Mengapa Afsel dan Bukan yang Lain? 0

Selasa, 15 Jun '10 21:51

-- oleh Bambang Sumarley

Monopoli kegembiraan? Tak seorang pun bisa! Pasalnya, gembira milik semua orang. Termasuk Afrika yang selalu identik dengan darah dan airmata. Mantan jajahan dan perang saudara yang nyaris tak berkesudahan.

Tapi mengapa Afsel - dan bukan yang lain -- yang dipilih FIFA sebagai ajang bola dunia?

Mungkin ada satu hal penting yang hendak dikabarkan. Yakni, negeri itu bisa berdamai dengan masa lalunya, dan lewat cara yang damai pula. Ini luar biasa! Tak banyak negeri yang bisa seperti ini. Maka Mandela dkk memang pantas bangga dan bertepuk dada.

Padahal, seolah sampai kemarin sore saja negeri itu masih dianggap negeri terkutuk. Negeri bedebah kaum putih dengan berhala apartheid. Putih bisa apa saja. Dan si hitam harus rela "diapa-sajakan".

Lalu dunia marah dan jatuhlah sanksi isolasi. Hampir semua orang kemudian berkepal tangan. Ganyang rezim apartheid!

****

Artis-artis musik pun ikutan. Tapi, gandrik!. Tiba-tiba mereka sadar, negeri berezim laknat itu ternyata punya musik yang luar biasa. Maka, tumpahlah adrenalin dunia.

Para musisi yang umumnya putih itu melet-melet kegirangan. Selain mendorong agar musik Afsel (dan Afrika umumnya) segera memenuhi pasar, sebagian dari mereka juga menggaulinya.

Brian Eno & David Byrne bisa disebut sebagai pionir. Dengan "My Life in The Bush of Ghosts" mereka mengguncang dunia. Utamanya lewat "Regiment" yang bikin gerah beberapa kalangan itu.

Selepas Genesis, Peter Gabriel juga "ngAfrika". Ada Rhythm of The Heat. Atau Biko yg bercerita tentang matinya Biko di tangan penguasa apartheid.

The man is dead. You can blow out a candle. But you can't blow out a fire. Once the flame begin to catch. The wind will blow it higher. Biko, because biko.

Ada juga Paul Simon, Steward Copeland (Police), Ry Cooder, Damon Albarn (Blur) dll. Tapi yang jelas, musisi Afrika pun lalu jadi virus dunia. Miriam Makeba, Osibisa, Youssou N'Dour, Ladysmith Black Mambazo, Johnny Clegg, Ali Farka dan entah siapa lagi.

****

Tapi dibanding artis lain, Paul Simon layak disendirikan. Pasalnya, dialah pionir putih yang sejak awal tak mau ikut-ikutan menghujat rezim Afsel. Mengapa?.

Saya bukan politisi, katanya. Lagian, rezim Afsel jadi seperti itu, apakah itu karena saya? Di album saya (Graceland) banyak musisi Afsel yang terlibat. Kalau saya ngomong politik, lalu mereka diapa-apain, siapa yang nanggung? Kalian mau tanggungjawab? Yang bener aja!

Maka jadilah Graceland full musik. Ini perayaan kegembiraan. Aneka tiup, pameran vokal yang nggegirisi & perkusi, bas yang mendut-mendut, dan petikan gitar khas Afrika. Rancak-bana. Tanpa kepalan tangan.

Lalu dunia terbelalak dan mengapresiasinya. Album yang full kegembiraan itu - bahkan ketika bicara tentang ketimpangan seperti di "Homeless" dan "Diamonds on The Soles of Her Shoes" - kemudian beroleh grammy.

****

Mungkin begitulah gembira. Jadilah Afsel kini mengharubiru. Maka, kartu kuning & merah, tim "othok-owok", bintang & bukan bintang, main indah atau bebal - tak penting lagi. Karena memang bukan itu intinya.

Gembira tanpa sekat. Dan hanya lewat "berdamai dengan masa lalu dengan cara yg damai pula" -- gembira itu tampaknya jadi berlipat-ganda. Dan ini yang layak dikabarkan Afsel ke seluruh penjuru dunia.

Kabar itu juga sampai ke saya. Hari ini Graceland juga saya puter berkali-kali. Benar, gembira tanpa sekat. Damai dengan masalalu dengan cara yang damai pula. Jadikan saya yang tersingkir dari Menkeu sebagai bagiannya.

Dengan begitu, saya tak perlu nunggu si Bos, Ical & para bebal Senayan. I know what i know. I'll sing what i said. That's a thing what i keep. In the back of my head. Jreng!

-------------------------------------------

Post-script: Naskah ini tayang pertama kali di halaman facebook penulisnya. Diunggah dengan ijin penulisnya.

 


Tag: Piala Dunia 2010, musik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat