Kesebelasan Resiko 2

Senin, 14 Jun '10 11:39

-- catatan atas kegagalan Belanda di Piala Eropa 2008 lalu

Di luar perkara keberuntungan yang tak pernah bisa diprediksi, saya yakin siapa pun yang menjuarai sebuah turnamen besar sekelas Piala Dunia atau Piala Eropa pastilah tim itu ditukangi pelatih yang tahu benar betapa pentingnya mengelola resiko.

"Resiko" berbeda dengan "bahaya". Resiko merujuk pada sejumlah akibat yang bisa dikontrol, dikelola dan diperkirakan, sementara bahaya merujuk pada akibat yang tidak bisa dikendalikan dan diperkirakan.

Masyarakat modern, kata Antony Giddens, adalah sejenis masyarakat resiko (risk society) yang dicirikan oleh kesadaran tentang resiko dan bagaimana resiko dikelola. Asuransi, misalnya, bisa diletakkan sebagai bentuk paling telanjang mengelola resiko. Keberanian menyekolahkan anaknya, dengan biaya besar, tapi dengan harapan sang anak bisa bekerja di tempat yang layak dengan penghasilan besar menjadi contoh lain mengenai kesadaran mengelola resiko.

Sains menjadi apek penting dalam kemunculan kesadaran akan resiko dalam masyarakat modern. Di satu sisi, sains telah berhasil mengurangi apa yang disebut sebagai "external risk": ancaman yang datang dari alam semesta, seperti banjir, petir, dll. Hanya saja, sains diam-diam juga menghadirkan apa yang disebut sebagai "manufactured risk": ancaman yang datang sebagai akibat dari kemajuan-kemajuan masyarakat modern, termasuk sains, seperti polusi, gas rumah kaca, pemanasan global, dll.

Tak ada manusia modern yang bisa lari dari keharusan menghadapi dan mengelola resiko. "The risk climate of modernity is thus unsettling for everyone: no one escapes," tulis Giddens (Modernity and Self-Identity: 1991, hal. 124).

Sepakbola tentu saja bukan seperti pelajaran matematika atau pelajaran ekonomi yang mengukur untung rugi. Tapi, dalam semua aspeknya, sepakbola hampir selalu membutuhan kejelian membaca kekuatan dan kelemahan diri sendiri sebaik mengenal kekuatan dan kelemahan tim lawan.

Ahli strategi dari Cina, Sun Tzu, 1500 tahun sebelum Giddens lahir, sudah merangkum persoalan itu dalam satu parafrase yang begitu terkenal: "Kenalilah dirimu dan musuhmu, maka seribu kali kamu perang, seribu kali kamu akan menang".

Pelatih yang baik pasti tahu benar soal ini, tak peduli mereka membaca Sun Tzu atau tidak. Teori itu diejawantahkan sedari pemilihan 23 pemain yang dibawa ke sebuah turnamen, memilih 11 pemain utama, hingga memilih formasi yang hampir selalu dilakukan setelah membaca dengan sebaik-baiknya kekuatan dan kelemahan tim lawan. Kemampuan itu penting agar bisa mencetak gol seraya pada saat yang sama tidak kebobolan.

Sepakbola memang menuntut siapa saja untuk mencetak gol, sebab hanya yang mampu mencetak gol yang akan menjadi pemenang. Hanya saja, keharusan mencetak gol itu juga dibayang-bayangi keharusan untuk menjaga gawang sendiri agar tidak kebobolan.

Situasi itu direspons dengan banyak cara. Ada tim yang lebih memilih untuk menekankan pertahanan sembari menegaskan bahwa "penyerangan hanya bisa dilakukan setelah pertahanan sendiri kokoh" (misalnya Italia atau Yunani). Ada tim yang lebih memilih untuk menyerang secara frontal dengan meneguhkan keyakinan bahwa "pertahanan terbaik adalah dengan menyerang" (misalnya Belanda dan Brazil). Ada tim memilih bermain aman dengan lebih menekankan keseimbangan (misalnya Jerman).

Dalam diri Yunani, misalnya, terutama pada Piala Eropa 2004, pragmatisme hadir dalam bentuknya yang ekstrem. Mereka bermain nyaris ultra-defensif dan hanya menunggu sampai pertahanan lawan benar-benar terbuka untuk melakukan serangan balik yang mematikan.

Orang boleh menuduh Otto Rehhagel telah membunuh kerinduan publik terhadap sepakbola yang indah. Masalahnya, Rehhagel tak memiliki materi pemain yang memungkinkan dihelatnya pagelaran sepakbola indah. Tak masuk akal meminta Yunani bermain indah dan menyerang. Strategi yang dipilih Rehhagel sepenuhnya disadarai oleh arti penting "mengelola resiko": betapa berbahayanya memilih strategi menyerang saat skill anak asuhnya tak cukup memadai untuk menggelar strategi itu.

Tetapi, pragmatisme dalam "mengelola resiko" juga bisa ditemukan pada skema permainan menyerang. Brazil, saya kira, adalah jenis pragmatisme sepakbola yang enak disaksikan. Dengan pemain yang dianugerahi kontrol dan dribling sempurna serta naluri menyerang yang sudah mengeram dalam DNA masing-masing pemain Brazil, menyerang menjadi satu-satunya pilihan yang paling mungkin diambil. Memilih bermain bertahan bukan hanya menyalahi naluri sepakbola Brazil, tetapi juga sangat tidak pragmatis karena kualitas bek-bek Brazil tidak sebanding dengan para penyerang dan gelandang mereka.

Ya, menyerang adalah pragmatisme bagi Brazil karena karena para pemain Brazil dilahirkan untuk berdansa dengan bola di kakinya, bukan dilahirkan untuk sibuk menghalangi para penyerang lawan.

Totaal Voetbal ala Belanda adalah cermin yang pas dari pragmatisme mengelola resiko. Berbeda dengan Brazil yang langgam sepakbola menyerangnya didasarkan pada bakat-bakat dan naluri individual, skema menyerang Totaal Voetbal disandarkan pada kolektivitas. Pengorbanan diri untuk tim menjadi teramat sangat penting. Rinus Michels, empu penemu Totaal Voetbal, merumuskannya dalam kata-kata yang nyaris menjadi mantra: "Larilah ke tempat di mana kau akan kesakitan."

Totaal Voetbal memang menekankan penyerangan, tapi menyerang dalam Totaal Voetbal digerakkan oleh perhitungan yang cermat dalam mengelola resiko. Dany Blind, pilar pertahanan Ajax Amsterdam sewaktu menggondol juara Liga Champions 1995, menegasakan hal itu dalam bahasa yang lebih lugas.

"Totaal Voetbal," kata Blind, "mengandalkan permainan poros yang luar biasa lancar, permainan poros ini yang mengatur secara otomatis gerak ke belakang dan ke depan seefektif mungkin. Ini akan mengurangi resiko seminimal mungkin bagi pemain belakang."

Ketidakmampuan mengelola resiko bukan hanya membuat sebuah kesebelasan tidak mampu memainkan Totaal Voetbal, tapi bisa menyulap tim itu justru seperti kesebelasan yang tunggang langgang, kurang lebih seperti saat Belanda dikalahkan Rusia dengan skor mencolok, 1-3.

Alih-alih mengganti Sneijder atau van der Vaart yang malas turun pada saat lini pertahanan digempur habis-habisan, ia malah memasukkan van Persie yang tidak kalah malasnya membantu pertahanan. Sneijder dan Persie seperti tak peduli bagaimana gelandang bertahan De Jong susah payah membantu pertahanan. Mereka "anteng" menunggu di depan. Belanda, yang sebenarnya hanya memasang Nistelrooj sebagai satu-satunya striker, justru seperti bermain dengan tiga striker.

Hasilnya, Belanda (seperti juga Italia dan Prancis yang keukeuh mamakai pemain-pemain tua) tampil seperti -dalam istilahnya Giddens lagi-- "juggernaut": truk besar yang bergerak tanpa kendali menuju tepi jurang kehancurannya sendiri.

Dengan menggunakan perbedaan konseptual antara "resiko" dan "bahaya", Belanda di bawah asuhan Basten bisa dibilang sebagai kesebelasan yang bermain bukan dengan "resiko", tapi justru bermain-main dengan "marabahaya". Belanda harus membayarnya dengan harga yang amat mahal.

Sepakbola adalah contoh bagaimana pragmatisme dalam mengelola resiko hadir dalam banyak wajah. Tak ada yang salah dengan pragmatisme. Ia hanya mengajarkan pada siapa saja untuk lebih realistis memandang hidup: lakukan apa yang memang mungkin, hindari yang memang tidak mungkin.

Pada akhirnya, semua tim memang ingin menjadi pemenang, ingin meraih hasil yang gemilang. Di sinilah pragmatisme mengelola resiko dalam sepakbola segendang-sepenarian dengan pragmatisme dalam filsafat yang juga mengedapankan faedah, setidaknya sesuai dengan William James (filsuf terpenting dalam tradisi pragmatisme Amerika) yang satu waktu pernah berujar: "Jika kau punya kepedulian pada hasil, kau pasti akan mendapatkannya!"

 


Tag: Belanda, total football

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Tukang Wedang 0 0
iki malah lebih mirip tentang pekerjaanku. risiko dan pengelolaannya. hihihi.
kliping bola 0 0
Tukang Wedang: sepakbola dalam salah satu aspeknya kan memang begitu toh, om? : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat