Die Aufklarung der Nationalmannschaft 2
Selasa, 15 Jun '10 12:24
Untuk sebuah negara yang mempunyai sejarah mengagungkan superioritas ras tertentu, timnas Jerman di Piala Dunia 2010 sama sekali bukan gambaran yang tepat. Ada 10 pemain berdarah non-Jerman yang bisa saja membela tanah kelahiran orang tuanya bila mereka menghendaki demikian.
Tujuh di antaranya bermain pada partai pembukaan melawan Australia yang tidak seimbang: Miroslav Klose & Lukas Podolski (Polandia), Mezut Ozil (Turki), Sami Khedira (Tunisia), Mario Gomez (Spanyol), Cacau (Brazil), Marko Marin (Bosnia-Serbia). Selain nama-nama tersebut, di bangku cadangan masih ada Jerome Boateng (Ghana), Serdar Tasci (Turki), Dennis Aogo (Nigeria). Jerman mulai terlihat seperti timnas Prancis dan Hitler mungkin gelisah di dalam kubur.
Semua orang mengganggap lalu apa yang dikatakan Phillip Lahm, 26 tahun, kapten timnas Jerman termuda sepanjang sejarah. Sebelum Piala Dunia dimulai, bek sayap Bayern Muenchen tersebut menukas, "Ada begitu banyak pemain yang mempunyai kemampuan individu yang luar biasa. Kami tidak akan terlihat seperti tim Jerman biasanya. Ini adalah tim Jerman terhebat yang pernah bermain bersama saya."
Tidak terlihat seperti tim Jerman biasanya. Apa-apaan? Apakah Lahm sekedar menjalankan tugasnya sebagai kapten untuk memompa semangat rekan-rekannya?
Mereka yang menyaksikan partai melawan Australia tahu benar bahwa Lahm tidak membual. Kedisplinan dan efektivitas khas Jerman tetap melekat, tapi pelatih Joachim Low menambah satu lagi ramuan ke dalam adonan timnya: gaya menyerang yang atraktif.
Adalah Mesut Ozil, anak imigran Turki kelahiran Gelsenkirchen, dirigen permainan orkestra Jerman yang pada pertandingan kemarin sedang memainkan repertoar Beethoven, megah dan bergemuruh. Ozil, yang mengaku lebih memilih melafalkan ayat suci Al-Quran ketimbang menyanyi lagu kebangsaan Das Deutschlandlied, selalu terlihat berbahaya saat bola berada di kakinya.
Di belakang Ozil ada Sami Khedira, gelandang bertahan dengan perawakan Arab Maghribi yang menjadi mesin tim bersama Bastian Schweinsteiger. Khedira tidak akan menjadi pemain inti seandainya Kevin-Prince Boateng tidak menghajar kaki Michael Ballack yang mengakibatkan sang kapten harus absen di Piala Dunia ini. Blessing in disguise, Khedira menapak naik mengenakan mantel yang ditinggalkan pendahulunya dan sepertinya tidak ada yang merindukan Ballack sejauh ini.
Bagi kebanyakan pengamat, absennya Ballack merupakan salah satu faktor utama mengapa Jerman bisa tampil bebas. Terlalu berlebihan untuk menyatakan bahwa Ballack adalah liabilitas, tapi dengan adanya pemain yang baru dilepas dari Chelsea itu, otomatis permainan berfokus pada dirinya, tidak ada ruang bagi pemain lain untuk berkreasi. Sulit membayangkan Ozil mendapat kebebasan sedemikan besar bila Ballack ada di lapangan.
Timnas Jerman 2010 adalah yang termuda dalam 76 tahun terakhir. Usia rata-rata pemainnya 25 tahun. Bersama dengan Piotr Trochowski, Schweinsteiger yang baru 25 tahun itu adalah pemain tertua di lini tengah Jerman. Sisanya adalah Ozil, 21 tahun, Khedira, 23 tahun, Marin, 21 tahun, Kroos, 20 tahun, Muller, 21 tahun.
Ozil, Khedira, Marin, Aogo, dan Boateng adalah jebolan timnas U-21 Jerman yang tahun lalu menghancurkan Inggris di final Piala Eropa, 4-0. Ozil sang maestro menyumbangkan 1 gol dan 2 assist pada laga tersebut. Mereka tidak canggung saat bermain di level senior. Komentator John Motson bahkan mengatakan, "Ozil dan Khedira seperti sudah bertahun-tahun bermain bersama di timnas senior Jerman."
Akhir pekan lalu penulis berjumpa dengan seorang Jerman dan saat ditanyai peluang negaranya di Piala Dunia, ia menjawab, "Belum saatnya, semifinal paling maksimal. Mereka terlalu muda." Benar, mungkin pada fase selanjutnya pengalaman mereka yang minim akan menjadi ganjalan. Mungkin pada pertandingan berikutnya Ozil akan dikerjai habis-habisan oleh para bek veteran Piala Dunia. Tapi Jerman patut bangga, era baru sepakbola mereka ada di ambang pintu.
Rival abadi mereka, Inggris, boleh iri hati. Saat punggawa U-21 mereka seperti Daniel Sturridge, Danny Welbeck, atau Jack Rodwell saja belum menjadi pilihan utama di level klub apalagi tim nasional, Ozil, Khedira, Muller, dan panser belia lainnya telah menjadi pilihan utama di Piala Dunia.
Seperti saat Kant, Abbt, dan Goethe membawa Jerman pada Aufklarung abad 18, para pemain belia tim Panser sedang menuntun Jerman kepada Aufklarung abad 21, pencerahan sepakbola.
Tag: Jerman, Mesut Ozil
Terkait:
-
Jerman Akhirnya Menjawab Ramalan Paul Gurita (lagi)!
Minggu, 11 Jul '10 06:41 -
My First Encounter With Middle-Finger: Stefan Effenberg
Kamis, 24 Jun '10 13:13 -
Optimisme dibalik Pesimisme
Minggu, 6 Jun '10 12:51
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Der Kaiser: Hattrick
-
3-4-3: Total Football
-
laporan bola: Playmaker
-
kakilangit: Hattrick
-
carpediem: Hattrick

Komentar:
Soal Oezil, anak muda ini pasti setahun mendatang akan main di Bayern Muenchen. Sudah jadi pakem kalo pemain terbaik, apalagi rising star, main di Allianz Arena =))
Silahkan login untuk memberikan pendapat