Tentang Suporter yang Ugal-ugalan 6

Senin, 31 Mei '10 15:18

Kemarin, usai laga Persija Jakarta versus Arema Indonesia, sejumlah televisi menayangkan berita kerusuhan dan/atau perilaku ugal-ugalan para suporter di jalanan Jakarta. Di situs jejaring sosial, misalnya twitter, saya menemukan dua ekstrim pandangan tentang fenomena di atas.

Pandangan pertama total menyalahkan para suporter sembari memuntahkan kemuakan dan kejengkelannya pada ulah para suporter yang dianggap sudah terlalu sering meresahkan. Pandangan kedua total menyalahkan pemberitaan di televisi yang dianggap terlalu membesar-besarkan ulah segelintir suporter dan menganggap televisi sama sekali tidak mau tahu betapa kedua suporter (baik suporter Persija atau Arema) ternyata bisa damai di dalam stadion.

Pandangan pertama tampaknya lahir dari sikap frustasi akibat terus-menerusnya muncul sikap ugal-ugalan para suporter. Di situ, mereka tidak mempersoalkan seberapa banyak atau seberapa parah ekses dari kerusuhan dan perilaku ugal-ugalan itu. Mereka hanya benar-benar bosan dan muak karena selalu saja ada suporter yang naik ke atas bus atau metromini, kadang mengintimidasi pengguna jalan yang lain, belum lagi soal pemalakan dan kepemilikan senjata tajam yang anehnya dibawa-bawa saat hendak menonton bola.

Sedikit banyak saya bisa memahami kejengkelan dan kemuakan mereka. Tidak semua orang menyukai dan mencintai sepakbola dan tidak semua orang paham dan mengerti seperti apa rasanya menjadi seorang suporter fanatik. Mereka memang tidak mau tahu itu semua. Mereka hanya ingin merasakan aman dan nyaman saat --misalnya-- pulang kerja mesti berpapasan dengan para suporter yang pulang dari stadion. Bahkan saya yang merupakan penggemar sepakbola dan fanatik dengan klub favorit saya, kadang bisa merasakan jengkel saat di jalanan berpapasan dengan suporter yang ugal-ugalan di jalanan, tanpa helm, menyalip dan menerabas lampu-merah semau-maunya.

Pandangan pertama ini, sekali lagi, bisa saya pahami, kendati --terus terang saja-- kadang pandangan ini juga tidak sepenuhnya tepat. Akan jauh lebih tepat jika mereka juga mempertanyakan kinerja aparat kepolisian yang -- sampai sejauh ini -- seperti terlalu memberi toleransi yang tinggi pada para suporter. Di beberapa kota, masih sering saya jumpai para suporter bisa seenaknya melaju di atas kendaraan tanpa helm, duduk di atas bus/metromini. Ke mana polisi? Tidakkah mereka -- para suporter itu -- tidak di atas hukum hanya karena mereka suporter sepakbola? 

Mungkin benar bahwa perilaku ugal-ugalan itu tidak hanya milik para suporter. Kadang para peserta pengajian juga tidak mengenakan helm dan seringkali berkonvoi dengan mengabaikan marka jalan, begitu juga para demonstran. Dan persoalannya sama: kenapa itu tidak dibiarkan? Kepada semua itu, mestinya tidak ada toleransi, jika dan hanya jika kepolisian memang ingin menangkal aksi-aksi kekerasan sedari dini.

Sementara pandangan kedua cenderung menganggap perilaku ugal-ugalan para suporter itu terlalu dibesar-besarkan oleh media, sementara situasi damai di stadion sama-sekali tidak diekspose.

Sembari mereproduksi kembali jargon-jargon klasik tentang sepakbola sebagai agama dan menonton sepakbola di stadion tak ubahnya sebagai ibadah atau sepakbola sebagai penawar konflik di daerah-daerah konflik, mereka tidak hanya menyalahkan aparat kepolisian yang kinerjanya tak serius tapi juga membawa-bawa kekisruhan di tingkal negara dan bangsa sebagai dalih untuk membangun pengertian bahwa (seakan-akan) perilaku ugal-ugalan suporter itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan sepakbola. Mereka sering mendengungkan fakta bahwa tidak adanya kerusuhan di stadion dan baru rusuh di luar stadion sebagai bukti yang tak terbantah.

Kepada pandangan macam itu, saya bisa mengajukan beberapa keberatan. 

Pertama, salah jika situasi damai di stadion sama-sekali tidak diekspos. Para suporter sudah diberi peluang untuk diliput secara khusus selama dua jam saat pertandingan berlangsung. Itu ruang yang sangat luas dan ekslusif sekali. Persoalannya adalah: kenapa harus situasi damai di stadion itu tidak berlanjut di luar stadion? Jika memang tidak mau diberitakan jelek, ya sudah jangan rusuh dan ugal-ugalan di luar stadion.

Kedua, mempertanyakan kinerja aparat keamanan yang tidak becus mengurusi para suporter di jalanan itu tepat. Penting untuk mendesak (misalnya Menpora) kepada kepolisian untuk sedari dini menangkal potensi ugal-ugalan para suporter sejak dari rumah mereka sendiri. Penting bagi kita untuk mendorong kepolisian menangkap dan menghentikan para suporter yang prilakunya di jalanan membahayakan diri mereka sendiri atau pengguna jalan yang lain. 

Tapi melulu mengeluhkan kinerja kepolisian membuat kita kehilangan momen untuk menyadari pentingnya memikirkan bagaimana agar para suporter itu tidak rusuh dan ugal-ugalan. Berdalih bahwa suporter yang ugal-ugalan dan sering rusuh itu adalah cermin dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga kacau dan rusuh (atau menunjukkan bahwa di negara yang maju sekali pun para suporter kadang membuat rusuh) hanya akan membuat kita tidak ubahnya aparat kepolisian yang memberi toleransi tinggi pada para suporter yang naik motor tanpa mengenakan helm.  

Akuilah bahwa memang banyak suporter yang ugal-ugalan dan kerap membuat rusuh. Akuilah bahwa sepakbola di sini masih sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari kesempatan merasakan bagaimana enak dan jumawanya menjadi bagian dari sebuah kerumunan raksasa. Akuilah bahwa komunitas-komunitas suporter memang belum mampu mengelola dan mengontrol para anggotanya. Akuilah bahwa di banyak tempat kerusuhan juga seringkali sudah berlangsung di lapangan. Akuilah bahwa di stadion pun nyanyian rasis masih dilantunkan dan lemparan botol aqua bukanlah pemandangan asing. Dengan mengakui itu kita bisa melangkah lebih baik dengan mencari jawaban atas pertanyaan: bagaimana agar mereka tidak rusuh lagi? Masak harus nunggu negara beres dulu agar suporter kita bisa tertib?

Sepakbola memang bisa mendamaikan. Ada banyak kasus dan contoh di mana perseteruan kelompok atau rasial bisa ditenangkan dengan sepakbola. Tapi, akuilah juga, bahwa dalam dirinya sendiri sepakbola sudah mengandung potensi kekerasan, sesedikit apa pun itu. Sejarah panjang sepakbola -- sejak era peradaban Maya -- cukup banyak menunjukkan hal itu.

Boleh-boleh saja menjadi pecinta fanatik sepakbola, boleh-boleh saja menganggap sepakbola sebagai agama dan menganggap stadion sebagai altar peribadatan agama sepakbola. Tapi marah karena ada pemberitaan atas adanya suporter yang rusuh atau ugal-ugalan hanya akan membuat kita menjadi seorang fundamentalis yang buta.

Mungkin benar bahwa tidak mungkin sepakbola tanpa adanya gejolak dan konflik. Kemiskinan mungkin tak akan pernah musnah dari peradaban, tapi tidak berarti upaya mengentaskan kemiskinan harus dilupakan, bukan?

Kita harus adil sejak dari pikiran, kawan.


Tag: Suporter, kerusuhan sepakbola

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kliping bola 1 suka | 0
Di dlm stadion damai bkn berarti ga ada potensi merusak. Damai sih damai, tapi kalo nyanyian penuh kata2 binatang msh aja muncul itu jg bukti kalo msh banyak yg kudu dibenahin.
ramaparasu 0 0
hehehe.. saya tebak2 deh, pasti follow @jsliberal atau @infosuporter? hehee...

apresiasi saya buat tulisan ini, objektif, bisa melihat dari dua sisi, walaupun di akhir2 kok rasanya lebih memihak pandangan pertama : D

tapi harus diliat juga mas, coba deh perhatiin semalem dan tadi pagi, entah kenapa beberapa televisi swasta dengan menggebu2 memberitakan bagaimana jakmania rusuh. tayangan itu diulang berkali-kali, mas. dengan durasi yang lama.

Tapi berita soal aremania yang damai dan gak meresahkan masyarakat Jakarta hanya ditayangin di dua televisi swasta saja. itu pun dengan durasi yang sangat singkat, dan tidak ada ulangan! beruntung saya sempat menyaksikan beritanya. apa tidak boleh menyalahkan media kalau begini keadaannya?

mungkin rumus yang dikasih dosen saya bener ya. bagi media, bad news is good news. : (
melkisedek bola 0 0
ramaparasu:

So, poinnya apa? Media massa lebih suka memberitakan yg buruk? Ah, memang sudah begitu kualitas pemberitaan di televisi kita. Tawuran mahasiswa di makasara atau pembubaran PKL juga sering bgt diberitakan toh? Jadi bukan sepakbola yg bikin mereka tertarik memberitakannya, tapi rusuh dan ugal-ugalannya. Atau Media massa ga akurat dan bener dalam pemberitaan? Ah, itu memang problem akut televisi kita.

Umpama diberitakan terus-terusan atau malah tidak diberitakan sama sekali apakah akan mengubah prilaku ugal2an? Ga, kan? Rusuh atau ugal2an tidak disebabkan berita.

Poin tulisan ini jelas: ulah ugal2an para suporter ga usah diberi toleransi. Setuju, kan?
3-4-3 0 0
kliping bola: poin yg tepat kawan : D
ramaparasu 0 0
melkisedek bola: setuju kok setuju. gak bisa munafik lah, di dalam kelompok suporter pasti ada yang jadi "provokator" yang suka mencari sensasi. Saya jadi ingat film Green Street Hooligans. Apa di Indonesia problemnya sama seperti di Inggris itu ya?
melkisedek bola 0 0
ramaparasu:

Mari kita kilas balik. Angka kerusuhan suporter itu sebenarnya tidak menurun, relatif stabil. Kalau kita lihat angka pertandingan yg harus delay krn kepolisian tdk memberi izin, angkanya malah makin naik.

Atau, mari kita lihat soal chant2 yg rasis, penuh makian dan kata binatang itu. Tahun 2004an itu belum ada chant2 yg bernada makian kasar dan binatang. Sekarang malah jadi kecenderungan di beberapa suporter.

Silahkan login untuk memberikan pendapat