HOLLANDA 4
Sabtu, 5 Jun '10 13:53
Munchen 1988. Dengan bantuan teman perwakilan Garuda di Frankfurt, ticket semifinal dan final Piala Eropa 1988 sudah ditangan. Perjalanan ini memang sudah dirancang jauh jauh hari untuk seorang mahasiswa seperti saya. Berbekal karcis kereta api terusan Eurollpass dari Den Haag melintasi perbatasan Jerman Barat. Seingat saya seharga US $ 200 ( dulu Rp 400,000,- ) kita bisa sebulan naik kereta ke seluruh penjuru Eropa Barat. Sepuas puasnya bolak balik. Karcis ini hanya bisa dibeli di negara asal turis , karena memang ditujuan khusus untuk pelancong. Murah dan meriah. Beramai ramai bersama teman teman dari Delft dan Leiden.
Semalam Marco Van Basten, pelatih Belanda pasti teringat gol legendarisnya 20 tahun lalu saat bersorak untuk gol volley yang dilesakan Wesley Sneijder ke gawang Italy. Memang tidak sedramatis golnya yang menghujam gawang Renat Dassayev. Dalam final Belanda melawan Uni Sovyet waktu itu. Nyaris tidak mungkin, dari pojok kanan - hampir sejajar dengan tiang gawang - tendangan volley first time lewat sudut yang sempit. Gol Van Basten ini sampai sekarang tercatat sebagai gol terbaik sepanjang sejarah disamping gol Maradona ketika melewati 9 pemain Inggris di Piala Dunia 1986 di Mexico.
Rinus Michels, pelatih tim nasional Belanda pada piala dunia 1974 di Jerman ( Barat ) waktu itu mengatakan sebuah komposisi team nasional yang ideal adalah klub juara liga nasional plus. Maksudnya membangun hubungan chemistry team tidak mudah. Sebaiknya team nasional dibentuk dari mayoritas pemain klub juara, dan plus beberapa pemain dari klub lainnya. Jadi team nasional Belanda 1974 adalah Ayax plus 2 atau 3 pemain klub lainnya. Saat itu Johan Cruiff, Neeskens, Rob Resenbrink, Ruud Krol, Johny Rep, Van Han degem, Keerkhof bersaudara mempesona dunia dengan permainan total footballnya. Beberapa pengamat mengatakan itulah team terbaik dunia selain kesebelasan Hongaria tahun 1954, Brazil tahun 1970 dan Argentina 1986. Hanya nasib sial, Belanda kalah di final melawan tuan rumah Jerman Barat.
Tapi itu dulu, ketika baru klub klub Spanyol yang sudah mulai memakai satu dua pemain asing. Sementara klub lainnya masih memakai seratus persen pemain lokal.
Jelas tak mungkin menerapkan metode itu sekarang. Juara juara liga di Eropa, umumnya sudah penuh sesak dengan pemain pemain asing. Bahkan Arsenal bisa sama sekali tidak memasang pemain Inggris asli dalam pertandingannya.
Jadi artinya tidak ada nasionalisme semu dalam sebuah sepak bola. Semangat kebangsaan sepakbola bisa kemana saja, selain bangsa sendiri melewati batas negara dan budaya. Karena tergila gila dengan permainan kolektif Ruud Gullit, Van Basten, Rijkard, Koeman, Van de Boer banyak orang Indonesia yang larut dalam teriakan teriakan supporter Van Oranje. Pada tahun 1913 di surat kabar De Express , Ki Hajar Dewantara sudah menulis Als ik eens Nederlander was, seandainya saya orang Belanda. But now we are the Dutchman. Siapapun bisa menjadi orang Belanda dengan modal kaos oranye dan terompet warna merah putih biru. Berdesakan bersama Margie, gadis Indo manado yang mooie dari Groningen di utara Belanda sana.
Ada yang bilang seandainya sepak bola bisa dijadikan agama, maka nabi nabinya seperti Pele, Cruiff, Maradona sampai Beckham dan Christiano Ronaldo akan membuatnya menjadi agama terpopuler di muka bumi. Ada prinsip prinsip demokrasi dalam sepakbola, yang tidak melihat gender, suku, ras, agama, dan afiliasi politik. Sekaligus bisa menjadi semangat pemersatu kebangsaan.
Saat Bambang Pamungkas dan team PSSI berlaga di Piala Asia tahun lalu. Keringat Islam, Kristen, Tionghoa, Betawi, Jawa, Muhamadiyah, NU bahkan siapa tahu Munarman juga bercampur dan larut dalam sorak sorai untuk setiap kejaran yang dilakukan pemain PSSI. Tak heran mengapa Gubernur dan Bupati dulu mengucurkan dana APBD untuk membangun klub sepak bola. Ada potensi suara rakyat disana. Vox Populi Vox Dei. Suara Tuhan adalah suara rakyat.
Dulu jamannya PSSI angkatan Iswadi Idris, setiap mereka akan bertanding di Senayan, jalanan mendadak sepi, dan orang orang cepat pulang dari kantor. Warung warung sudah dikerumuni yang ingin mendengarkan siaran langsung di radio. Karena jarang sekali siaran lewat televisi. Saya teringat suara bariton penyiar Sambas yang menyihir pemirsa dengan liputannya yang menegangkan.
“ Junaedy Abdilah menggiring bola dengan cepat..langsung dioper ke Andi Lala,..passing ke Risdianto..Ahhhhhhhhhhhhh…Sodara sodara, hampir saja ! “
Saat itu ibu saya selalu menyiapkan penganan , kopi teh untuk bapak dan teman temannya yang duduk setia mendengarkan siaran RRI ini.
Jangan salah, urusan bola juga bisa merembet ke rumah tangga. Perhelatan Piala Dunia atau Piala Eropa konon adalah saat saat yang dibenci para wanita dan istri. Sang suami tidak bergairah bicara topik lain kecuali sepak bola. Tidur cepat dan bangun tengah malam untuk begadang sampai pagi. Berteriak teriak, dan jika ada waktu senggang membolak balik koran yang membahas strategi setiap team.
“ I feel to be left out “ kata isteri seorang teman. Suaminya lebih mencintai Cesc Fabregas, gelandang elegan Spanyol.
Pimpinan negeri ini seyogya berterima kasih dengan Euro 2008, sehingga orang orang sudah kehabisan energi untuk meneriakan suara protes kenaikan BBM , harga dan issue issue lainnya.
Jadi wahai kaum wanita, jangan salahkan jika perhatian kekasih, suami dan pacar agak terbelah untuk sebulan ini. Jangan juga marah marah, karena para lelaki sangat sensitive dengan jatah tidurnya yang kurang.
Melihat Buffron termenung setelah gawangnya dibobol tiga kali oleh Belanda semalam, Saya tersenyum. Dit heft Marco Van Baten Geedan. Hanya Marco van Basten yang bisa melakukan. Mengalahkan Italy setelah 30 tahun. Perjalanan masih panjang, dari markas hotel mewah mereka – The Beau Rivage Palace – yang menghadap danau Geneve, van Basten masih harus meramu konsistensi team ini.
Saya tersenyum seolah de javu dengan gemuruh lautan oranye di bumi Bavaria 20 tahun yang lalu setelah Belanda menumbangkan tuan rumah Jerman Barat 2 - 1.
Tentu saja saya juga teringat Margie.
“ Alstublieft meisje..” dan dia mendekap saya. Erat erat tak ingin dilepaskan.
Terkait:
-
Menunggu perjudian Belanda
Selasa, 29 Jun '10 11:01 -
Pelatih yang Tak Pantas
Kamis, 8 Sep '11 13:06 -
La Orange Roja, Sebuah Kisah tentang Sejarah yang Terbalik
Minggu, 11 Jul '10 16:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Der Kaiser: Playmaker
-
garislembut: Hattrick
-
3-4-3: Total Football

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat