Tentang Bjorge Lillelien dan Menertawakan Diri Sendiri 2

Senin, 26 Jul '10 11:28

 

Salah satu alasan mengapa gue menyenangi tulisan orang-orang Inggris adalah karena budaya menertawakan diri sendiri tak mereka singkirkan. Sebagai satu bangsa, mereka tak segan mengejek diri mereka sendiri bila memang pantas dipermalukan. Mungkin karena di satu sisi mereka merasa sudah pernah menguasai dunia sehingga sekali-kali mengolok diri dipandang boleh saja.

Oslo, 9 September 1981. Norwegia menjamu Inggris dalam kualifikasi pra-Piala Dunia. Inggris, yang mengaku menemukan sepakbola itu, tentu saja jadi favorit untuk menang. Nyatanya Inggris takluk 1-2 dari tuan rumah. Hasil yang mengejutkan karena Inggris tahun itu tidak semenyedihkan Inggris zaman sekarang.

Pada masa itu, tidaklah aneh bagi penonton sepakbola di televisi untuk mematikan suara TV dan mendengarkan komentator dari radio memandu jalannya pertandingan. Itulah pekerjaan Bjorge Lillelien, jurnalis olahraga dan komentator sepakbola di radio Norwegia.

Beberapa detik setelah wasit meniup peluit panjang, Lillelien berteriak kegirangan di corong mikrofon, "We are best in the world! We have beaten England! England, birthplace of giants!"

Tapi apa yang menjadi legenda adalah kalimat yang ia lontarkan berikutnya.

"Lord Nelson, Lord Beaverbrook, Sir Winston Churchill, Sir Anthony Eden, Clement Atlee, Henry Cooper, Lady Diana, we have beaten them all. We have beaten them all! Maggie Thatcher, can you hear me? Maggie Thatcher, as they say in your language in the boxing bars around Madison Square Garden in New York: Your boys took a hell of a beating! Your boys took a hell of a beating!"

Seruan Lillelien itu jenaka dan ofensif secara bersamaan. Orang yang berkepala dingin akan dengan cepat menangkap pesan humor dalam komentar tersebut, sedang yang pemberang akan murka seketika.

Meskipun disiarkan di radio lokal Norwegia, komentar Lillelien itu sampai ke telinga publik Inggris dan mereka tertawa mendengarnya. Karena tim sepakbola mereka keterlaluan sampai kalah dari Norwegia, daripada stres mereka lebih memilih tertawa bersama.

Pada tahun 2002, The Observer's Sport Monthly, sebuah media Inggris, memilih komentar Lillelien itu sebagai komentar siaran olahraga terbaik sepanjang masa. Alih-alih tersinggung, mereka malah sering memparodikan komentar Lillelien tersebut dalam berbagai kesempatan.

Saat Inggris mengalahkan Australia pada pertandingan kriket The Ashes tahun 2005, media Inggris menulis, "Kylie Minogue! Steve Irwin! Holly Valance! Crocodile Dundee! Natalie Imbruglia! Ian Thorpe! Can you hear me? Your boys took one hell of a beating!

Juga pada saat Inggris mengalahkan Prancis dalam Piala Dunia Rugby tahun 2007, komentator berseru, "Francois Mitterand! Michel Platini! Your boys took one hell of a beating!"

Sekarang apa yang akan terjadi seandainya Malaysia menang 2-1 atas tim sepakbola Indonesia di Kuala Lumpur dan media setempat menuliskan,

"Soekarno! Soeharto! General Sudirman! Sutan Sjahrir! Tan Malaka! Kartini! We have beaten you! SBY, can you hear me? Your boys took one hell of a beating! Your boys took one hell of a beating!"

Saya bisa membayangkan keesokan harinya ribuan pendemo memaksa masuk kedutaan besar Malaysia, gerakan Ganyang Malaysia kembali marak, para nasionalis dadakan muncul, dan pemerintah Indonesia "meminta penjelasan resmi" kepada pemerintah Malaysia.

Ngeri.

 


Tag: Inggris, Komentator, Norwegia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

garislembut 0 0
masalahnya, level kelakar dan guyon orang kita memang berbeda dengan orang Inggris, misalnya
melkisedek bola 0 0
Reporter yg melaporkan langsung sepakbola liga lokal di sini dulu demen banget: Thiery Henry-nya Indonesia atau Rio Ferdinand-nya Indonesia. Kasihan Henry, kasihan Rio : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat