelatih) dengan klub. Kasus Per-sisam Samarinda memecat pelatih Vata Matanu, misalnya, kembali mencuat ketika klub berju-h ik .in Elang Borneo itu kini sedang berjuang lolos dari jurang degradasi. Padahal peristiwanya terjadi pada musim lalu.
Kasus-kasus seperti ini bisa jadi membuat kompetisi yang kita cintai ini tidak akan pernah ada ujungnya. Apalagi ketika saya juga mendengar bahwa Are-ma Indonesia telah diproyeksikan menjadi juara Liga Super musim ini.
Max Timisela tidak akan pernah terpengaruh oleh karut-marut sepak bola Indonesia. Dia juga tidak peduli siapa yang bakal jadi juara. Dia lebih baik memilih menutup mata dengan kedua tangannya dan sekali lagi mengatakan,"Saya sangat menikmati hidup ini bersama sepak bola."*
Yon Moeis, Wartawan Tempo
Tag: max timisela
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Røsyid Ridlo Viola √: Biasa
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat