Aku Meniup Pluit Maka Aku Ada 3
Kamis, 15 Jul '10 21:43
JIKA Rene Descartes mengenalkan diktum ''saya berpikir, maka saya ada'', dalam hal wasit, adagium itu berubah menjadi ''aku meniup pluit, maka aku ada''.
''Saya berpikir, maka saya ada'' adalah formulasi Cartesian tentang manusia sebagai subjek dunia sekaligus menjadi tautan ontologis dari antroposentrisme. Sedangkan raison d'etre seorang wasit terletak pada peluitnya. Peluit di sini bukan semata merujuk sebuah benda, tapi merujuk seperangkat aturan main yang memungkinkan sebuah permainan bisa berlangsung.
Aturan main adalah vital bagi permainan. Menurut Johan Huizinga, tak ada permainan tanpa aturan main,. Aturan main tidak hanya membuat sebuah permainan menjadi mungkin untuk dilangsungkan, tapi juga menjadi raison d'etre permainan itu sendiri. Tanpa aturan main, sebuah permainan hanya akan menjadi chaos dan dengan sendirinya tidak akan pernah menjadi sebuah permainan.
Johan Huizinga, dalam buku terkenalnya, Homo Ludens, mengenalkan dua bentuk permainan dalam tradisi klasik Yunani, ''agon'' dan ''paidia''. Dengan ''agon'', Huizinga menjelaskan permainan kompetitif yang bertujuan mencari pemenang. Karena itu, permainan dibatasi oleh aturan main agar siapa pemenang dan bagaimana kemenangan itu didapat bisa diperjelas. Huizinga juga menunjuk ''paidia'' sebagai jenis permainan dengan tujuan sukacita, tidak mencari dan mengejar kemenangan, sehingga boleh dan bisa saja diadakan tanpa aturan main. Huizinga mencontohkan anak-anak yang bermain lempar-lemparan bola sebagai ''paidia'' dan maraton dalam Olimpiade kuno sebagai ''agon''.
Tidak berarti tak ada kegembiraan dan sukacita dalam ''agon'', seperti halnya tak berarti ''paidia'' tak mengenal aturan main. Seorang anak yang bermain lempar bola demi kesenangan pun paham, ada aturan-main tak kasatmata dalam bentuk hukum gerak bola berupa sudut pantul, kecepatan bola, hingga soal gravitasi. Menguasai aturan main tak kasatmata akan membuat si anak mahir dalam permainannya. Begitu juga dalam ''agon''. Keketatan aturan main toh tak bisa menghentikan lahirnya seniman-seniman semacam Garrincha, Maradona, sampai Zidane.
Aturan main membuat potensi chaos dari permainan kompetitif (agon) bisa diredam seraya pada saat yang sama skill dan keterampilan olah bola pun bisa dan ''dipaksa'' memancar keluar. Sejarah sepak bola menunjukkan, teknik olah bola yang muncul tidak saat sepak bola masih menjadi permainan liar dengan jumlah pemain ribuan dan tanpa aturan jelas, tapi justru saat seperangkat aturan main yang rigid masuk ke sepak bola modern.
Bisalah dimengerti jika maestro total football Johan Cruyff pernah menyebut sepak bola sebagai "...een beherste, een gecontroleerde chaos (sebuah chaos yang dikuasai dan dikendalikan)".
Wasit adalah pengampu peradaban sepak bola yang telah dikendalikan chaos-nya itu. Dengan peluitnya, dia menjadi penentu hitam-putihnya sebuah pertandingan. Untuk semua otoritas yang begitu besar itu, wasit tidak bisa disentuh siapa pun. Begitu dia meniup peluit tanda dimulainya pertandingan, wasit tidak hanya tak boleh disentuh para pemain dan pelatih, tapi bahkan oleh presiden FIFA atau UEFA.
Michael Platini, presiden UEFA, menyatakan terlibat hingga semua banyak hal detail dari aspek penyelenggaraan Piala Eropa 2008. Tapi, Platini berkata, ''Begitu peluit pertama dibunyikan, semua ditentukan di lapangan.''
Jika Sartre pernah menyebut manusia dikutuk untuk terlempar sendirian ke dunia dalam keadaan bebas, hal yang sama berlaku pada wasit. Begitu mereka masuk lapangan dan meniup peluitnya, wasit dilemparkan sedemikian rupa ke lapangan dalam keadaan bebas, betul-betul bebas, untuk meniup peluitnya, untuk menentukan hasil sebuah pertandingan.
Tapi, masih dengan menyitir uraian Sartre tentang kondisi manusia dalam eksistensi dan kebebasannya sebagaimana terpapar dalam pamflet tipis Existensialism and Humanism, kebebasan yang dimiliki seorang wasit untuk menggunakan otoritasnya pada saat yang sama juga melahirkan tanggung jawab (responsibilité). Karena sendirian menanggung kebebasan dan memikul tanggung jawab, Sartre juga menyinggung soal kecemasan yang tak terperi (angoisse) yang inheren dalam kebebasan manusia.
Wasit adalah salah satu eksemplar contoh untuk memahami kondisi manusia (human condition) ala Sartre itu. Dia dikutuk terlempar ke lapangan dengan kebebasan yang penuh dan nyaris mutlak untuk menerapkan sekaligus menafsirkan aturan main, tapi pada saat yang sama juga memikul tanggung jawab besar karena hitam-putihnya sebuah pertandingan bergantung pada keputusan dan pilihannya.
Dalam salah satu bab paling menarik dari buku Soccer and Philosophy, Jonathan Crowe menguraikan dengan cantik kondisi yang dialami wasit itu dengan istilah ''the loneliness of the referee''. Crowe memaparkan kesunyian dan kesendirian seorang wasit dalam terang cahaya yang simpatik. Dia serupa Tuhan di dalam stadion (God of the stadium) yang -seperti halnya Tuhan- punya kemampuan untuk menentukan nasib manusia yang terlibat dalam permainan, baik terlibat langsung (pemain atau pelatih) maupun tidak (suporter atau para pejudi). Keputusannya adalah final, bahkan walaupun itu keputusan yang salah dan buruk. Aturan main memang memberinya kekuasaan untuk mengambil keputusan yang buruk.
Tapi, kebebasan dan otoritas yang mutlak itu pula yang justru melahirkan kecemasan, angoisse dalam kosakata Sartre. Begitu dia melakukan kesalahan, apalagi jika fatal, kebebasan yang sangat besar itu ganti menjadi tembakan maut yang akan mengarah kepada dirinya sendiri. Ya, sendiri: karena FIFA atau UEFA tidak akan mendiamkannya dan pasti akan menjatuhkan sanksi dengan mengirim mereka pulang tanpa ada kesempatan lagi memimpin pertandingan. Belum hujatan, makian, sampai ancaman kekerasan fisik dari para suporter atau pejudi yang kecewa.
Kebebasan, kecemasan, dan tanggung jawab yang menjadi sentral dalam garis pemikiran Sartre tentang kondisi manusia juga menjadi bagian inheren dari kehidupan seorang wasit.
Simaklah kecemasan yang dialami Mario Busacca dan dua asistennya jelang laga Yunani versus Swedia di Piala Eropa 2008 sebagaimana digambarkan dengan dingin dan hening oleh sineas Belgia Yves Hinant dalam adegan pembuka film dokumenter Kill the Referee (Les Arbitrer). Film itu dengan dramatik menggambarkan kebebasan yang dimiliki wasit ternyata benar-benar mendatangkan tekanan psikis yang luar biasa besar. Mereka mengatasinya bukan hanya dengan melakukan pemanasan, tapi juga berdoa, mengelus-elus kepala di kamar ganti sembari menunduk, juga sambil membersihkan peluit yang diganduli salib dengan air keran.
Biar bagaimanapun, pada akhirnya, wasit adalah manusia. Tak ada manusia yang sempurna, kata pepatah yang sudah klise itu, dan begitu pula wasit. Kesalahan adalah bagian inheren dari sepak bola, lebih karena sepak bola memang permainan manusia. Dalam sepak bola, kesalahan wasit bahkan seringkali membuat level sepak bola terangkat menjadi sebuah kisah yang tak akan pernah berhenti dibicarakan.
Sebab itu, saya lebih suka digunakannya wasit keempat yang bertugas di dekat gawang ketimbang menanam chip dalam bola atau menggunakan teknologi mata elang seperti yang digunakan dalam tenis. Biarlah sepak bola tetap tidak sempurna, tetap punya celah untuk lahirnya kesalahan dan kekeliruan, kecuali jika sepak bola diselenggarakan di surga, bukan di bumi, ya... buminya manusia, aktor terbaik dalam berbuat salah, sekaligus artis yang hebat dalam melahirkan sejumlah keindahan dan drama.
"Sepak bola," kata Johan Cruyff lagi, "...adalah permainan (dengan) kesalahan."
Tag: Wasit
Terkait:
-
Kebodohan Wasit Indonesia
Selasa, 19 Apr '11 12:22 -
Catatan Piala Dunia 2010 #3
Kamis, 15 Jul '10 04:14 -
Injury Time
Jumat, 25 Sep '09 17:24
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
athar: Informatif
-
Sundulgan: Total Football
-
Røsyid Ridlo Viola √: Hattrick

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat