Naturalisasi 3

Jumat, 23 Jul '10 14:54

SETUJU ATAU TIDAK?

Isu naturalisasi pemain untuk tim nasional kembali menghangat. Kali ini benar-benar akan diwujudkan. Pelatih Alfred Riedl bahkan akan berangkat ke Belanda untuk menjaring pemain-pemain berdarah Indonesia.

Sedangkan Sergio van Dijk, pemain yang punya darah Maluku dan Magelang, sudah tiba di Jakarta dan bersiap mewujudkan niatnya memperoleh paspor Garuda. Ramai-ramai media online mengumpulkan nama-nama pemain berdarah Indonesia di seluruh dunia, kebanyakan di Belanda.

Saya tahu ini adalah buntut dari frustrasinya orang Indonesia atas prestasi timnas. Saking frustrasinya, mereka menjadi setuju dengan langkah PSSI untuk melakukan naturalisasi.

Mungkin benar jika ada yang mengatakan bahwa orang Indonesia tak pernah bisa belajar. Tak pernah bisa mengurus dan bermain sepakbola. Maafkan jika saya salah.

Naturalisasi sejatinya bukan jawaban sahih dari kekeringan prestasi timnas. Bila jawabannya mencari juara, cuma ada dua negara yang mampu melakukannya. Singapura di Asean dan Italia di Piala Dunia. Tetapi Singapura melakukannya karena terpaksa sebab hanya sedikit orang sana yang mau main bola. Sedangkan Italia pun hanya memasukkan Mauro Camoranesi seorang.

Singapura pun hanya berhasil dalam dua kesempatan (dengan naturalisasi), tahun 2004 dan 2007. Ketambahan pemain dari Nigeria, Bosnia atau Australia, Singapura tetap tak mampu berprestasi di Asia, apalagi masuk Piala Dunia. Mereka yang direkrut juga memakai sistem kontrak untuk beberapa tahun sebelum melepas status warga negera Singapura setelah selesai kontrak.

Beberapa negara dunia yang menggunakan naturalisasi adalah Meksiko, Kroasia atau Jepang. Hasilnya tetap tak signifikan. Lalu untuk apa kita mengikuti jejak mereka?

Mengganti status kewarganegaraan juga tak semudah membicarakannya. Status kewarganegaraan adalah milik Direktorat Imigrasi Departemen Kehakiman, bukan PSSI. Beberapa atlet Tionghoa, seperti Susi Susanti, misalnya, pun sempat kesulitan untuk memperoleh paspor Indonesia 100 persen meski sudah berprestasi. Para pemain asing Liga Indonesia yang merasa "jatuh hati" pada negeri ini dan "jatuh cinta" pada wanita Indonesia pun tak kunjung mendapat paspor Indonesia.

Paul Cumming, "si gila" dari Inggris yang lama tinggal di Lampung dan pernah melatih PSBL Bandar Lampung, pun pernah menyatakan rasa frustrasinya tak kunjung mendapat status warganegara Indonesia. Padahal Paul dan sejumlah pemain asing di Liga Indonesia itu sudah memenuhi syarat jangka waktu tinggal di Indonesia, menguasai bahasa kita dengan fasih dan menikahi orang Indonesia.

Pemberian status warga negara bagi orang asing akan ditelisik dengan cermat oleh Imigrasi. Mereka akan melakukan uji tuntas (due diligence) dengan seksama. Apakah yang bersangkutan bakal memberi manfaat pada negara dan bukan menambah jumlah penduduk yang harus ditanggung pemerintah?

Naturalisasi pada akhirnya hanya pelengkap penyakit sepakbola Indonesia dengan budaya instannya. Tarkam. Comot sana sini. Padahal sebuah prestasi sepakbola dibangun dalam waktu yang cukup panjang. Bukan dalam setahun, dua tahun. Real Madrid yang mengumpulkan pemain kelas bintang pun tak dijamin bisa juara.

Sepakbola memang kelihatan simpel. Cuma 22 orang saling berebut satu bola untuk kemudian mencetak gol. Tapi bagaimana proses merebut bola dan mencetak gol itulah yang tak pernah simpel.

Berkali-kali saya tulis, lakukan pembinaan lewat kompetisi yang jelas, berjenjang, rapi, konsisten dan profesional. Bila kita sabar, prestasi akan datang. Indonesia pernah berprestasi, walau hanya untuk kawasan regional terbatas dan di saat belum banyak negara memainkan sepakbola - termasuk Jepang. Paling tidak, kita tahu bahwa negeri ini pernah bisa "main" bola.

Lalu sekarang ini tim Jakarta Football Academy sedang berjibaku di Gothia Cup Swedia, kompetisi U-12 dunia. Baru saja mereka lolos ke-16 besar dengan permainan yang berkelas. Ini sebuah bukti bahwa Indonesia tak pernah kering potensi. Apa yang terjadi kemudian hanya salah asuhan. Dengan tidak ada kompetisi kelompok umur di sini dan kemudian langsung masuk kompetisi sekelas Liga Indonesia, saya yakin anak-anak itu nantinya tak akan lebih baik dari saat masih berusia 12 tahun, bahkan bisa merosot drastis.

Pemain-pemain yang sedang diburu PSSI dan barisannya untuk masuk ke timnas, ironisnya hanya tampil di klub-klub gurem seperti Harlem, ADO Den Haag, atau Go Ahead Eagles. Skillnya hanya sedikit lebih baik dari pemain lokal, tapi tetap tak signifikan. Naturalisasi kok tanggung-tanggung. Kenapa tidak berusaha mengambil pemain-pemain kelas satu dunia, misalnya?

Naturalisasi sekali lagi bukan obat cespleng atas sakitnya persepakbolaan nasional. Beberapa kawan bilang, ini mungkin cuma untuk sementara waktu. Benarkah? Saya pesimistis melihat kinerja PSSI selama ini. Andai naturalisasi berhasil, ini justru akan membuat mereka melupakan pembenahan kompetisi. Mereka akan mengacuhkan akar dari sebuah ajang sepakbola sebagai basis pembinaan mental, karakter dan skill.

Rusaknya sepakbola nasional disebabkan oleh ketidakbecusan pengurusnya, baik di PSSI maupun klub. Bila ingin naturalisasi, kenapa tidak merekrut orang asing dari Inggris, Jerman, Italia, Jepang atau Spanyol? Berikan mereka paspor Indonesia lalu jadikan mereka pengurus PSSI dan klub.

Saya yakin, naturalisasi pengurus akan jauh lebih berdaya guna, ketimbang naturalisasi pemain.


Tag: PSSI, naturalisasi, instan, tarkam

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Der Kaiser 0 0
Mungkin PSSI terinspirasi dari tim penampilan tim Panzer yang "multinasional" . Ada orang Turki, Tunisia, Ghana. Tapi mereka IMIGRAN, lahir dan belajar sepakbola di Jerman, bukan naturalisasi.
peluit panjang 0 0
hattrick buat kalimat terakhirnya : D
melkisedek bola 0 0
BUMN aja ga mengharamkan CEO dari asing, kan, ya? Hihihihi....

Silahkan login untuk memberikan pendapat