Kapitalisme Sepak Bola 1

Jumat, 18 Jun '10 11:26

Penawaran selalu menciptakan permintaannya sendiri (J. B. Say)

Diktum klasik ilmu ekonomi ini mengandaikan adanya gerak hukum penawaran dan permintaan yang erat-melekat. Penawaran suatu komoditas diciptakan oleh produsen, dan otomatis penawaran itu bekerja sebagai stimulus dalam memicu permintaan pasar. Kebutuhan dikreasi produsen, bukan berangkat dari keterbatasan sumber daya konsumen.

Model ekonomi macam ini adalah cermin keseimbangan pasar. Kalau pun ada kelebihan produksi, harga barang akan terkoreksi dan bisa diserap pasar. Begitu seterusnya: semua produk yang ditawarkan pasti ludes di pasar.

Rasionalitas ekonomi macam itulah yang kini melambari jagat sepak bola kontemporer. Kita melihat sepak bola telah bersilih rupa dari permainan di rumput hijau dalam stadion menjadi tumpukan surat berharga di papan elektronik: saham, obligasi, aplikasi kredit.

Dalam beberapa konteks, sepak bola tak lebih sebagai kerja ekonomi pragmatis, seni yang melulu melayani hal-hal praktis jual-beli ekonomi. Sepak bola sudah terhubung dengan terminologi ekonomi-perusahaan: return on investment (ROI), debt to equity ratio (DER), belanja modal, dan profitabilitas.

Kita tahu, sepak bola punya gayanya sendiri dalam mengeruk pundi-pundi uang dari pasar. Pemodal kakap hilir-mudik membeli klub-klub baru. Jersey-jersey dicetak masal, dipamerkan di toko-toko olahraga dari Barcelona sampai Surabaya. Kartu kredit berlogo klub-klub dunia diterbitkan dengan iming-iming cashback jika sang klub berhasil memenangkan laga.

Sepak bola adalah mesin uang. Maka, diciptakanlah metode penawaran yang akan memunculkan sendiri permintaannya. Ronaldo didatangkan, jersey dipasarkan, dan Real Madrid berhasil menggamit 100 juta euro dari penjualan lebih dari 1 juta potong kaus.

Manchester United (MU), AC Milan, atau Barcelona menjelma menjadi merek raksasa di pasar global, menyamai merek-merek industri lain macam Mercedes-Benz, BMW, Louis Vuitton, atau Gucci. Indomaret, ritel modern yang memegang lisensi penjualan aksesoris resmi Piala Dunia di Indonesia, menargetkan penjualan pernak-pernik hajatan bola tersebut hingga Rp 100 miliar. Nilai transfer pemain jauh melebihi transaksi kriya di balai lelang ternama macam Christie's International, Sotheby's, atau Philips de Pury.

Sejak Desember 2009, Adidas berhasil meraup jutaan euro lewat penjualan Jabulani, bola resmi Piala Dunia. Real Madrid menambang USD 29 juta per tahun dari renegosiasi kontrak dengan raksasa judi online Bwin hingga 2013 mendatang.

Menjalankan bisnis sepak bola tak ubahnya seperti menakhodai korporaasi raksasa: perlu belanja modal (capital expenditure) yang tak sedikit. Real Madrid berutang USD 192 juta kepada Banco Santander dan Caja Madrid untuk mendanai ekspansi mereka. Tapi, dari pasar, bisnis Real Madrid juga berhasil mengangkasa hingga meraup USD 541 juta pada musim 2008-2009.

Awal 2009, harga perumahan di Inggris versi operator perumahan terbesar, Rightmove, merosot 1,9% atau rerata USD 317 ribu. Khusus di London, harga rumah limbung 1,3%. Tapi, meski hidup di bawah langit yang sama, hidup kerap memberi jalan nasib yang berbeda: gaji Frank Lampard, Steven Gerrard, atau Wayne Rooney tak pernah melorot.

Industrialisasi sepak bola macam ini membuat segelintir orang khawatir. Presiden UEFA Michael Platini masygul dengan konsep sepak bola yang melulu berorientasi bisnis. Dia mengkritik Real Madrid yang mengeluarkan triliunan rupiah hanya untuk transfer pemain. Dia menguliti sepak bola Inggris yang diisi seliweran pemodal kakap. "Ada klub-klub yang presidennya, pelatihnya, para pemainnya bukan warga dari negara asal klub itu. Satu-satunya yang punya identitas adalah para suporter," keluh Platini.

Stimulus Ekonomi

Tapi pasar juga tak selamanya buruk. Kapitalisme sepak bola boleh dihujat, tapi di matra itu pula kapitalisme memberi ruang bagi manusia untuk berimajinasi: tempik-sorak menyambut selebrasi Lionel Messi, decak kagum melihat Gianluigi Buffon terbang bak elang menyelamatkan gawang. Sepak bola membawa kebahagiaan, dan ini bukan hal sepele dalam perekonomian.

Dalam Job Satisfaction: Application, Assessment, Cause, and Consequences (1997, dalam Berument, dkk, 2006), Spector dengan tekun menguraikan dampak kebahagiaan warga terhadap hasil kerja mereka. Warga yang puas dengan faktor eksternal kehidupannya ternyata bisa lebih produktif.

