Hati yang selesai 1

Rabu, 9 Jun '10 16:43

ketika mata di balas mata maka dunia akan menjadi buta” Sebuah ungkapan  yang menarik dari mahatma Gandi  tepat untuk mencerminkan keberadaan suporter sepakbola di indonesia. Sebuah kata “Dendam” menjadi sebuah pelegalan untuk melakukan kerusuhan.

Peristiwa penyerangan di solo diawali oleh dendam mereka dengan sekelompok suporter dari surabaya yang bernama BONEK. Sesudah peristiwa itu rentetan peristiwa kekerasan suporter berlanjut. Di semarang rombongan suporter dari jepara di serang di semarang oleh sekelompok orang. Kemudian ketika Pasoepati Tour ke solo ada sedikit kericuhan di prambanan yang isunya dilakukan oleh oknum suporter jogja. Kemudian ketika partai PSIM jogja melawan PSS sleman juga terjadi insiden kericuhan, dan beberapa kerusuhan di tangerang dan jakarta walau skalanya tidak sebesar di SOLO.

Obrolan dengan beberapa rekan rekan mengatakan kalau mereka melakukan itu atas dasar “eksistensi” sebuah kelompok suporter merasa akan diakui dengan melakukan itu. (semoga pandangan saya salah.) terlepas dari eksitensi diri, dendam juga menjadi alasan atas keributan itu, ada kubu kubu dalam suporter  yang akan terus menjadikan potensi kerusuhan demi kerusuhan. SOLO VS surabaya, surabay VS malang, Solo VS jogja, jakarta VS surabaya dan bandung, semarang VS jepara, Jogja VS sleman dan bantul, jakarta VS jakarta dan tangerang VS tangerang. Hff…. terlalu banyak potensi kerusuhan di sepakbola ini, jika memang dendam dijadikan alasan untuk ribut.

Potensi kerusuhan karena fanatisme yang luar biasa memang tidak bisal dihilangkan, sifat ingin menjadi nomor satu adalah kodrat dari manusia, namun  ada yang bisa kita lakukan untuk menandingi budaya anarki tersebut, menjadi suporter yang selesai. Selesai dalam hal ini adalah sikap keihlasan hati, legowo. Suporter dewasa yang terus menjunjung tinggi fair play. Bukankah itu yang ditanamkan dalam hal sepakbola, bagaimana inggris tetap legowo dengan gol tangan Tuhannya sang diego, padahal mereka terlibat dendam di perang malvinas.

Beruntung aku berhijrah jakarta ketika awal awal pasoepati berdiri, tahun 2000. Kemajemukan ibukota membuat kita memahami kalau kita berwarna – warni, ditambah lagi ketika bergabung dengan komunitas kenduri cinta (maiyah) yang secara jelas menghargai orang lain karena kita adalah MANUSIA, memang tidak ada hubungan antara pengajian kenduri cinta dengan sepakbola indonesia, tapi dari komunitas ini aku belajar “menyelesaikan hati” membuang segala macam dendam, dan mengisinya dengan cinta. Seandainya suporter bisa bermaiyah, yang ada bukan lempaar melempar batu tapi lempar dan melempar gurauan.

Kembali ke soal sepakbola. Akar permasalahan suporter sangat pelik untuk di urai, PSSI setidaknya punya andil besar dalam menciptakan konflik demi konflik, ini bukan sekedar pelemparan tanggung jawab atau pengkambing hitaman, badan otoritas ssepakbola tertinggi itu tidak tegas dalam mengatur segala macam rule tentang suporter. Ketika komisi disiplin menghukum bonek dengan 4 tahun laranagan menonton pertandingan komisi banding Mendiskonnya menjadi 2 bulan dan nantinya pasti mencabut sangsi itu.

Peran pemerintah juga bisa membantu dengan pelarangan demi pelarangan, ini bukan sekedar hak kepolisian untuk melarang sesuatu yang bepotensi terjadi keributan, namun juga shock terapi buat suporter sepakbola dan penyelenggara kompetisi untuk tetap bisa mengontrol diri. Inggris menerapkan sangsi tegas dengan menghukum warganaya yang melakukan kerusuhan dengan dilarang datang ke stadion seumur hidup.

Selain itu kedewasaan suporter sangat dibutuhkan untuk meminimalisir konflik, ini tidak mudah, karena cap “cengeng” akan dialamatkan kepada mereka, suporter yang tidak mau ribut. Pertemuan kelompok suporter di arus bawah juga harus sering di jalin, bukan hanya sekedar ketua kelompok suporter. Seorang ketua suporter tidak serta merta 100% bisa mengendalikan anggota kelompok mereka.

Untuk sepakbola indonesia, mari suarakan perdamaian.


Tag: gandhi, kenduri cinta

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kliping bola 0 0
sedih memang kalo melihat intensitas permusuhan antar suporter yang berbanding terbalik dg prestasi sepakbolanya. kalo kata temen saya, blm jg prestasi kok udah rusuh, mbok juara sea games dulu : ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat