Dua Cerita tentang Wiel Coerver 0

Rabu, 14 Jul '10 19:32

Anda kenal Wiel Coerver? Dia mantan pelatih tim nasional Indonesia di era 1970-an. Di masa dialah Indonesia nyaris lolos ke Olimpiade 1976. Di partai terakhir, Indonesia kalah atas Korea Utara dengan adu penalti.

Tapi Coerver bukan pelatih kelas dua yang hanya pernah menanngani tim nasional Indonesia. Dia pernah menangani Feyenord, dll. Tapi, bukan itu yang melegenda dari Coerver. Yang melegenda dari Coerver adalah metode kepelatihannya. Cobalah anda menggunakan googling untuk mencari tahu betapa populernya metode kepelatihan Coerver.

Di sebuah situs, saya menemukan kutipan ini: "The Coerver method has been endorsed by many famous international players and coaches including: Franz Beckenbauer and Karl Heinz Rummennigge of West Germany, Peter Beardsley of Liverpool, Newcastle and England, Gordon Streachan of Leeds United and Scotland, John Collins of Celtic and Scotland, Sir Stanley Mathews of England, Roberto Rivelino of Brazil, Alex Ferguson of Manchester United, Arsene Wegner of Arsenal, Liam Brady of Inter Milan and Ireland, and Anson Dorance, coach of the US Women's 1991 World Cup Champions."

Anda juga bisa mempelajari lebih lanjut pendekatan Coerver (sering disebut the coerver method) di situs http://www.coerver.com/index.php.

Untuk mengenal sosok Coerver, setidaknya dalam kaitan dengan sepakbola Indonesia, saya turunkan dua arsip berita lawas yang menceritakan bagaimana sosok Coerver saat melatih tim nasional Indonesia. Ada banyak cerita menarik, ada banyak fragmen dan detil yang mungkin layak untuk Anda ketahui.

---------------------------------------------------------------

ULAH COERVER DAN TIM MANAJER

ORANG macam apa Wiel Coerver ini? Di negeri Belanda bekas Coach "Feyenoord" ini terkenal sebagai orang yang suka membela kepentingan pemain. Sehingga pernah dia berkonfrontasi dengan pengurus sebuah perkumpulan.

Ketika pertanyaan yang kurang ramah itu diajukan padanya, dia coba mengelak. "Tidak benar. Saya justru ingin menjalin hubungan baik antara pemain dan pengurus", jawabnya. 

Di mata Bert Sumser, coach atletik Jerman yang sedang berada di Indonesia, Coerver dinilai punya kelas tersendiri. "Terus terang bukan karena dia sesama rekan dan berasal dari Eropa, maka saya memujinya", komentar Sumser pada TEMPO. "Saya kenal baik dia, saya kenal baik Sepp Herberger, Helmut Schoen. Saya tahu siapa Rinus Michels itu dan banyak lagi coach-coach ternama di Eropa. Dan saya pun pernah menjadi pemain sepakbola. Tapi sekali lagi saya katakan di sini, Coerver tidak di bawah mereka. Bahkan dalam soal-soal kemanusiaan Coerver melebihi mereka. Itulah sebabnya saya menilai dia lebih baik dari rekan-rekannya yang lain". 

Hebat betul pujian Sumser. Tapi itu di Eropa. Sikap ABS Di Indonesia? Pagi-pagi Coerver bikin perkara. Dengan Bardosono diributkan soal penentuan pemain. Lewat pers dia menyinggung perasaan orang dengan menyebut-nyebut sikap pemain dan coach Indonesia seperti "kacung". Meskipun kemudian dia menerangkan, yang dikecam sesungguhnya adalah sikap membungkuk-bungkuk "ABS" asal bapak senang. Pendeknya dia berhadapan dengan suatu kondisi yang tidak berkenan dengan adat profesionalnya. 

Di lain pihak, sikap yang "bermusuhan" itu nampaknya bukan tidak menimbulkan semacam pofessional shock (kejutan profesional) bagi sementara pimpinan dan suporter PSSI. Tapi agaknya sang waktu lambat-laun melapangkan jalan ke titik pertemuan. Coerver berusaha menyesuaikan diri dengan pihak pimpinan PSSl pun tidak lagi mau menjamah hal-hal yang prinsipil merupakan prerogatif sang pelatih - termasuk penunjukan seorang team manager untuk regu Pre Olimpik lndonesia. 

Dalam praktek sehari-hari tugas dan wewenang Coerver pada dasarnya tidak berbeda denan seorang team manager di Inggeris. Katakanlah Ramsey, misalnya-coach dan manager dirangkap seorang diri. Tapi mengapa Coerver masih membutuhkan seorang team manager di sampingnya? 
"Bahasa soal pertama", katanya. "Saya ingin seorang team manager yang dapat berkomunikasi dengan pemain dan tentu saja orang itu bisa diterima pemain, bukan asal tunjuk". 

Setelah mengulang kembali syarat-syarat seorang team manager seperti yang pernah dikemukakan tempo hari (TEMPO, 15 Nopember 1975), dia harap team manager itu dapat menyadarkan dan membangkitkan semangat pemain. Lawan kesebelasan Korea Utara yang dianggap paling berat misalnya, manager itu harus membantu mengembangkan kepribadian yang mantap pada diri setiap pemain. 

"Manager itu harus juga dapat mengangkat semangat Anjas misalnya. 'Anjas mengapa kamu kelihatan terpekur saja'. Saya ingin Anjas digembleng begitu rupa, sehingga ia berani bersikap menantang terhadap Iswadi misalnya. Hey Iswadi, kamu jangan sok keren! Apa yang kamu bisa lakukan saya pun bisa'. Saya ingin semua pemain berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Sama-sauna membicarakan masalah di dalam dan di luar lapangan permainan," katanya. 

Coerver menambahkan: "Anda boleh kumpulkan coach-coach dunia seperti Helenio Hererra, Helmut Schoen, Rinus Michles di pinggir lapangan, tapi begitu peluit wasit memberi tanda pertandingan dimulai, mereka tokh tidak bisa berbuat apa-apa. Para pemainlah yang menentukan."

Selama proses seleksi berlangsung, Coerver pun merasa bahwa dia "terlampau banyak menuntut dari pemain, pada hal yang mereka terima hanya sedikit". karenanya dia ingin seorang manager itu bisa menyadarkan, korban yang mereka berikan tidak sia-sia. 

"Dan yang tak kurang penting adalah memberi pengertian kepada 9 pemain cadangan yang terpaksa duduk di pinggir tanpa mengurangi motivasi mereka untuk menang," tambah Coerver. 

Masih dalam rangkaian faktor-fakto psikologis, Coerver menunjuk pada Kapten Oyong Liza. "Dia seorang pemain yang baik. Tapi yang diberikan di lapangan kelihatannya tidak lebih dari seorang pegawai negeri yang menjalankan tugas rutine. Dia kurang berinisiatif untuk berbicara dan memimpin rekan-rekannya". 

Mengenai Risdianto Coerver memuji setinggi langit: "Pemain ini cerdik. Risdianto punya banyak mata: di depan, di samping dan di belakang, akan di bila dibandingkan dengan Nico Jansens yang dibeli heyelloord satu juta gulden saya nilai dia 3 kali lipat harganya. Cuma sayang dia malas. Dan saya harap bantuan seorang manager untuk mengatasinya," 

Kebiasaan berbicara antara pemain dan pers menjelang suatu turnamen juga ingin Coerver galakkan. Di Eropa, kata Coerver, kebiasaan itu sangat menolong membakar semangat pemain. Ketika diterangkan bahwa kebiasaan itu belum berkembang di sini, karena di samping takut kalau-kalau diserang pers dan juga para pemain memang dilarang membicarakan persoalannya ke luar oleh pimpinan PSSI, Coerver nampak tidak dapat menerima. 

"Bagaimana bisa diharapkan dari pemain untuk membicarakan masalah mereka kalau sehari-hari saja mereka dilarang membuka mulut? Saya ingin para wartawan nanti menanyakan para pemain sebanyak mungkin problim mereka. Siapa misalnya team manager yang mereka anggap paling cocok. Tanyalah mereka!" 

Siapa manager yang bakal mendampingi Coerver itulah vang belum terungkapkan. Dia tidak mau mengemukakan pilihannya sekarang. "Tunggu nanti kalau sudah kami di Ragunan", katanya. 
Nampaknya Coerver berusaha bertindak bijaksana untuk tidak menyinggung perasaan pimpinan PSSI. Lebih lebih pernah tersiar bahwa tokoh bola yang diincarnya itu adalah "orang luar". Dugaan tidak bergeser jauh dari tokoh Frans Hutasoit, Ketua Jayakarta, yang markasnya di Kompleks Olahraga "Jaya Raja". Konon kabarnya pihak pimpinan PSSI-demi kepentingan nasional pun telah mengadakan pendekatan dengan unsur "Trio Plus" dan telah minta kesediaan Hutasoit untuk secara tidak langsung ikut menggembleng regu Pre Olimpik Indonesia.

(Tempo, Tempo 07 Februari 1976) 

-----------------------------------------------------

SUDAH SIAP COERVER

LEPAS suatu pertandingan percobaan wajah Coerver kelihatan murung. Hari itu Jumat malam tanggal 12 Desember. Sore sebelumnya calon Team Pre Olimpik PSSI baru saja mencatat kemenangan menyolok 9-2 atas kesebelasan Porkam/Pertamina di Stadion Pertamina, Cirebon.Tapi nampaknya skor itu tak menambah kecerahan suasana. Soalnya bukan karena kemenangan tersebut diraih lewat permainan yang kurang memuaskan. 

"Saya yakin anak-anak masih dapat bermain 50 persen lebih baik dari yang diperlihatkan tadi", katanya pada TEMPO. Lalu apa? 

Selagi para pemain bersantap malam di Hotel Nusantara, Coerver mengatakan bahwa dia mendapat interlokal dari Jakarta. Isinya cukup mengejutkan, paling tidak bagi pelatih Belanda itu yang telah mengatur jadwal pertandingan-pertandingan percobaan untuk selanjutnya. "Kami diinstruksikan berangkat ke Surabaya pada tanggal 15 Desember", katanya, "padahal jauh-jauh hari telah kami rencanakan keberangkatan ke Surabaya pada tanggal 17 Desember dan rencana itu telah disetujui Pak Bardosono". 

Coerver nampak berat menerima kepuasan itu. Sejak dia menangani ke-40 pemain pilihannya di Diklat Salatiga pada pertengahan Nopember lalu sampai pertengahan Desember ini lawan Voest Linz di Senayan, tak kurang dari 18 pertandingan percobaan dia lakukan. Jadi pukul rata setiap kurang dari dua hari para calon diuji dalam satu pertandingan. Karenanya Coerver menjanjikan libur dua hari penuh di Ibukota lepas pertandingan lawan kesebelasan dari Austria itu, sebelum beranjak ke seleksi berikutnya. 

Malam itu juga dia berunding dengan pembantu umum Hardono, yang juga nampak tak dapat mengerti akan perubahan mendadak itu. Sementara itu Hendriks dan Ilyas Hadade, kedua asisten pelatih Coerver lebih dulu telah berada di Jakarta bersama sebagian besar pemain yang tidak diturunkan di Cirebon. 

"Peduli amat, kita tetap berangkat ke Surabaya pada tanggal 17 Desermber, sesuai dengan rencana", kata Coerver memutuskan. Tapi sempat dia bertanya: "Sesungguhnya siapa di pucuk pimpinan PSSI yang berwenang mengatur perubahan itu?" 

Team Pre Olimpik PSSI berangkat dari Cirebon dengan kereta Gunung Jati jam 5.15 pagi dan tiba di Stasion Senen pada jam 9.30. Esoknya Minggu pagi, mereka melakukan latihan pemanasan di "lapangan dalam" kompleks Senayan, menjelang pertandingan lawan Voest Linz sorenya. 

"Kami akan berangkat ke Surabaya besok siang dengan pesawat", katanya pada TEMPO meralatkeputusannya di Cirebon. Coerver agaknya mulai lembek. Apa alasannya tak mau dia kemukakan. Tapi nampaknya dalam hal yang tidak prinsipil Coerver mau berkompromi. 

Selesai lawan Voest Linz PSSI kalah 0-1-Coerver bersama kedua asisten pelatihnya Hendriks dan Ilyas mengumumkan nama ke-28 pemain pilihan tahap pertama dari seluruhnya 40 pemain. Dengan catatan dua pemain belakangan: Eddy Sabenan yang masih cedera dan Martin Djopari juga dari Jayapura yang belum sempat diuji, masih dikasih peluang untuk masuk ke team inti, tergantung pada kondisi mereka masing-masing. 

Dalam seleksi tahap kedua, menurut rencana semula, di Jawa Tunur dan Sulawesi Selatan team Pre Olimpik akan main di Surabaya dan Malang (17 - 21 Desember 1975) dan di Ujung Pandang dan sekitarnya (22 Desember 1975 - 7 Januari 1976). Dengan perubahan jadwal tersebut tentu saja terjadi pergeseran. Tapi yang hampir pasti, tanggal 8 Januari mereka akan berada di Jakarta dengan nama ke-20 pemain team Pre Olimpik Indonesia (plus nama team manager barangkali) mereka akan berasrama di Kompleks Olahraga "Jaya Raya" Ragunan. Tanggal 12 Januari merupakan pertandingan percobaan terakhir lawan Grasshoppers dari Swiss. 

Ke-28 pemain yang lolos dari seleksi tahap pertama itu adalah: Sudarno, Ronny Pasla, Taufik (kiper) Oyong Liza, Sutan Harhara, Widodo, A. Rani, Risnandar, Burhanuddin, Suhatman, Hengki Haipon, Johannes Auri Harry Muryanto (belakang) Junaedi Abdillah, Suaeb Rizal, Anjas Asmara, Sofyan Hadi, Nobon, Hartono, Gusnul Yakin (tengah) Iswadi Andi Lala, Risdianto, Waskito, Abdui Kadir, Hadi Ismanto, Deddy Sutendi, Robby Binur (depan). 

Meskipun Coerver sendiri nampaknya masih terombang-ambing dalam menentukan ke-20 pemain inti, tapi jelas dia tidak mau dicampuri orang lain. Misalnya sewaktu Pre Olimpik berhadapan dengan Voest Lin pada tanggal 14 oesember lalu. Ketika Ketua Dewan Penasehat Maladi dan Ketua Badan Team Nasional Pardede turun ke pinggir lapangan dan Pardede terang-terangan minta Waskito diganti, Coerver hanya menjawab singkat: "Itu urusan saya." 

Malah Coerver menyerahkan pita hijau kepada Waskito, menggantikan tugas kapten Iswadi yang meninggalkan permainan karena cedera. Selama berlangsung penggemblengan di Salatiga, hasil karcis dari pertandingan-pertandingan percobaan di kota-kota sekitarnya oleh Coerver dibagi rata kepada ke-40 pemain. "Dalam soal uang dia sangat akurat', kata seorang pembantunya. "Kurang seratus perak dia tagih". Konon serangkaian pertandingan itu dua juta rupiah. 

Bagaimana Sekarang? Coerver nampaknya berusaha keras mencangkok kebiasaan profesionalisme ke dalam tubuh persepakbolaan di sini dalam waktu sesingkat mungkin. Dia memegang kendali, memberi komando dan secara tidak langsung menyadarkan para pemain bahwa sepakbola adalah periuk nasi mereka. Dia bersikap los terhadap para pemain, asal saja mereka dapat memperkembangkan kepribadian ke arah disiplin diri yang positif.

(Tempo 27 Desember 1975)


Tag: PSSI, Tim Nasional Indonesia, Wiel Coerver, Bardosono

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat