Joe Cole 0
Kamis, 22 Jul '10 13:22
Kepindahan Joe Cole dari Chelsea ke Liverpool menyisakan kehebohan. Orang Inggris, terutama di kota London, mencibirnya. Dia dituduh mata duitan.
Maklum, Liverpool sedang berada dalam episode di bawah standar. Kekuatannya dinilai berada di bawah barisan tim elit. The Reds juga tak akan bermain di Liga Champions - kompetisi yang biasa jadi daya tarik untuk seorang pemain dalam memilih klub baru.
Joe adalah orang London sejati. Dari lahir hingga berumur 28 tahun, dia tak pernah tinggal di luar ibukota Inggris itu. Masuk akademi sepakbola West Ham United, Joe kemudian memperkuat Chelsea.
Kini untuk pertama kalinya, dia tinggal di luar kota - sekaligus menolak tawaran dua klub besar London; Arsenal dan Tottenham Hotspur, yang akan main di Liga Champions.
Penolakan itulah yang membuatnya dicibir Londoners. Bayaran 90 ribu pounds per minggu dari Liverpool diklaim telah membuatnya mata hijau. Tetapi Joe membantahnya.
Joe mengatakan alasannya pindah ke Liverpool adalah karena aura Stadion Anfield, salah satu stadion dengan daya magis, keangkeran dan gemuruh nomor wahid di dunia.
Bahkan pelatih kontroversial Jose Mourinho pun mengakui bahwa Anfield punya suara (suporter) paling bising yang pernah dia dengar. Dia menyebutnya bisa menulikan kuping.
Bagi seorang pemain (profesional), atmosfir stadion sangat penting. Lihat bagaimana para pemain asing di Liga Indonesia takjub melihat suporter di stadion kota Bandung, Malang, Surabaya, Jepara dan sebagian kota lain yang selalu penuh dan semarak.
Mereka menemukan sebuah unsur yang bisa memacu adrenalin mereka. Simak komentar Joe mengenai Anfield.
I was thinking about playing in that atmosphere every week and that swung it for me
Sebagai pemain, Joe pasti akan lebih mengutamakan alasan tehnik sepakbola. Dia mungkin merasa gaya permainannya lebih berdaya guna di Liverpool. Barangkali dia pun berhitung fisiknya belum bugar 100 persen sehingga lebih menguntungkan tampil di Liverpool yang hanya akan main di Liga Europa selain kompetisi domestik.
Jangan lupa pula, Joe kerap cedera. Apabila dia bermain dalam kompetisi yang terlalu panjang, penampilannya tak akan maksimal.
Joe mungkin juga berpikir Arsenal dan Tottenham tak terlalu cocok baginya. Persaingan menjadi pemain inti mungkin lebih ketat karena skuad di kedua klub itu terlalu besar.
Andai dia pun berpikir mengenai bayaran besar, apakah itu salah? Dia pemain sepakbola yang usia karir profesionalnya tak mungkin seumur hidup dan tak ada dana pensiun. Bila beruntung, misalnya, dia hanya bisa main hingga maksimal usia 38 tahun. Selanjutnya? Tergantung roda nasib dan kesempatan yang muncul. Syukur-syukur dia tak jadi pengurus makam pasca pensiun - meski ini bukan profesi hina.
Joe sudah berkeluarga. Dia merasa perlu memberi "jaminan" keuangan kepada keluarga kecilnya, sang istri Carly Zucker dan putrinya yang masih seusia jagung, Ruby Tatiana.
Bila jujur, pasti semua pemain pro akan mengakui tertarik bayaran besar - tergantung apakah hal itu jadi pertimbangan utama atau kesekian. Yang jadi masalah kemudian adalah bagaimana si pemain membuktikan kepantasannya dibayar besar. Dalam kapasitasnya yang selama ini terlihat di Chelsea, saya yakin Joe akan memberi kompensasi pantas pada Liverpool.
Untuk sementara, kehadirannya di Anfield memberi semangat baru pada Liverpool. Kapten Steven Gerrard kini siap bertahan setelah sempat akan pindah. Kemungkinan besar striker Fernando Torres juga akan bertahan meski tengah dikejar Chelsea.
Joe boleh dicibir, tapi dia sudah memberi sinyal bahwa dirinya membawa semangat. Seperti halnya saat bermain di lapangan.
© Photo: Getty Images
Tag: Chelsea, Transfer, Liverpool, Joe Cole
Terkait:
-
Transfer Pemain EPL Hingga 4 Juli
Selasa, 5 Jul '11 10:32 -
Update Transfer Pemain EPL
Selasa, 14 Jun '11 12:10 -
Status Transfer Pemain English Premier League
Selasa, 14 Jun '11 10:56

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat