Yahudi dan Sepak Bola 3
Kamis, 3 Jun '10 20:50
26 September 1948, sekitar empat puluh ribu penonton stadion di New York – sebagian besar yahudi ,bersorak ketika gelandang, Shmuel Ben Dror ( 23 tahun ) membobol gawang kesebelasan tuan rumah Amerika. Walau akhirnya kalah 1 – 3, Itulah gol pertama kesebelasan nasional Israel, beberapa bulan setelah pembentukan negaranya. Shmuel yang bergabung dengan klub Hapoel Haifa, kelak akan mengingat peristiwa itu.
“ Sepak bola telah membentuk identitas kami “ kenangnya. Mereka berlayar ribuan mil menembus Atlantik untuk Israel Raya. Jauh tujuh belas tahun lalu Shmuel kecil mengingat ketika kesebelasan koloni mandat Inggris - tanah Palestina sekarang, yang terdiri dari bangsa Palestina dan Yahudi bertanding atas nama Eretz Yzirael melawan Mesir. Mereka dibantai 7 -1 dalam pertandingan di Kairo.
Shmuel tak pernah serius bermain bola lagi, karena menjalani wajib militer. Namun team team Israel tetap menjalani kompetisi lokalnya, ditambah dengan kembalinya orang orang diaspora dari penjuru Eropa yang bisa bertahan hidup dan membawa pemahaman sepakbola. Sebelum perang dunia kedua pada tahun 1920 –an, klub klub sepakbola Yahudi menjamur di penjuru Eropa, dari Budapest, Wina, Praha, Paris sampai Berlin. Hampir seluruh pemain nasional kesebelasan Hongaria atau Austria waktu itu adalah orang orang Yahudi.
Dalam klub klub mereka, memakai nama nama Ibrani yang nasionalistis, seperti Hagibor ( sang pahlawan ) atau Hakoah ( kekuatan ), sebuah klub paling kuat di Wina. Mereka sama sekali tidak berusaha menanggalkan identitas yahudinya. Mereka membawa nasionalisme sendiri, bukan nasionalisme Hongaria, Austria atau Jerman. Secara terang terangan mereka membawa semangat zionis dengan sulaman logo Bintang Daud di dada.
Sangat jelas bahwa ini doktrin politik. Kaum yahudi percaya bahwa gerakan sepakbola dan olahraga pada umumnya akan membebaskan mereka dari kekerasan dan tirani anti semit.
Ini memang sesuai dengan doktrin Muskeljudentum atau pembugaran Yahudi yang dicetuskan oleh Max Nordau, seorang pelopor zionis abad 20.
“ di perkampungan sempit kampung kampung ghetto Yahudi, tungkai tungkai kita lupa cara bergerak riang. Dalam kesuraman rumah rumah kita yang tak tembus matahari, mata kita terbiasa berkedip gelisah. Cemas akan penganiayaan yang datang mendera. Kelantangan kita menjadi bisik bisik resah “.
Nordau mengusulkan untuk membangkitkan semangat anti semit, orang Yahudi harus menyegarkan olah raga jasmaninya. Ia menghimbau agar warga Yahudi membangun fasilitas olahraga, karena olah raga akan meluruskan jiwa dan raga.
Tidak hanya ini saja. Kelompok businessman, pengacara, dokter, bankir berlomba lomba membiayai klub klub sepakbola, untuk menunjukan semangat pemberontakan yahudi. Hakoah, adalah salah satu klub sepakbola yang menjadi propaganda zionis. Mereka menggaji pemainnya mahal, hampir tiga kali lipat gaji buruh. Pelatih dari Inggris didatangkan untuk memberi teknik pelatihan.
Sebagaimana klub klub modern jaman sekarang. Hakoah juga melakukan tur selama musim panas. Di London, West Ham di taklukan. Ini pertama kali sebuah klub asal Inggris dikalahkan tamunya.
Selama perjalanan tur, alih alih memberikan cinderamata, klub justru melakukan propaganda zionis. Sebelum pertandingan mereka memberikan tiket gratis kepada komunitas yahudi sekitarnya. Para yahudi Lithuania di tepi laut baltik, dekat Russia rela menempuh perjalanan ber hari hari untuk melihat kesebelasan ini. Hanya pada tur tahu 1925 di New York, sebagian besar para pemain Hakoah menolak kembali pulang. Pesona peradaban Amerika serta minimnya sentimen anti semit membuat mereka memutuskan tinggal di benua ini.
Rasa pemberontakan ini membuat Hakoah menjadi icon perjuangan nasib. Setiap kemenangan Hakoah menunjukan inferioritas yahudi sudah berakhir. Mereka tak malu menunjukan identitasnya, bersorak sorai memadati stadion yang berkapasitas 18,000 orang di pinggiran kota Wina.
Pada masa pendudukan Jerman, klub klub ini habis, dan para pemainnya dikirim ke kamp kamp kematian. Sebagian yang selamat, pergi ke tanah Yudea di timur tengah membentuk kesebelasan baru.
Tahun 1960an, saat bangsa bangsa Arab belum bisa menendang bola. Israel menjadi salah satu kekuatan di Asia. Walau kesebelasan nasionalnya – dan atlet lainnya – dilarang datang oleh Bung Karno untuk mengikuti Asian Games 1962 di Jakarta, mereka tetap menjadi juara Asia tahun 1967. Setahun sebelum perang enam hari melawan negara negara Arab.
Israel memang akhirnya tak pernah bermain lagi untuk Liga Asia karena pengucilannya yang memaksa bergabung dengan Liga Eropa.
Walau jaman berubah sejak kebangkitan pemain pemain bola Yahudi dulu di Eropa sebelum perang dunia II, tetap saja sentimen anti semit masih dirasakan. Apa yang dialami pemain pemain Yahudi ketika dimaki warga Wina yang anti semit seperti drecskjude ( yahudi dekil ) atau Judensu ( babi yahudi ), kini terdengar di London.
Para pendukung lawan lawan Totenham Hostpur kerap mengejek klub ini karena lingkungan yahudinya. “ yiddo keparat “ dari kata Yid. Sebagaimana seperti ketika gang gang fasis London tahun 1930an yang sering melewati kampung kampung Yahudi dan berteriak, “ Mampuslah kaum Yid “.
Suporter Chelsea yang pendukung Yahudinya mungkin hampir sama dengan Totenham menyanyikan lagu
“ Hitler akan menggas lagi mereka, jika kami tidak dapat menghentikan yahudi yahudi Totenham.
Panggang, panggang Yahudi. Masukan ke dalam kuali sampai matang “
Tak ada yang bisa dimengerti justru para supporter Totenham yang sebagian besar bukan Yahudi dan sama sekali tidak pernah merayakan Bar Mitzvah justru memakai kata kita makian sebagai yel yel. Mereka berteriak teriak ‘ Yiddo Yiddo “ ketika pemain mereka membobol gawang lawan.
Dengar nyanyian mereka, ketika Jurgen Klinsman memperkuat klub itu.
“ chim-chiminee, chim-chiminee
chim chim churoo
Jurgen dulunya Jerman, Sekarang ia Yahudi “
Kini semangat pemberontakan tidak lagi digambarkan dalam pembentukan klub klub zionis seperti jaman dulu, tapi dengan memakai simbol Yahudi sebagai semangat perlawanan Totenham. Dalam sebuah pertandingan justru pendukung klub ini mendorong, orang orang yahudi yang menjadi supporter klub untuk membuka celananya dan memamerkan kemaluannya yang disunat. Untuk mengejek pendukung kesebelasan lawan yang tidak disunat.
Shmuel Ben Dror meninggal pada usia 84 tahun tahun 2009. Ia memang tak pernah sempat datang ke London untuk berteriak teriak “ Yiddo Yiddo “ bersama para hooligan Totenham yang menyebut diri mereka sendiri ‘ bala Tentara Yahudi “. Keanehan bahwa Identitas Yahudi telah menjadi identitas kesebelasan.
Ketika musim pertandingan tiba, jalan jalan sepanjang stadion di penuhi lapak lapak kaos – yang bukan dijual oleh orang Yahudi, memajang kaos kaos yang dijual. Bertuliskan “ YidForever “
Tag: Yahudi, Totenham Hotspur, Hakoah, Israel, Shmuel Ben Dror
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kliping bola: Hattrick
-
melkisedek bola: Informatif
-
laporan bola: Informatif
-
Tukang Wedang: Informatif
-
Pelangi: Informatif
-
Pangeran Siahaan: Informatif
-
3-4-3: Playmaker
-
ramaparasu: Hattrick

Komentar:
Max Nordau mulai mendapat kesempatan utk bicara soal Muscle Jews ini pada kongres kedua Zionis pada 1898. Dengan lantang ia blang: “We have to think of how to recreate a muscle Jewry.”
Momentumnya sudah didapat pada 1896 saat Olimpiade modern pertama digelar: atlet Yahudi mempersembahkan enam medal emas. Sejak itulah, orang-orang Yahudi makin percaya bahwa “tubuh bangsa Yahudi” tak kalah dengan “tubuh ras Arya”.
Ketika akhirnya negara Israel berdiri, sepakbola dan olahraga Israel tidak mencolok2 amat prestasinya. Tentu saja, di luar itu, banyak sekali atlet berdarah Yahudi yang berprestasi tapi membela bendera negara lain.
*jadi kepikiran beli jersey Liverpool no. 15 nih
Mimpi saya adalah mendukung timnas Indonesia main away ke Kuala Lumpur dan chant, "Indon! Indon!" ke arah suporter Malaysia usai Bambang Pamungkas mencetak gol
Bahkan timnas Indonesia berprestasi ketika ditangani pelatih berdarah Yahudi; Tony Poganic, Plosin/Urin
Silahkan login untuk memberikan pendapat