Ketika Kejayaan Tak (Jua) Kembali 2

Rabu, 28 Jul '10 09:02

Hidup ini seperti roda yang berputar. Demikianlah metafora yang kerapkali kita ungkapkan manakala berkontemplasi akan dinamisnya kehidupan ini: kadang di atas kadang di bawah, kadang suka, lebih sering susah. Wajar. Pun demikian ketika aku mencoba menjadikan metafor klise tersebut sebagai algojo untuk menghibur diri atas pencapaian Persib-klub sepakbola yang aku cintai-di kompetisi baik ISL maupun Piala Indonesia tahun ini. Mungkin masih belum saatnya menapaki kejayaan (lagi), pikirku.


Kondisi inilah yang harus aku terima tatkala mendapati dua gol Christian Rene Martinez ternyata tak mampu membawa Persib melewati hadangan Arema di babak perempat final Piala Indonesia yang lalu. Dua gol itu dari pemain yang sering diremehkan bobotoh itu memang sia-sia. Karena, pada pertandingan pertama di Malang, pasukan Roby Darwis ini terlampau ringkih sehingga harus kemasukan tiga gol tanpa balas.


Kegagalan mencapai semifinal Piala Indonesia ini patutlah menjadi kulminasi kesedihan atas perjalanan Persib musim ini. Di pentas liga Super sendiri, Persib hanya mampu finis di urutan 4. Maka wajar saja, H. Umuh Muchtar-manajer Persib-sampai harus menitikan air mata selepas peluit akhir pertandingan Persib lawan Arema tersebut.


Sebenarnya, ketika liga super dimulai, aku sangat optimis dengan perjalanan klub sepakbola kebangggaan masyarakat Jawa Barat ini. Materi pemain Persib sebagian besar diisi oleh pemain-pemain kelas wahid yang sudah bergabung sejak satu musim sebelumnya, sebut saja Maman, Nova Ariyanto, Atep, Eka Ramdani dan Cristian Gonzalez. Hal inipun masih ditambah dengan armada baru sekelas Kosin Hattairathanakol, Suchao Nutnum dan menyusul kemudian Budi Sudarsono. Dari sisi pelatih pun tidak terdapat pergantian, masih tetap Jaya Hartono yang pada musim 2008/2009 membawa Persib bertengger di urutan 3 klasemen akhir.


Riak optimisme yang hadir di dada para bobotoh ini, memang, mendapat pembuktian setidaknya hingga putaran pertama berlangsung. Persib bermain sangat impresif dengan bola satu-dua sentuhan yang mengalir. Aku cukup terpukau dengan permainan Maman yang sangat lugas mengamankan pertahanan, Atep yang sangat mobile di sisi lapangan, dan tentu saja Suchao Nutnum yang memiliki nafas seperti kuda. Permainan tik-tak seperti itu akhirnya sering disempurnakan oleh sentuhan maut El Loco Gonzalez. Tak heran pada akhir putaran pertama, Persib bertengger di puncak klasemen ISL. Saat itu, aku & seluruh bobotoh sa-alam dunya ini memiliki harapan yang tinggi bahwa Persib bakal mengulang kejayaan dengan menjadi Juara ISL seperti yang pernah terjadi pada Liga Indonesia I 1994/1995.


Namun, harapan yang membumbung tinggi tersebut sedikit demi sedikit pudar seiring berjalannya putaran kedua ISL musim ini. Adalah kembalinya duo Thai yaitu Kosin & Suchao ke klub asal di negerinya menjadi titik balik negatif pencapaian Persib di musim ini. Kepergian (terutama) Suchao membuat celah di lini tengah Persib. Pemain-pemain lain seperti Cucu Hidayat, Munadi maupun pengganti Suchao, Satoshi Otomo tak mampu mengembalikan permainan impresif Persib. Kehilangan duo Thailand ini kemudian diperparah oleh cederanya Hilton Morreira yang membuatnya tak bisa bermain hingga ISL ini usai. Selepas itu, El Loco seperti kehilangan "kekasih" dan "pelayan" dalam waktu bersamaan. Ia seringkali turun jauh menjemput bola dan tak lagi seefektif seperti ketika Hilton masih bermain.


Dari titik itu pula, aku menyadari bahwa Jaya Hartono tidaklah sebaik yang aku kira. Strategi tanpa rotasinya ternyata berujung nestapa manakala Suchao dan Hilton "mangkat". Pemain-pemain cadangan seperti Cucu, Airlangga maupun Budi yang lama dicadangkan ternyata tak langsung tune-in dengan permainan Persib. Budi malahan bermain seperti atlet tinju yang pandai menghantamkan bogemnya ke pemain lawan. Kemudian, permainan Persib terus menurun: seperti kehilangan roh dan penuh tekanan. Maman, sebagai kapten pun, tak kuasa bertahan dari tekanan yang besar. Ia pun melepaskan ban kapten-nya ke Nova Ariyanto. Pelatih Jaya Hartono pun lebih sering dicerca bobotoh: terlebih setelah kejadian membogem salah seorang bobotoh. Ia pun akhirnya mundur yang konon dikarenakan tersinggung harga dirinya terusik manakala sekelompok bobotoh membentangkan "Roby for Persib!" tatkala ia memimpin latihan anak asuhnya.


Sejenak aku membuka kembali lembaran-lembaran sejarah tim Maung Bandung ini. Aku pun terpaku dalam romantisisme, manakala mengingat dan membaca arsip-arsip pemberitaan kejayaan Persib di masa lalu. Satu yang paling berkesan tentu saja saat Persib menjuarai LI I 1994/1995. Pada LI I yang mengusung format baru yaitu dengan menyatukan tim-tim Galatama & Perserikatan itu, Persib bisa dikatakan juara sejati: juara segala-galanya.


Aku masih ingat bagaimana pemain-pemain Persib yang notabene hasil binaan sendiri seperti Anwar Sanusi di bawah mistar gawang, Roby Darwis jenderal pertahanan, Yusuf Bachtiar sebagai playmaker, Kekey Zakaria dan Sutiono yang menjadi ujung tombak, bermain gagah berani melawan Petrokimia Gresik yang diperkuat 3 pemain asing, sebut saja Jacksen F. Tiago, Carlos De Mello dan Darryl Sinerine plus pemain-pemain lokal jempolan semacam Widodo C. Putro. Sebagai juara perserikatan terakhir, Persib kembali menunjukkan kelasnya di partai final yang dihelat di Senayan. Adalah Sutiyono yang kemudian menjadi pahlawan dengan mencetak gol tunggal yang memenangkan Persib pada final tersebut.


Indah sekali jika mengingat kejayaan Persib di masa itu. Kini, aku sadar ternyata sudah sekitar 15 tahun Persib tidak merasakan indahnya menjadi juara. Aku sendiri tidak terlampau mengerti mengapa tim sebesar Persib sangat sulit sekali mengembalikan kejayaan tersebut. Padahal jika kita tengok perjalanan Persib di zaman perserikatan dulu sangat impresif, mirip Manchester United zaman sekarang :D. Jika di satu musim kehilangan gelar, maka di musim berikutnya Persib dapat kembali merebut juara atau minimal mencapai final.


Coba bandingkan dengan pencapaian Persib di Liga sekarang. Sejak menjuarai LI I, Persib cenderung mengalami penurunan tidak saja dari sisi permainan tapi juga abilitasnya untuk menelurkan bibit unggul dari pembinaan sendiri. Di musim 2002/2003, Persib bahkan sempat terancam degradasi, namun untungnya, mereka bisa lolos dari lubang jarum itu. Menyedihkan.


Dua musim ini, permainan Persib tidaklah seburuk itu, jauh lebih baik bahkan. Dari sisi materi telah diisi oleh pemain-pemain kelas wahid. Sementara di jajaran manajemen pun sudah lebih profesional. Dengan bantuan tangan-tangan seperti Umuh Muchtar, Farhan dan Wagub Jabar, Dede Yusuf, sedikit demi sedikit Persib menjadi klub yang lebih profesional dan mulai menghindar hidup dari dana APBD.


Namun, seperti dikatakan Umuh Muchtar, semua itu belum paripurna jika Persib belum memenangi gelar. Sayangnya, ucapan Umuh tersebut terbukti di akhir kompetisi dimana Persib meraih hasil nihil. Persib ternyata belum mampu mengembalikan kejayaannya. Ia sekarang masih dalam tahap meretas untuk menemukan jati diri permainan maupun profesionalismenya. Persib, ternyata, belum cukup paripurna untuk mengembalikan kejayaan yang hilang itu, setidaknya di musim yang telah berlalu ini.


Tidak perlu disesali memang, karena pembenahan harus menjadi algojo utama untuk merestrukturisasi semua itu. Kemarin kabarnya, Persib telah menunjuk pelatih asal Perancis bernama Daniel Darko Jankovic. Sekedar cerita sedikit saja kawan, pemilihan Daniel ini cukup kontroversial karena dianggap terlalu dicampuri oleh tangan konsorsium Persib. Umuh Muchtar bahkan menyatakan Daniel boleh dipilih untuk menjadi pelatih Persib. Tapi ia tak mau disalahkan jika kelak si Daniel ini bikin masalah atau nihil prestasi. Umuh dan aku sendiri cenderung memilih Rene Albert atau Rahmad Darmawan yang lebih mengenal iklim sepakbola Indonesia.


Tapi ya sudahlah, palu sudah diketok. Aku sendiri bingung untuk tetap optimis ataukah memilih pesimis untuk melihat peluang Persib di musim mendatang. Kita lihat saja nanti kawan, waktu yang akan membuktikan. Yang jelas cerita ini harus berakhir, mengingat tim yang aku besut, Manchester United, akan menjalani bigmatch melawan Chelsea pada ajang Community Shield, di dunia Football Manager. Tentu saja.


patriarkis radikal

Manager Manchester United di dunia Football Manager 2010.

 

Photo Credit: Popalogic on DeviantArt


Tag: Indonesia, Persib, ISL

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
Saya cuma penasaran misalnya Jaya Hartono dipertahankan untuk musim depan dengan skuad yang juga tak berubah secara signifikan, apakah Persib masih bisa berprestasi.

Sepakbola (yang katanya pro) di Indonesia ini masih bermental tarkam. Perombakan tim selalu dibuat di awal musim. Ini akan menyulitkan, apalagi sepakbola Indonesia punya banyak sisi non tehnik.

Nah yang dibuat Persib dengan pembangunan skuad selama 2 musim sebenarnya sudah bagus. Sayang mental instan yg ingin cepat juara tak cukup sabar menanti hasil Jaya.
Patriarkis Radikal 0 0
@3-4-3 Itu juga yg bikin saya penasaran. Cuma memang saya agak kurang sepakat dengan strategi Jaya yg cenderung monoton dan cuma memainkan pemain yg itu-itu saja. Padahal di bench msh banyak pemain yg cukup mumpuni, andai melakukan rotasi.

Setuju sekali dengan Bung. Bukti terbaru Daniel Janckovic yg baru ditunjuk melatih Persib. Ia konon akan merombak signifikan materi pemain Persib. Yang sudah pasti El Loco bakal ditendang...: D

Susah.

Silahkan login untuk memberikan pendapat