AC Milan 2009/2010... Review Singkat 4

Kamis, 20 Mei '10 01:38

 

AC Milan menduduki posisi ketiga pada klasemen akhir Serie A Italia. Mereka memulai musim dengan tanda tanya besar. Kenapa? karena mundurnya Carlo Ancelotti, pensiunnya Paolo Maldini dan hijrahnya Kaka serta ditunjuknya Leonardo sebagai manajer Milan. Leonardo tidak mempunyai track record sebagai pelatih dan Milan sendiri tidak melakukan belanja besar-besaran guna menutupi lubang yang ditinggalkan oleh Kaka. Pemain yang masuk pada awal musim hanya Huntelaar, Onyewu dan Thiago Silva. Selebihnya adalah pemain lama (yang rata2 sudah berumur) dan harapan diletakkan di pundak Ronaldinho dan Pato. Leonardo memilih taktik 4-3-3 sebagai formasi inti Milan, dengan trisula Ronaldinho-Pato-Huntelaar sebagai ujung serangan. Dikemudian hari trisula berganti menjadi Ronaldinho-Pato-Borriello. Berikut adalah review saya mengenai Milan:

Putaran Pertama Serie A dan Champions League 

Pada 18 pertandingan awal, Milan mengumpulkan 12 kemenangan, 4 seri dan 3 kekalahan. Kekalahan paling mencolok adalah pada saat derby melawan Inter 0-4. Kekalahan yang membuat mental para pemain jatuh dan para fans hilang harapan. Ronaldinho dianggap belum bisa menutupi kehilangan Milan akan Kaka, Huntelaar yang mandul dan inkonsistensi Pato. Pola 4-3-3 yang diusung Leonardo juga tidak berjalan sesuai harapan.

 

Titik balik terjadi ketika Milan mengalahkan AS Roma (2-1) dan puncaknya ketika Milan menumbangkan Juventus 3-0 dikandang lawan. Pada periode ini posisi Milan melesat ke posisi kedua dibawah Inter, dan dianggap sebagai kandidat scudetto. Kualitas permainan meningkat, dimana permainan Milan dianggap sebagai paling menghibur di serie A dan para pemain mulai menunjukkan kualitas yang sebenarnya. Salah satunya adalah Ronaldinho sebagai roh permainan dan raja assist, Pato sebagai sumber gol Milan, Huntelaar mulai menujukkan kelasnya, Borriello melejit sebagai bomber dan duet Nesta - Thiago Silva sebagai benteng dilini pertahanan. Selain kontribusi para punggawa Milan, Leonardo juga banyak memberikan kontribusi atas kebangkitan Milan. Salah satunya adalah dengan menerapkan taktik ofensif, yaitu 4-2-1-3, mengembalikan ketajaman Marco Borriello dan memberikan kepercayaan pada 2 pemain lokal di starting lineup; yaitu Luca Antonini (wing back kiri) dan Ignazio Abate (wing back kanan/winger).

 

Perjalanan Milan di Champions League pada putaran pertama penyisihan grup juga diwarnai kejutan, yaitu tumbangnya Milan saat menjamu tim anak bawang FC Zurich di San Siro (0-1). Dan ketika Milan mengalahkan Real Madrid di Santiago Bernabeu, 3-2. Madrid diperkuat oleh Ronaldo dan Kaka dan Milan berhasil mempermalukan mereka dan menunjukkan bahwa kepergian Kaka berhasil ditutupi oleh Ronaldinho dan wonder kid Pato. Milan mengumpulkan 2 kemenangan dan 1 kekalahan.

 

Putaran Kedua dan Hasil Akhir

 

Pada bursa transfer musim dingin, Milan kembali diperkuat oleh David Beckham, masuknya Amantino Mancini (sebagai pinjaman dari Inter) dan direkrutnya Dominic Aidiyah (Ghana U21). Aidiyah adalah salah satu pemain berbakat yang diharapkan dapat memperkuat sektor penyerangan. Putaran kedua dimulai dengan keperkasaan Milan mencukur Siena 4-0, ditandai dengan hattrick dari Ronaldinho. Modal yang bagus sebelum derby part II dengan sang tetangga  Inter Milan. Banyak pengamat yang menilai inilah saatnya untuk membalas kekalahan dan mengambil alih posisi puncak dari tangan Inter. Para fans Milan pun berharap demikian. Tapi apa daya, kembali Milan menelan kekalahan ditangan Inter 0-2, padahal Inter bermain dengan 10 pemain! Mungkin karena dibebani oleh ekspektasi tinggi dari para fans dan terlalu tegang, kualitas permainan Milan sama sekali tidak terlihat. Jarak poin di klasemen pun kembali melebar. Sama seperti putaran pertama, pasca kekalahan dari Inter dilanjutkan dengan kegagalan Milan mengalahkan dua lawan berikutnya (Livorno & Bologna) sehingga poin semakin melebar. Hantu cedera mulai silih berganti mendatangi kubu Milan, diantaranya adalah para pemain kunci seperti Pato dan Nesta. Milan berhasil memperkecil jarak dengan menumbangkan lawan-lawannya dan memanfaatkan inkonsistensi dari Inter. Milan memiliki kesempatan untuk melangkahi Inter, tapi ketika "jalan" sudah dipermudah (Inter kehilangan poin dari tim lain) Milan malah tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang ada dengan hanya bermain seri bahkan menelan pil pahit alias kalah. Periode ini ditandai juga dengan kebangkitan AS Roma dan menyalip Milan di posisi dua kalsemen. Milan mulai tertinggal dan terlihat inkonsisten serta mulai kelelahan. Menurut saya, cedera pemain dan tipisnya lapisan pemain yang dimiliki Milan adalah faktor utama yang menyebabkan penurunan kualitas permainan Milan. Faktor eksternal seperti renggangnya hubungan Berlusconi dengan Leonardo juga mempengaruhi situasi di ruang ganti Milan. Leonardo kerap disalahkan oleh Berlusconi atas memburuknya penampilan Milan. Di liga Champions prestasi Milan juga menurun. Mereka hanya mampu meraih hasil seri di putaran kedua penyisihan grup dan puncaknya disingkirkan oleh Manchester United dengan agregat 7-2! (2-3 dan 0-4). Sungguh sangat menyedihkan karena Milan memiliki prestasi yang jauh lebih baik dikancah eropa ketimbang MU. Sampai pada akhirnya Milan resmi dicoret sebagai kandidat scudetto (kekalahan dua kali berturut-turut dari Sampdoria dan Palermo). Leonardo semakin tersudut dan Berlusconi pun mengumumkan bahwa Leonardo akan meninggalkan Milan pada kahir musim. Jelas ini adalah bentuk pengusiran dari Berlusconi. Leonardo pun mengumumkan bahwa dia akan mundur sebagai manajer pada akhir musim dan dia mempersembahkan kemenangan ats Juventus 3-0 sebagai kado perpisahan. Milan pun hanya mampu duduk di posisi ketiga klasemen akhir.

 

Penutup

Milan 2009/2010:

SERIE A - Matches played: 38. Won 20, Drawn 10, Lost 8.
EUROPEAN CUPS - Matches played: 8. Won 2, Drawn 3, Lost 3.
COPPA ITALIA - Matches played: 2. Won 1, Lost 1.
TOTAL - Official matches 2009/2010 season: 48. Won 23, Drawn 13, Lost 12.

Sebagai fans saya sangat kecewa karena lagi-lagi musim ini dilalui tanpa gelar oleh Milan. Banyak yang menyalahkan ketidak becusan Leonardo sebagai pelatih kepala. Menurut saya, kesalahan terbesar ada pada pihak Berlusconi. Dia sudah tidak begitu serius mengurus Milan tapi mengharapkan prestasi tinggi. Realistis saja, materi pemain Milan sangat tipis dan tidak ada pemain besar yang masuk sebagai pengganti Kaka. Cedera pemain bisa diatasi jika Milan memiliki pemain pengganti yang sepadan! Para pemain terlihat kelelahan dan Leonardo tdk bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada penggantinya? Dalam opini saya seharusnya Leonardo yang harus diacungi jempol, karena dengan materi yang relatif sama dengan musim lalu, banyak pemain cedera; dia terbukti bisa menngangkat Milan dan sempat menjadi kandidat kuat scudetto. Seharusnya Berlusconi yang mundur, bukan Leonardo! Mungkin ada yang tidak sependapat dengan saya... Bagaimanapun juga saya ingin melihat Milan kembali berjaya musim depan, bukan sekedar "puas" dengan posisi-3 klasemen. Ingat Inter Milan sudah mengkoleksi 18 scudetto, melewati Milan yang hanya 17 scudetto. Beberapa tahun yang lalu Milan superior, sekarang?? Mudah-mudahan mereka bisa bangkit lagi... Kalo ada yang ingin diskusi mengenai AC Milan ajak-ajak yah :)

 

 

 

 

 


Tag: Serie A

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

melkisedek bola 0 0
Leo punya beban yang berat: stok pemain terbatas, mental yang belum pulih karena kehilangan Kaka-Maldini-Ancelotti dan intervensi terus-terusan dari Berlu dan Galliani. Pelatih muda mana pun, dengan situasi macam itu, sukar membawa prestasi.
r30diavolo 0 0
Betul boss...Leonardo tp berhasil ngeracik taktik attacking football dan posisi Mlan sempat jadi kandidat scudetto... Sayang Berlusconi ga bisa memberikan apresiasi atas kinerja Leo...
3-4-3 0 0
r30diavolo: attacking football menjadi wajar karena Leo berasal dari Brasil. Tapi rasanya dia berbeda dengan Guardiola yang sama2 berangkat sebagai rookie -- walau secara skuad Guardiola "lebih enteng kerjanya" hehehe
r30diavolo 0 0
3-4-3: ide penunjukan Leo sbg pelatih sdh pasti karena terinspirasi oleh Guardiola, rookie yg lgs menyabet enam gelar. Kerja Pep jauh lbh mudah karena materi yg dimilikinya berbeda jauh dgn Milan... yah spt anda bilang, lbh enteng : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat