Sepakbola ala Iñárritu 0
Minggu, 30 Mei '10 00:24
Seperti halnya video-iklan Nike berjudul "Take it To the Next Level" garapan sineas Guy Ritchie, video-iklan Nike tebaru berjudul "Write the Future" besutan sineas Meksiko, Alejandro González Iñárritu, juga ditutup dengan sebuah scene yang terbuka: adegan beberapa saat menjelang dilakukannya eksekusi tendangan bebas. Apakah tendangan bebas di kedua video itu masuk ke gawang? Tidak dijelaskan dan tidak digambarkan. Dua video-iklan berakhir tepat sebelum eksekusi tendangan bebas dilakukan.
Karena itulah dua video-iklan yang dibuat pada tahun yang berbeda itu sebenarnya punya pesan yang sama. Keduanya menawarkan sepakbola sebagai metafora atas terbukanya kesempatan di masa depan. Dua judul video-iklan itu menyiratkan hal yang sama, kendati judul punya Iñárritu lebih eksplisit dengan kata "future", sementara pada Ritchie masa depan digambarkan dengan kata "next level".
Video-iklan garapan Guy Ritchie sendiri lebih lengkap sebagai sebuah rangkaian cerita. Ia fokus pada satu tokoh, seorang pemain muda di Arsenal, yang mencoba bekerja keras menapaki karir di dunia sepakbola, dengan berlatih fisik, dengan menjajal pemain-pemain bintang, termasuk momen di saat sang pemain itu "disentil" oleh Fabregas karena gagal menjaga Ronaldinho. Tapi pemain itu, yang disepanjang video-iklan tak ditampakkan wajahnya, terus melaju dan akhirnya tampil di Piala Dunia memperkuat tim nasional Belanda. Sampai kemudian ia mendapatkan jatah tendangan bebas di luar kotak penalti.
Dengan tidak menampilkan wajah si protagonis, Guy Ritchie seperti menyodorkan sebuah kertas yang terbuka: Anda, siapa pun itu, bisa saja adalah orang yang menjadi protagonisnya. Guy Ritchie, dengan demikian, memberi ruang pada penonton untuk mengidentifikasi dirinya sebagai sang-protagonis. Ya, sebab sepakbola memang terbuka bagi siapa saja, siapa pun bisa menaruh mimpi di sana, tanpa pandang warna kulit, ras dan bangsa.
Dari segi keterbukaannya, video-iklan Take It to the Next Level jauh lebih membuka kemungkinan identifikasi ketimbang video-iklan "Write to the Future". Pada video-iklan yang terbaru, kemungkinan identifikasi itu lebih sempit ruangnya, barangkali karena memang bukan itu yang ingin digali oleh Iñárritu.
Pada video-iklan Iñárritu, alur cerita lebih terpecah, agak mirip seperti film Iñárritu yang berjudul "Babel". Keduanya sama-sama dibagi ke dalam empat fragmen dengan empat tokoh kunci yang berbeda. Pada fragmen pertama ada Drogba dan Cannavaro, pada fragmen kedua ada Rooney, Theo Walcott dan Ribery, pada fragmen ketiga ada Ronaldinho, dan pada fragmen terakhir ada Cristiano Ronaldo. Belum lagi beberapa cameo lain yang muncul sekilas, dari mulai Kobe Bryant, Roger Federer, tokoh kartun Bart Simpson sampai Gabriel Garcia Bernal (pemain yang sering muncul di film Iñárritu, dari "Amores Peros" sampai "Babel").
Dari empat fragmen dalam video-iklan Iñárritu, fragmen kedua dengan protagonis Wayne Rooney paling menarik perhatian saya. Di sana, elemen dalam sepakbola tampil lebih komplit di banding fragmen yang lain: dari bertahan sampai menyerang, mengontrol lalu menggiring dan mengumpan bola, berlari dengan atau tanpa bola. Bukan hanya itu, tema "Write the Future" juga terekspose dengan tetap memasukkan selera humor yang kuat terutama saat adegan di mana umpan Wayne Rooney kepada Theo Walcott berhasil dipotong Frank Ribery saat waktu pertandingan sudah memasuki menit ke-89.
Roo (panggilan kecil Rooney) digambarkan sempat tercenung, lalu berurutan muncul gambaran suram: rakyat Inggris kecewa, indek bursa dan pasar anjlok, tabloid-kuning memasang headline "England in Roo-Ins", lalu muncul Rooney menjadi tukang rumput, tinggal di lingkungan yang kumuh, lalu ia sendiri ke luar dari karavan dengan jenggot tak terurus serta tubuh yang gemuk. Membayangkan masa depan yang lusuh macam itu, Rooney langsung berlari cepat mengejar Ribery dan lantas melakukan tackle yang bersih. Gawang Inggris selamat. Lalu bermunculanlah gambaran indah: Rooney menerima medali dari Sang Ratu, tabloid memasang headline "Just Roo It", bayi-bayi dinamai Wayne, indek bursa dan pasar naik secara positif....
Di situ waktu di kepala Roo digambarkan seperti "berhenti", terpotong dari sekuen sebelum dan sesudahnya, menjadi sebuah "momen" yang mandiri, yang lantas Roo menyusun sejumlah pengandaian dan sekian kemungkinan, yang dari sanalah Roo lantas melakukan tindakan (dengan berlari mengejar Ribery dan merebut bolanya kembali) berdasar bayangan "ringkas-tapi-padat" atas sekian kemungkinan di masa depan itu.
Iñárritu seperti ingin mengatakan agar siapa pun memanggul nasibnya sendiri dan tidak melulu berharap pada bantuan dan tanggungjawab orang lain. Tentu saja bertahan bukan tugas Roo sebagai penyerang, karena toh ada bek yang sudah bertugas untuk itu. Tapi Roo, seperti biasanya ia bermain, tak pernah mau lepas tanggungjawab jika bola yang ia kendalikan berhasil direbut pemain lain. Sudah lazim melihat Roo mengejar pemain lawan hingga ke garis pertahannya sendiri. Jangan harap Messi, Ronaldinho, Ronaldo atawa Drogba melakukan itu. Tak ada pilihan bagi Iñárritu selain Roo untuk karakter yang mengisi fragmen kedua.
Tapi scene itu juga bisa dibaca sebagai --misalnya-- pesan bahwa kehidupan bisa saja ditentukan oleh sebuah momen yang jika kita tak awas dalam bersikap dan bertindak maka akan ada satu hal penting yang akan raib dan lenyap. Roo digambarkan oleh Iñárritu sedang membayangkan masa depan yang buruk (jadi miskin dan hidup di karavan yang berada di lingkungan kumuh dan becek) jika saja Robery berhasil bikin gol yang akan menyingkirkan Inggris. Roo tidak mau itu terjadi, dan ia pun bersikap, lalu bertindak.
Iñárritu saya kira tahu soal sepakbola, setidaknya riwayat karir Roo, karena Roo memang pernah jadi sasaran hujatan publik saat mendapat kartu-merah di Piala Dunia 2006 gara-gara menginjak kaki Carvalho. Maka, lagi-lagi, memang tak ada sosok yang lebih cocok selain Roo untuk fragmen kedua yang kaya akan gambaran kemungkinan di masa depan itu.
Bagi saya sendiri, yang tidak terlalu mengikuti iklan-iklan olahraga dan hanya menyaksikan beberapa di antaranya saja (itu pun tidak disengaja), video-iklan Iñárritu ini menarik karena elemen cerita benar-benar bisa masuk secara integral. Saya tidak bilang bahwa video-iklan olahraga lain tidak punya elemen cerita, tapi saya ingin mengatakan bahwa Iñárritu setidaknya telah berhasil memasukkan elemen cerita itu dengan halus, dengan pemahaman yang baik atas elemen-elemen dalam sepakbola, berikut tanpa alpa memasukkan unsur drama yang juga khas terpapar dalam film-film Iñárritu yang lain (banyak kritikus menganggap dramatisasi adalah ciri-khas Iñárritu, beberapa kadang malah menjadi melo-drama, seperti kritik oleh Erick Kohn atas film terbaru Iñárritu berjudul "Biutiful").
Bagaimana pun, ini iklan, sepenuhnya komersial, kendati sang-sutradara tampaknya diberi keleluasan yang memadai untuk mengeksplorasi ide. Lagi pula, di proyek komersial ini, Iñárritu tidak ditemani oleh penulis skenario yang biasa menjadi partnernya, Guillermo Arriaga.
-------------------------------------------------------------
Untuk melihat video-iklan Nike berjudul "Take It to the Next Level" garapan Guy Ritchie, Anda bisa melihatnya di bagian bawah ini:
Tag: iklan, nike, I rritu, rooney
Terkait:
-
Menumbuhkan "rambut" yang lain
Selasa, 23 Agu '11 16:48
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat