Hikayat Diego Forlan 4
Kamis, 13 Mei '10 11:45
Saat Diego Forlan mencetak dua gol ke gawang Fulham di partai final European League semalam, saya sempat berpikir: adakah Sir Alex Ferguson menyesal telah melepasnya dulu?
Saya kira Sir Alex tidak menyesal. Ini bukan soal ketidakmampuan Sir Alex mengatrol kualitas pemainnya, tapi dalam sepakbola memang selalu ada hal-hal yang tak terjangkau aspek teknis di atas kertas. Kita bisa menyebutnya "ketidakberuntungan", kita bisa menyebutnya "ketidakcocokan" dengan iklim atau karakter kompetisi, kita bisa menyebutnya apa pun.
Yang jelas, pada saat Forlan bermain untuk MU, tim yang bermarkas di Old Trafford itu memang punya goal getter dengan kemampuan mengerikan: Ruud van Nistelrooij. Di bangku cadangan, mereka masih menyimpan Ole Gunnar Solksjaer yang hingga saat ia pensiun masih tak pernah kekurangan naluri membunuhnya yang terkenal itu, juga Louis Saha yang jika tak cedera jauh lebih produktif dari Forlan. Lagi pula, Sir Alex memang sudah cukup memberinya kesempatan, dan hasilnya tidak terlalu maksimal. Dari 98 penampilan di semua ajang, Forlan hanya mencetak 17 gol. Rata-rata, Forlan mencetak satu gol dalam 5,7 pertandingan.
Itu angka yang sangat minimal. Bukan cuma soal statistik, sepengamatan saya selama Forlan bermain untuk MU, akurasinya memang benar-benar rendah. Beberapa kali saya melihatnya mendapatkan peluang emas, tapi seringkali Forlan tak sanggup mengkonversinya jadi sebuah gol. Saya lupa lawan mana, tapi ada momen di mana gawang sudah kosong pun Forlan tak sanggup mencetak gol.
Menjual Forlan adalah pilihan yang logis, terutama demi menyelamatkan karir Forlan sendiri. Itulah yang terjadi. Begitu ia pindah ke Villareal, catatan golnya pelan tapi pasti merangkak naik. Pada musim pertamanya (2004-2005), ia bahkan langsung mencatatkan namanya bukan hanya sebagai El-phicichi (topskor) di Spanyol, tapi juga meraih sepatu emas (pencetak gol terbanyak) bersama Thiery Henry dengan nilai koefisien 50 poin. Rihan golnya sempat menurun pada musim 2005-2006 yang hanya mencetak 13 gol, tapi pada musim 2006-2007 raihannya mulai membaik kembali menjadi 21 gol.
Saat ditransfer ke Atletico Madrid pada musim 2007-2008, Forlan diberi beban yang tidak enteng: menjadi pengganti ikon Atletico, Fernando Torres, yang waktu itu hijrah ke Liverpool. Ini perkara gampang-gampang susah. Susah karena Torres adalah maskot klub, tapi gampang karena Torres sebenarnya tidak terlalu "mengerikan" saat bermain untuk Atletico, akurasi Torres masih minimal, dan ia juga sering membuang peluang.
Hasilnya juga fenomenal. Di musim pertamanya, Forlan mencetak 23 gol. Pada musim 2008-2009, Forlan mengulang prestasinya yang diraih di Villareal yaitu menjadi El-phicichi (35 gol) dan meraih sepatu emas Eropa dengan nilai koefisien sebesar 53 poin. Pada musim 2009-2010, raihan gol Forlan menurun (sampai hari ini) hanya menjadi 25 gol. Bedanya, Forlan berhasil memberi gelar European League untuk Atletico Madrid dengan dua gol krusialnya di final dan satu gol mematikan di semifinal yang menyingkirkan Liverpool.
Bagi Forlan sendiri, itu raihan yang pantas membuat bangga. Tidak banyak pemain yang bisa menjadi topskor di Liga Spnyol, apalagi merasakannya dua kali. Jauh lebih tidak banyak lagi merasakan gelar Sepatu Emas, apalagi jika itu juga dua kali dirasakannya. Buat saya, cukup jelas, Forlan adalah penyerang yang bisa dimasukkan ke dalam level A.
Dalam hal ini, insting Sir Alex benar saat ia membelinya dari Independiente. Sir Alex terbukti bisa mengendus bakat besar Forlan. Siapa yang kenal Forlan sebelum dibeli MU? Saya pun agak terkejut waktu itu. Hanya saja, Sir Alex memang gagal memaksimalkan potensi Forlan. Ada banyak faktor, tentu saja. Tapi bahwa Sir Alex telah menjualnya ke Villareal pastilah akan dikenang oleh Forlan, seperti juga Forlan mengenang bahwa Sir Alex pula yang telah membawanya dari Amerika Latin ke jantung persepakbolaan Eropa. Jangan heran jika sampai sekarang hubungan antara Sir Alex dan Forlan masih sangat baik.
Tag: diego forlan, sir alex ferguson, atletico madrid, villareal
Terkait:
-
Kuszczak Siap Hengkang dari Old Trafford
Jumat, 10 Jun '11 14:54 -
Fergie Puji Performa Rival MU
Minggu, 18 Des '11 10:54 -
Urung Beli Pemain, Fergie Jajal Pogba
Sabtu, 17 Des '11 08:29

Komentar:
yab forlan emang salah satu golgeter terbaik di liga spanyol, tapi tak di ikuti di timnas nya
rasarab: tentu kebutuhan dan dukungan di level klub dan timnas beda, tekanan juga beda. sudah biasa sih ada pemain yg bersinar di klub tp melempem di timnas, begitu jg sebaliknya.
Holligan: tapi dia pernah bertingkah waktu ngeyel sama fergie disuruh ganti sepatu ga gelem, hasilnya peluang matang meleset krn dia terpeleset. haha
Silahkan login untuk memberikan pendapat