Sepakbola Fantasi ala Jepang 1
Senin, 28 Jun '10 19:49
Fortis imaginatio generat casum = Imajinasi yang jelas akan menghadirkan kenyataan yang jelas
(Stephen Covey )
Beberapa saat usai berakhirnya laga Jepang melawan Denmark, saya tergoda untuk menuju rak buku di sudut kamar. Mencari beberapa bacaan yang memiliki keterkaitan erat antara keberhasilan Jepang mencatat sebuah sejarah baru. Mereka berhasil lolos ke babak enam belas besar untuk pertama kalinya dalam sebuah event agung sepakbola yang digelar di luar negara mereka.
Tapi tidak menemukan banyak.Termasuk beberapa buah komik Jepang ( manga ) yang beraliran shounen ( komik untuk laki-laki ) yang mengangkat tema-tema sepakbola. Bicara soal Jepang, adalah lalai kalau menolak bicara tentang komik. Komik, bacaan yang di negara kita kerapkalil dianggap berkasta rendah, adalah bacaan nomor satu di Jepang. Industri komik di Jepang kerap dianalogikan layaknya industri film di Amerika. Menggurita, dan digilai banyak pihak. Komik di jepang diapresiasi sebagai produk tulisan gambar yang menginspirasi, memberi tauladan, serta mempengaruhi banyak hal,termasuk barangkali sepakbola.
Salah satu komik yang saya ambil adalah Fantasista. Karangan Kusaba Michiteru. Fantasista sendiri memiliki arti pemain yang mampu melihat 'hal-hal yang tidak terlihat'di lapangan oleh pemain-pemain kebanyakan. Pemain yang visioner. Kemampuan itu yang barangkali membedakan pemain biasa dengan pemain besar macam Diego Maradona, Zinedine Zidane, ataupun Lionel Messi.
Fantasista sendiri mengisahkan seorang pemuda Jepang bernama Teppei Sakamoto, yang mencintai ( lebih tepat lagi menggilai ) sepakbola dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan yang mengantarkan seorang pemuda Jepang yang diremehkan, berhasil menembus persaingan yang keras di tim sebesar AC Milan. Di level nasional sendiri, Teppei membawa Jepang menjadi kesebelasan yang ditakuti di Piala Dunia.
Beberapa panel di komik ini menggugah sungguh. Saat saya teringat gol Keisuke Honda yang melengkung menaklukan pagar betis Denmark sekaligus menaklukan Jabulani, si kambing hitam itu, saya ,mendapati panel komik yang mirip. Di komik itu, Jepang mendapat hadiah sebuah tendangan bebas di beberapa meter luar kotak penalti. Dalam tekanan yang sangat besar karena melawan tim-tim dewa sepakbola macam Brasil dan Italia, Teppei memilih menjadi ekskutor. Alih-alih mengecewakan, ia tersenyum sejenak, menendang bola dengan kaki kirinya, melengkung tajam, dan gol. Tangannya terkepal meninju udara, air mata keharuan dan kebanggaannya menetes pelan. Kata komentator pertandingan," Jantungnya seakan terbuat dari berlian..".
Atau di panel-panel edisi terakhir komik ini, saat Teppei berhasil menembus starting ine up AC Milan, segenap tifosi memanggil namanya. Panel terakhir ditutup dengan gambar anak-anak kecil Italia yang bermain bola di jalanan, mengenakan jersey bernomor "18" bertuliskan namanya : SAKAMOTO.
Jepang, melalui komik (yang kerap diplesetkan sebagai sumber daya alam terbesar Jepang) , berhasil meminjam sebuah ranah bernama fantasi yang mengantarkan penduduknya mencintai olahraga ini. Sepakbola memang bukan olahraga utama di Jepang. Masih kalah tenar dengan baseball maupun sumo. Tapi para pegiat sepakbola di jepang melakukan banyak cara agar sepakbola bisa menjadi olahraga utama di sana. Diawali dengan pondasi paling dasar : passion. Sepakbola tanpa hasrat adalah omong kosong. Seperti kata Mourinho ," Segalanya dimulai dari hasrat..". Atau lebih jelas lagi, dengan melihat kegagalan Perancis di Piala Dunia 2010.Sebelumnya, Thiery Henry pernah berujar soal buruknya performa Tim Ayam Jantan ( beberapa mempelesetkannya menjadi Tim Ayan Jantan ), " Penyebabnya karena kami terasa bosan..". Ya, bosan dan tanpa hasrat.
Hidetoshi Nakata, pemain Jepang yang pernah mencicipi keangkuhan seri A bersama tim-tim besar macam AS Roma,Fiorentina,AC Parma ini terang-terangan mengakui,bahwa komik dan animasi memberi andil yang besar terhadap ketertarikannya pada sepakbola dan keputusannya merajut karier sebagai pesepakbola. Nakata mengaku bahwa komik dan animasi Kapten Tsubasa sangat memberinya inspirasi dalam berkarier di sepakbola. " ..saya bahkan meniru bicycle kick yang dilakukan Tsubasa ",ujarnya suatu ketika.
Lewat ranah fantasi, sepakbola Jepang dibangun. Dengan menawarkan fungsi komik sebagai salah satu media visual yang propaganda sekaligus mudah diterima masyarakat,"virus" sepakbola ditabur pelan-pelan. Sepakbola seakan didoktrinkan secara massal,salah satunya lewat komik. Saya teringat Menteri Urusan Propaganda Nazi, Joseph Gobbel, dengan kata-kata saktinya." Hal yang salah bila disiarkan berulang-ulang,pada akhirnya akan diterima sebagai kebenaran..". Tentu saja,posisi sepakbola yang didoktrinkan bukanlah hal yang dianggap salah. Tapi menyoal melawan arus deras olahraga baseball dan sumo yang juga penuh selusur intrik,nuansa industri yang menjerat,dan ramai dengan mafia perjudian.
Sampai sekarang, komik -komik Jepang yang mengangkat tema sepakbola sudah sangat banyak. Itu saja yang aliran mainstream,belum lagi komik yang menolak bergerak di luar sektor industrial. Komik-komik tadi antara lain Whistle,Our Field, Ole, Offside, Goal, Shoot, dan masih banyak lagi. Tema yang diangkat barangkali terlampau klise : fantasi berbalur nilai kesungguhan dan semangat yang gigih, ditambahi nasionalisme sederhana yang hendak meneriaki pembaca, bahwa di dalam sepakbola,apapun bisa terjadi.
Fantasi juga merambah ke dunia lain di luar panel-panel komik, yakni dunia game. Lewat playstation, virus sepakbola yang ditebar orang-orang jepang mulai meracuni pula pelan-pelan. Winning Eleven, yang merupakan salah satu game terbesar sejagad, telah diproduksi Konami dengan banyak versi, sesuai dengan perkembangan sepakbola yang nyata. Shunsuke Nakamura,ikon sepakbola Jepang yang kerap dijuluki Roberto Baggio dari Timur, mengakui bahwa ia memang terinspirasi banyak dari Winning Eleven.
Sepakbola Fantasi ala Jepang kini menampakkan hasil. Lewat dukungan massa yang kolektif dan full-passion pada sepakbola, Jepang tidak lagi hadir sebagai pelengkap. Bahkan, sensei Takeshi Okada menargetkan posisi yang pernah dicetak tetangganya, Korea Selatan, di 2002 silam : 4 besar.
Memang sepakbola bukan hanya bicara soal fantasi. Bukan hanya pula menyoal bagaimana memimpikan kemenangan akan hadir. Terlalu banyak faktor lain yang turut terlibat. Semisal sejarah,data, dan statistik. Dan malangnya, Jepang memiliki kelemahan di titik-titik tersebut.
Wacana menjadi juara dunia memang jauh. Terlampau jauh. Tapi setidaknya Jepang memberi contoh kepada kita tentang upaya "pembangunan sepakbola" yang rapi, memperhatikan dan detail. Detail yang diawali dengan menyajikan ranah fantasi sebagai bentuk visualisasi impian dan hasrat mereka yang tinggi dalam menyoal sepakbola. Lihatlah, saya rasa kebanggan yang mereka hadirkan telah beralih bentuk menjadi bukan hanya menjadi kebanggaan orang Jepang saja. Padahal, Liga Jepang,atau yang kerap disebut J-league, pada mulanya di tahun 1980-an didirikan dengan menimba ilmu ke negeri kita yang sudah memiliki konsep liga bernama Galatama.
Kita, sudah jauh tertinggal. Bahkan untuk urusan yang tak tampak sekalipun. Urusan fantasi.
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Hattrick

Komentar:
Indonesia justru beda. Mau bikin LSI malah ga pake studi banding segala. Kasian sekali kita ini
Silahkan login untuk memberikan pendapat