Kebahagiaan (happiness) adalah variabel penting dalam bisnis yang telah terindustrialisasi secara masif seperti sepak bola. Ini kunci sebuah ekonomi-industri, terutama berkaitan dengan psikologi industri. Efek kebahagiaan dalam sepak bola (tempik sorak karena gol, decak kagum tendangan pisang) telah menjelma lebih dahsyat menjadi stimulus ekonomi yang tak bisa diremehkan.

Jutaan suporter bisa bangun pagi dengan lebih bergairah setelah klub pujaannya berhasil memenangkan laga pada hari sebelumnya. Semangat para pekerja lebih membuncah. Bar dan resto penuh sesak. Perekonomian bergeliat, produktivitas terangkat. Ketika sepak bola membawa kebahagiaan, para pencintanya akan lebih bersemangat menjalani hari dan mengejar mimpi.

Hakan Berument, Onur Ince, dan Eray M. Yucel; ketiganya dari Bilkent University, Turki, melakukan kajian empiris yang tekun dan benderang, Success in Soccer and Economic Performance: Evidence from Besiktas-Turkey (2006). Aspek kebahagiaan (happiness) suporter Besiktas dan rakyat Turki melambari riset ini. Mereka melakukan riset dengan memadukan data pertumbuhan industri dari BPS-nya Turki dan Bank Sentral Turki dengan kronik pertandingan Besiktas dari UEFA sepanjang 1992-2002.

Dengan analisis regresi sedemikian rupa, hasil riset menunjukkan, kemenangan Besiktas di kancah Eropa membuat produksi industri di bulan tersebut terkerek 0,15 persen. Kemenangan di kancah Eropa jauh lebih menggairahkan produksi industri ketimbang kemenangan di laga domestik. Ini memberi sinyal bahwa sepak bola membawa rakyat Turki (baik pendukung Besiktas maupun yang tidak) ke dekapan kebahagiaan, yang muaranya mengerek produktivitas ekonomi.

Kajian Simon Chadwick dari Coventry University, Inggris, menunjukkan, final Liga Champions di Madrid Mei 2010 lalu mendatangkan duit bagi kawasan Eropa tak kurang dari 351,5 juta euro, di mana 50 juta euro di antaranya terdistribusi di Spanyol.

Joao Duque dan Nuno Abrantes Ferreira dari Universidade Técnica de Lisboa melakukan riset yang menunjukkan adanya hubungan positif antara performa klub sepak bola dan harga saham mereka. Riset mereka menyebutkan, dalam lima musim (1998-2003), penampilan dua klub, yaitu Sporting Lisbon dan FC Porto, sangat berpengaruh terhadap pergerakan saham mereka di Euronext Lisbon. Kedua klub tersebut menjadi perusahaan publik sejak 1997.

Sejumlah riset lain, dalam konteks luas olahraga, seperti Bird (1992), Irani (1997), atau Darren McHugh (2006), juga menelisik korelasi antara dunia olahraga dan perekonomian, mulai dari untung-rugi pembangunan stadion menggunakan anggaran publik hingga hukum permintaan ekonomi yang tecermin pada tingkat kehadiran penonton di stadion.

Perhelatan Piala Dunia 2010 bakal mengerek pertumbuhan ekonomi Afsel sebesar 1-1,5 persen dengan pembukaan 400.000 lapangan kerja baru. Afsel menargetkan mampu menggaet investasi asing sebesar USD 15 miliar dalam tiga tahun ke depan. Dunia pariwisata Afsel mematok target kunjungan wisman hingga 13,5 juta orang pada 2015. Tahun lalu, jumlah wisman ke Afsel mencapai 9,9 juta orang. Sebagai gambaran, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia masih berkisar di angka 7 juta.

Ihwal ekonomi ini semestinya memantik kesadaran kita tentang dampak luas sepak bola. Di Indonesia, sepak bola bisa didesain lebih sempurna untuk memberi efek yang lebih berarti bagi orang ramai ketimbang hanya berisi silang-pandang antarsuporter dan jerat mafia yang kelewat rumit.

Banyak orang, memang, yang berharap-harap cemas agar sepak bola tak kian dibekap kepentingan ekonomi. Sepak bola dirindukan sebagai megakarya yang puitis di mana ada etos dan kebanggaan di dalamnya, bukan melulu berisi perhitungan ekonomi dan hukum pasar.

Tapi, sepak bola butuh gemuruh agar pasar tetap bergairah. Sensasi perselingkuhan, gosip perceraian, dan gaya rambut pemain pujaan adalah kesatuan ekonomi yang mutlak berpadu dengan etos di lapangan dan adu otot antarbintang. Justru di situlah gerak ekonomi menabalkan sepak bola sebagai pertunjukan yang tak bisa lepas dari drama. Sentuhan ekonomi membiakkan kecemasan, tapi sekaligus memukau dan menawarkan harapan.

[esai ini sebelumnya tayang di Jawa Pos, 16 Juni 2010]

 


Tag: transfer pemain, kapitalisme

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
Kapitalisme sepakbola justru sering menjadi tujuan, terutama oleh mereka2 yg masih "bau kencur" di bisnis ini. Misalnya sheik2 kaya dari Timur Tengah itu.

Bila prakteknya mengikuti "tarkam" ala Real Madrid maka bisa dipastikan klub itu malah akan buntung.

Silahkan login untuk memberikan pendapat