Titik Nadir? 0

Selasa, 3 Agu '10 16:50

Rasanya sah bila orang menganggap sepakbola kita sudah habis.

Tak pernah ada prestasi dari tim nasional dalam satu dekade terakhir, kekerasan dan kericuhan yang menghantui liga, pikiran instan (tarkam) hingga kewibawaan PSSI yang anjlok adalah sebuah indikator.

Carut-marutnya sepakbola makin kompleks ketika beberapa pihak yang seharusnya ada di luar justru masuk ke dalam. Presiden, Menteri Olahraga dan Kapolda Jawa Tengah seakan menjadi ahli sepakbola.

Merasa ahli dan cakap tentu tidak dilarang. Bahkan itu diperlukan untuk membenahi sepakbola kita. Masalahnya mereka melakukannya dari luar. Itu tabu bagi FIFA, di mana Indonesia menjadi anggotanya, yang sangat eksklusif.

Presiden Prancis Nicolas Sarkozy bahkan membatalkan keinginannya untuk masuk lebih jauh mengusut aksi mogok Tim Nasional negaranya di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Dia tahu ada aturan (FIFA).

Sarkozy tentu bukan hanya tidak rela Les Blues dilarang beraktivitas di dunia internasional. Dia tentu ingin mematuhi aturan main -- sebuah norma yang bernilai luhur di sepakbola dan masyarakat Eropa.

Norma, tatanan, orde atau apapun istilahnya itulah yang kini hilang dari sepakbola kita. Tentu saja semua bisa dibalik, seperti halnya kasus ayam dan telur itu. Maksud saya, norma sosial bisa dimulai dari lapangan sepakbola atau menunggu masyarakat luas melakukannya dulu dan membawanya ke dalam ranah 11 lawan 11.

Tapi benarkah sepakbola kita sudah habis? Tak ada lagi yang bisa diharapkan? Frustrasi? Menyerah?

Jika melihat berita-berita media massa, pasti hanya itu yang kita rasakan. Terlebih jika media hanya senang mengeksploitasi "isu kekerasan suporter" semata.

Kita masih punya anak-anak yang giat bermain, bahkan juga berprestasi. Tim yunior Indonesia yang ikut Piala Dunia Danone beberapa kali mengundang decak kagum. Tim Jakarta Football Academy bisa lolos hingga ke 16 besar Piala Gothia Swedia bulan lalu. Lalu Indonesia Yunior juara U-13 Asean di Kuningan, Jakarta, bulan lalu.

Atau jika ada waktu, selepas Ramadhan dan Idul Fitri nanti, cobalah kunjungi Lapangan ABC Senayan, Jakarta. Setiap minggu ada kompetisi U-14 Gramedia. Saya melihat gairah di sana. Bukan cuma anak-anak sebagai pemainnya, tetapi juga para pembinanya yang rata-rata mantan pemain nasional.

Saya berani ambil kesimpulan bahwa di sanalah kumpulan orang-orang yang paham bagaimana sepakbola dibangun. Bahkan pedagang bakso pun terampil bicara mengenai hal itu. Dia juga mampu menunjukkan di mana letak kesalahan pembina sepakbola di negeri ini.

Membangun prestasi memang memakan waktu, seperti juga menumbuhkan anak. Tak bisa seketika.

Dengan kegairahan yang ada di lapangan anak-anak itu, saya masih yakin negeri ini tak pernah kehilangan potensi. Masalahnya hanya pada pengelolaan dan pengelolanya. Jangan gunakan cara preman seperti petinggi polisi kemarin. Jangan pula mencoba cara-cara Sarkozy.

Yang salah di sepakbola Indonesia adalah sistem, bukan hanya individu. Maka jika Anda punya potensi dan kecakapan, masuklah ke dalam sistem itu. Tapi ingat, jangan sampai Anda digerus sistem.


Tag: Sepakbola Indonesia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat