Catatan Piala Dunia 2010 #1 1
Minggu, 13 Jun '10 14:04
Banyak hal yang bisa dicuplik dari 2 hari pertama di Piala Dunia 2010. Pembukaan yang diwarnai dengan koreografi tari dan hiburan sangat menarik hingga urusan blunder kiper Inggris.
Tapi buat saya, tak ada isu yang lebih menarik dari pada gol Carlos Vela bagi Meksiko yang dianulir wasit Ravshan Irmatov dari Uzbekistan. Awalnya, saya menilai itu adalah keputusan sangat kontroversial. Sebab ketika Vela menerima bola, posisinya onside karena di depan garis gawang masih ada pemain Afrika Selatan, Stephen Pienaar.
Tapi tunggu dulu. Menilai onside jika mengacu pada aturan FIFA yang lama. Dan sialnya, saya pun mengambil pedoman basi itu.
Ternyata aturan sudah direvisi — jelang Piala Dunia berlangsung. Ini benar-benar luput dari perhatian saya.
Bahkan blog-blog asing yang biasa saya kunjungi tak satu pun membahasnya. Situs-situs berita juga demikian. Andai ada yang menulis mengenai perubahan tersebut, pasti saya yang teledor memberi perhatian.
Perubahan terletak pada kata bagian “Nearer” (terdekat). Di aturan lama kira-kira disebut begini: “Any player behind the goalkeeper when the ball was played to him is in an offside position.”
Tapi liat hasil revisinya (seperti di gambar).
Kini di sana tertulis “Nearer his opponents’ goal line…” Tak peduli siapa yang ada di dekat garis gawang — entah kiper atau bukan — pemain lawan yang menerima bola di belakang pertahanan lawan akan dinyatakan offside.
Itu sebabnya saya menjadi maklum ketika Meksiko tak protes berlebihan dan lebih jelas lagi saat reporter membahasnya.
Lepas dari urusan aturan itu, Piala Dunia 2010 masih seperti turnamen sebelumnya. Tak ada yang impresif di awal, kecuali Korea Selatan yang sampai tulisan ini dibuat adalah tim pertama dan satu-satunya yang bisa menang dengan skor 2-0.
Namun jangan lupa. Dalam sebuah turnamen, sang juara selalu tak mengesankan di awal. Lihat Italia ketika juara tahun 2006. Tak ada yang mengunggulkan mereka. Permainannya tak menjajikan. Malah tim yang tampil dengan permainan menyerang nan enak ditonton dan punya gol menakjubkan justru bisa mencapai antiklimaks dengan cepat.
Ini bi(a)sa terjadi pada tim seperti Spanyol atau Belanda yang menganut attacking football.
Brasil juga kadang tak menarik di awal laga, tapi malah bisa juara lima kali.
Artinya, jangan terkecoh pada laga awal. Prancis, Argentina, Uruguay atau Inggris — yang gagal menang gara-gara kesalahan amatir Robert Green — masih bisa tampil ganas di laga berikut.
Makanya saya agak bingung dengan judul headline Kompas Minggu (13/6) yang menulis “Argentina Belum Menjanjikan”.
Tim nasional sekarang ini tak seperti jaman tahun 80-an di mana kompetisi klub belum semasif jaman modern. Pemain timnas hanya punya waktu berkumpul sangat pendek. Bedakan dengan klub yang para pemainnya bisa latihan dua kali setiap hari sepanjang musim (8 bulan).
Bila kerjasama antar lini di antara para pemain timnas belum cair, itu wajar.
Apalagi tim seperti Jerman hanya bisa berlatih selama dua minggu dengan para pemain yang tak lengkap. Turnamen selalu penuh dengan hal sistematis dan berproses. Kematangan sebuah tim dibangun dengan kebersamaan. Siapa yang mampu melakukannya secara cepat, dia akan mencapai kerapian bermain lebih dini pula.
Dan keahlian melakukan itu hanya mampu dilakoni oleh tim-tim mapan kenyang pengalaman. Siapa mereka? Anda bisa menjawabnya. ![]()
---
*Disalin dari blog pribadi di sekadarblog
Tag: Piala Dunia 2010, Offside, Blunder
Terkait:
-
Catatan Piala Dunia 2010 #3
Kamis, 15 Jul '10 04:14 -
Catatan Piala Dunia 2010 #2
Minggu, 11 Jul '10 16:04 -
Jerman Akhirnya Menjawab Ramalan Paul Gurita (lagi)!
Minggu, 11 Jul '10 06:41
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Der Kaiser: Total Football
-
Røsyid Ridlo Viola √: Biasa

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat