Buku Putih, Kegelisahan, dan Kerinduan Iwan Fals 0
Minggu, 18 Jul '10 22:03
oleh Yon Moeis, wartawan Koran Tempo.
Jangan pernah menduga Iwan Fals tidak bisa bicara sepak bola. Dia bisa seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, atau Cesc Fabregas--seniman-seniman sepak bola Spanyol yang berani bermain umpan-umpan pendek di jantung pertahanan lawan--jika sudah terlibat dalam pembicaraan sepak bola. Sesekali Iwan melepas tawa dan seketika terdiam sebelum menyampaikan pesan yang lama tersimpan di hatinya. "Pasti ada masalah di dalam sepak bola kita," katanya.
Selasa lalu, saya mampir ke rumah Iwan di Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Jawa Barat. Bersama Erwiyantoro dan Toto Tewel (dulu gitaris Elpamas), kami bicara sepak bola dengan topik yang berpindah-pindah. Iwan terlihat segar--lahir di Jakarta, 3 September 1961, dengan nama Virgiawan Listanto--karena hidupnya kini memang semakin teratur. Tidak seperti dulu ketika kami sama-sama kuliah di Lenteng Agung. Atau tidak lagi seperti ketika dia menjadi tamu terakhir resepsi pernikahan saya lantaran terlambat bangun.
Di sela-sela pembicaraan gegap-gempita Piala Dunia Afrika, Iwan bertanya seputar Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia yang saya serahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kesempatan nonton bareng di Puri Cikeas, Senin dinihari lalu. Sekilas saya menjelaskan isi buku setebal 200 halaman itu. Iwan sangat paham ketika saya katakan sesungguhnya bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan perubahan sebelum pada akhirnya dia mengatakan di dalam sepak bola kita memang ada masalah.
Jarak antara Cikeas dan Leuwinanggung boleh dikatakan hanya selemparan batu karena letaknya sama-sama di bibir jalan bebas hambatan Jagorawi. Dan sungguh beruntung, dalam waktu yang berdekatan, saya bisa menemui dua tokoh yang mau saya ajak bicara seputar sepak bola nasional. RI-1 di Cikeas dan "Manusia Setengah Dewa" di Leuwinanggung.
Tentu saja saya tidak dalam rangka meminta dukungan Iwan. Dia pasti tahu kedatangan saya ke istananya yang asri itu hanya untuk melepas rindu karena kami memang sudah lama tak bertemu. Jika ada pembicaraan seputar sepak bola, karena dia sudah sejak lama mengamati sepak bola nasional. Dia ngomong sepak bola di pinggir kampus. Kami menikmati permainan anak-anak Persib Bandung atau PSMS Medan di Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) di era Perserikatan. Atau pergi ke Manado hanya untuk menyaksikan turnamen Piala Opa E.A. Mangindaan.
Jika saya mengajak dia bicara seputar sepak bola nasional karena saya tahu dia juga menyimpan kegelisahan. Dalam obrolan yang penuh tawa dan canda itu--Iwan menerima kami di pendopo di samping rumah induk--dia sempat-sempatnya berangan-angan tim nasional Indonesia tampil di Afrika. Ini merupakan bukti Iwan gelisah lantaran sepak bola kita semakin terpuruk, dan dia sendiri mengaku tidak pernah bisa menemukan akar persoalannya.
Malam itu saya melihat kegelisahan Iwan. Tapi dia tidak terlihat sedang menyesal lantaran sudah menuangkan kegelisahan itu sejak dulu dalam lagu Mereka Ada di Jalan.
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Iwan tak berhenti di sini. Dalam tur tujuh kota Keseimbangan--album ini diluncurkan pada awal Februari lalu--Iwan masih menyanyikan lagu yang menggambarkan anak-anak sedang bermain bola dengan telanjang kaki di sepetak tanah kosong dalam irama reggae. "Kami bernyanyi bersama-sama," kata Iwan.
Ini merupakan bukti kepedulian Iwan terhadap sepak bola. Dia tahu persis memanfaatkan momen Piala Dunia untuk membangun sepak bola nasional yang sedang karut-marut sekalipun hanya lewat sebuah lagu (dalam album ini ada satu lagu berjudul Sepak Bola). Padahal tur Keseimbangan digelar dalam rangka kepedulian Iwan terhadap kelestarian hutan. Dalam acara menanam pohon di setiap kota yang dia singgahi, Iwan mengajak Yos, istri merangkap manajernya, serta dua anaknya, Anissa Cikal Rambu Basae, 25 tahun, dan Rayya Rambu Robbani, 7 tahun. Anak Iwan yang pertama, Galang Rambu Anarki, meninggal pada 1997.
Kegelisahan Iwan juga kerinduan dia terhadap pemain-pemain nasional. Dia rindu Yakob Sihasale, Iswadi Idris, Abdul Kadir. "Saya terkenang dengan kecerdikan mereka jika sudah berada di lapangan," kata Iwan. Kerinduan yang juga tergambar dalam lagu Mereka Ada di Jalan.
Rony kecil Hery kecil
Gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil Juki kecil
Jegal lawan amankan gawang
Cipto kecil Iswadi kecil
Tak tik tik tak terinjak paku
Yudo kecil Paslah kecil
Terkam bola jatuh menangis
Obrolan sepak bola ini terpaksa kami hentikan ketika jam menunjukkan pukul 03.00. Saya pamit dan meninggalkan Desa Leuwinanggung sekaligus membawa kegelisahan dan kerinduan Iwan Fals, orang yang peduli kepada sepak bola kita.
--------------------------------------------------------------------
* Feature ini tayang di Koran Tempo edisi 18 Juli 2010.
Tag: iwan fals, sepakbola indonesia yon moies
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Playmaker
-
garislembut: Playmaker

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat