Menikmati "Kutukan" Piala Dunia 5
Kamis, 10 Jun '10 11:01
Oleh Agus Noor
Setiap kali Piala Dunia datang, setiap kali itu pula kita merasa betapa persepakbolaan kita menanggung beban kutukan. Kita ini seperti "dikutuk menjadi penonton abadi". Sampai kapankah kita akan terbebas dari kutukan itu?
Saya membayangkan, suatu pagi Nurdin Halid bangun dengan perasaan penuh kesedihan karena mesti menanggung "kutukan" itu. Sebagai ketua umum (Ketum) PSSI, sudah tentu dia lebih sedih daripada siapa pun saat menyadari bahwa organisasi yang dipimpinnya tak pernah lolos ke putaran final Piala Dunia. Karena itu, seperti Sisifus yang menanggung beban kutukan bertahun-tahun, Nurdin Halid pun pagi itu bangun dengan gagasan yang dia sangka brilian dan cerdas, salah satu cara paling cepat untuk ''memutuskan rantai kutukan'' tersebut adalah menjadi tuan rumah Piala Dunia. Karena dengan begitulah, PSSI punya hak tampil di putaran final!
Bila itu berhasil, sudah tentu segala puja-puji akan menggantikan semua caci-maki yang terus-menerus dia terima selama menjabat Ketum PSSI. Namanya akan dicatat oleh sejarah persepakbolaan nasional sebagai satu-satunya Ketum PSSI yang berhasil membawa kesebelasan nasional ke puncak Piala Dunia. Begitulah, saya bayangkan, pagi itu Nurdin Halid dipenuhi perasaan gairah penuh kegembiraan karena merasa berhasil menemukan gagasan cerdas untuk memartabatkan persebakbolaan nasional. Barangkali, itulah satu-satunya gagasan cerdas yang pernah dia miliki selama menjabat Ketum PSSI.
Tapi, kita tahu, semua itu hanya impian kosong. Bahkan boleh dibilang, gagasan menjadi tuan rumah Piala Dunia hanyalah sebuah "upaya politis untuk mengalihkan isu keterpurukan prestasi sepak bola" kita. Itu mirip dengan kebiasaan politikus kita: yang suka mengalihkan sebuah isu dengan cara memunculkan isu yang lebih keren.
Siapa pun yang berakal sehat mahfum, ada banyak prasyarat untuk menjadi finalis Piala Dunia. Itu tidak sekadar kemampuan membangun stadion-stadion yang representatif. Soal itu, seperti Bandung Bondowoso yang mampu membangun Candi Prambanan dalam semalam, barangkali kita pun bisa dengan cepat membangun puluhan stadion berstandar internasional untuk keperluan penyelanggaraan Piala Dunia -tinggal kita panggil pulang saja semua buruh bangunan yang menjadi TKI di Malaysia, lalu menyuruh mereka siang-malam menyelesaikan pembangunan stadion. Hujan emas di negeri tetangga lebih punya nasionalisme bila menerima hujan batu di negeri sendiri. Begitu kira-kira (saya bayangkan) yang akan didengung-dengungkan oleh Nurdin Halid untuk memacu semangat para TKI agar cepat mudik dan mewujudkan gagasan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia. Pembangunan puluhan stadion itu akan membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan rakyat, dan kelak menambah devisa sekaligus meningkatkan jumlah wisatawan ke Indonesia, saat perhelatan Piala Dunia itu diselenggarakan.
Sebagai ''retorika politis'', semua itu memang menggugah dan menyenangkan. Retorika politis memang selalu berupaya mengatasi realitas yang ada. Ia sebuah upaya transendensi agar kita merasa memiliki sedikit kebanggaan. Tapi dalam retorika politis seperti itu pula, sesungguhnya kita menyadari adanya kegagalan yang ingin ditutup-tutupi dan disembunyikan.
Salah satu yang disembunyikan itu adalah prestasi. Alhamdulillah, sampai saat ini, sepak bola kita konsisten kalah melulu di level internasional. Padahal, salah satu acuan penting bagi terpilihnya tuan rumah Piala Dunia adalah prestasi. Ketika Korsel dan Jepang ditunjuk sebagai tuan rumah, itu adalah penghargaan atas prestasi sepak bola mereka, dan Asia. Korsel dan Jepang adalah representasi dari kemajuan persepakolaan Asia yang harus diberi tempat dan dicatat. Begitu pula Afrika Selatan sekarang ini, ia adalah representasi dari kemajuan sepak bola Benua Afrika. Sejak Kamerun dengan Roger Milla memesona dunia dengan mengalahkan juara bertahan Agentina (1-0) di pembukaan Piala Dunia Italia 1990, kemudian prestasi yang dicapai Nigeria, Ghana, dan negara-negara Afrika lainnya, seluruh penggemar sepak bola di dunia pun sepakat bahwa sudah sepantasnya wakil-wakil Afrika itu memperoleh penghormatan sebagai penyelenggara Piala Dunia. Itu menjadi wujud penghormatan dan apresiasi atas prestasi persebakbolaan benua itu.
Soal prestasi itulah yang berkali-kali kerap terlontar, kenapa PSSI kok susah sekali sih bikin prestasi? ''Kenapa kita sulit menemukan sebelas orang untuk menjadi tim nasional yang tangguh?'' Seorang kawan yang sinis menjawab, "Jangankan menemukan sebelas orang buat dijadikan pemain bola, menemukan seorang buat dijadikan pemimpin PSSI yang baik saja susahnya minta ampun!"
Tetapi, bukankah Ketum PSSI kita sekarang ini lebih hebat daripada ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), bahkan lebih hebat daripada presiden? Ketua KPK, karena tersandung masalah, bisa diturunkan dari jabatannya. Demikian halnya dengan seorang presiden. Dia bisa dilengserkan atau dimakzulkan seperti nasib Pak Harto atau Gus Dur. Tapi, Ketum PSSI? Sudah divonis terdakwa saja tetap bisa terus menjabat. Bahkan, sudah diselenggarakan Kongres Sepak Bola Nasional pun, dia tetap tidak bisa diganti.
Jangan-jangan itu juga bentuk ''kutukan'' lain yang mesti kita tanggung?
Dengan demikian, kita pun mesti menerima semua beban kutukan itu saat menyaksikan perhelatan Piala Dunia ini. Sembari bermimpi. Mimpi memang bisa menjadi kekuatan yang mampu mengubah dunia. Kita harus percaya. Meski seorang kawan yang pesimistis berkata, "Kesalahan kita adalah kita terus bersikeras bermain sepak bola di lapangan berumput, padahal tidak sesuai untuk kita. Permainan sepak bola yang cocok bagi kita adalah sepak bola lumpur. Coba perhatikan kalau perayaan Agustusan, rakyat bermain bola di lapangan lumpur dengan bahagia dan gembira, tak ada kerusuhan dan tawuran. Sepak bola lumpur seperti itulah yang cocok dengan mental agraris kita."
Bila kita mengembangkan sepak bola lumpur menjadi even berkelas dunia, mungkin kita memang bisa menjadi juara dunia. Kita pun terbebas dari "kutukan menjadi penonton abadi". Apalagi, sarana sudah tersedia. Kita bisa membangun lapangan di lumpur Lapindo yang luasnya lebih dari 75 lapangan bola. Itu juga bisa sejalan dengan gagasan Presiden SBY yang hendak menjadikan kawasan lumpur itu sebagai objek wisata. (*)
*) Agus Noor, penulis dan Ketua Dewan Syuro MUI (Manchester United Indonesia)
--------------------------------------------------------
Esai ini tayang di rubrik BolaKultura harian Jawa Pos edisi 10 Juni 2010.
Tag: agus noor, bola kultura
Terkait:
-
Komunis Terakhir
Minggu, 13 Jun '10 12:34 -
Keindahan yang (Sering) Tumbang
Jumat, 11 Jun '10 11:07
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Anak Siantar: Total Football
-
Politikabol: Playmaker
-
athar: Total Football
-
garislembut: Hattrick
-
3-4-3: Total Football
Komentar:
mantap bung!
keren esai nya bung, membuat saya semakin penasaran apa sebenarnya terminologi 'marwah' menurut rezim NH...
ngomong2 masalah NH yg ngotot ga mau mundur, ada satu lagi sosok yang sampai saat ini msh bertahan di induk sepakbola indonesia... NB. Dari jaman saya SD, nama dia udh bercokol tuh disana ampe skrg! hehehehe
Silahkan login untuk memberikan pendapat