Menanti Drama Piala Dunia 2010 4

Jumat, 5 Mar '10 08:51

Yunani menyerang balik dari sayap kanan, atau sayap kiri pertahanan Perancis. Seorang pemain Yunani dengan cerdik melewati fullback Perancis, dan bersiap melepaskan umpan silang ke tengah kotak penalti. Sementara itu pemain belakang Perancis agak gelagapan, tidak sempat menutup ruang tembak pemain Yunani untuk mengumpan silang. Dan ketika umpan silang dilepaskan, dengan cepat seorang pemain Yunani yang lain menyambar bola dengan sundulannya. Fullback Perancis yang lain terlambat, sementara kiper Perancis terhenyak. Pemain belakang Perancis semuanya melongo. Lepas sudah gelar juara Eropa yang mereka raih tahun 2000 lalu seiring dengan bersarangnya si kulit bundar ke sudut kiri atas gawang Perancis.

Peristiwa tragis sejak awal menyelimuti pertarungan putaran final Piala Eropa 2004. Satu persatu tim-tim besar bertumbangan. Pertama Spanyol, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Belanda. Tim Jerman bahkan tak pernah menang di setiap pertandingannya. Nama besar ternyata tidak bisa menjadi taruhan, karena kenyataan di lapangan berbicara lain.

                                                        ***

Menjelang final Kejuaraan Piala Eropa 2004, kita juga menghadapi putaran final yang tak kalah seru. Pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden, yang baru pertama kali dilaksanakan dalam sejarah Bangsa Indonesia, memasuki tahap kampanye dan sebentar lagi tahap pencoblosan. Sama seperti kejuaraan Piala Eropa, sebelum putaran final yang meloloskan 5 calon Presiden/ Wakil Presiden, dilakukan juga babak kualifikasi. Bedanya pemilu kita menyaring 5 dari 6 peserta, sementara Piala Eropa menyaring 50 negara se daratan Eropa dan hanya meloloskan 16 tim untuk bertarung di putaran final.

Sudah pasti mereka yang lolos ke putaran final adalah mereka yang berkualitas, dari sisi keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan. Entah bagaimana caranya, yang pasti mereka sudah ada di putaran final. Itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk melegitimasi kemampuan mereka. Suka tidak suka, penonton disuguhi tontonan 16 tim di putaran final Piala Eropa, dan lima pasangan di putaran final pemilu presiden/wakil presiden 2004.

Meskipun ada lima dari hanya enam calon yang masuk ke putaran final pemilu presiden, bukan berarti babak kualifikasi pemilu presidennya kurang berkualitas. Kalau 50 negara se daratan Eropa bertarung memperebutkan 16 ‘kursi’ di putaran final, sebelum pemilu presiden sudah dilakukan babak kualifikasi tahap I, yaitu pemilu legislatif. Pemilu legislatif kita menghasilkan tujuh partai yang ‘layak’ tampil, dari 24 partai yang ikut babak ‘kualifikasi.’

Tujuh partai inilah yang kemudian mencalonkan kadernya menjadi calon presiden, yang berarti seharusnya ada tujuh calon presiden. Ternyata ada satu partai yang tidak ikut dalam pertarungan pemilu presiden, sehingga hanya ada enam calon presiden di babak kualifikasi, dan kemudian 1 calon tereliminasi, sehingga calon presiden di putaran final menyisakan lima calon.

Jika Perancis sebagai juara bertahan bisa tersingkir di perempat final oleh Yunani, kita tidak bisa semena-mena menuduh Yunani atau Perancis bermain politik uang. Yang jelas terlihat di layar televisi kita, Yunani bermain dengan penuh determinasi, tak kenal lelah, mengejar semua pemain Perancis yang memegang bola. Tak diberinya kesempatan kepada Perancis untuk mengembangkan permainan, apalagi berinisiatif menyerang. Apapun yang dilakukan Perancis, Yunani berhasil meredamnya. Selain menumpuk 8 orang di kotak penalti, Yunani juga menerapkan strategi sapu bersih, dan tackling keras, sehingga Yunani kurang disenangi oleh penonton karena negative football yang mereka peragakan.

Tapi yang jelas pendukung Yunani berpesta pora.  Melenggang ke semi final, dan lalu terus ke final setelah mengandaskan Ceko, lalu ke Grand Final berhadapan dengan Portugal, sang tuan rumah. Sulit memprediksikan mana yang bakalan menang, waktu itu. Banyak kepentingan yang akan berperan, selain prestise karena bisa memenangkan gelar juara sepakbola di daratan Eropa. Pasar taruhan yang habis-habisan mempertaruhkan uang mereka, adalah juga faktor besar yang tidak bisa disepelekan. Seorang pemain Kolombia pada Piala Dunia 1998 lalu menjadi korban, ditembak mati oleh orang yang mungkin saja adalah petaruh kesal karena kalah taruhan.

Negative football, bertemu samba Eropa, paling tidak itulah gambaran partai final Piala Eropa 2004. Anda boleh mengecam Yunani karena negative football-nya menumbangkan kesebelasan kesayangan anda. Tapi itulah kenyataannya. Bola itu bundar, lapangan itu masih hijau, dan pergerakan bola dari kaki-kaki pemain menyusuri lapangan hijau sangat tergantung pada keputusan sang pelatih, strategi macam mana yang akan mereka pakai. Dan melalui skema yang hampir sama ketika menumbangkan Perancis, Yunani akhirnya menaklukkan Portugal. Sebuah sejarah yang mengejutkan dunia sepakbola.

                                                                  ***

Cerita heroik Yunani, dan sebaliknya kisah tragis Perancis, mungkin akan menghiasi drama Putaran Final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan nanti. Kalau Piala Dunia 2006 diwarnai dengan tandukan Zidane ke dada Materazzi. Italy akhirnya memenangkan Piala Dunia, dan menjadi juara dunia yang ke-4 kalinya. Kali ini, putaran final diselenggarakan di Afrika Selatan, negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia. Semoga drama yang muncul bukan dari kisah teror seperti pada saat Piala Afrika berlangsung.

Spanyol, mungkin bakal jadi favorit karena rekornya selama Piala Eropa dan setelahnya. Tapi Brazil dan Italy, tetap diunggulkan. Rekor Italy mungkin tidak seimpresif Spanyol selama Piala Eropa, bahkan selama kualifikasi Piala Dunia. Ini menimbulkan banyak kekhawatiran. Brazil, tetap jadi favorit mengingat kekuatan pasukannya. Hampir tanpa henti Brazil menghasilkan bintang-bintang lapangan, dan seringkali justru membuat pelatih bingung mana yang lebih didahulukan dalam tim utama mereka.

Tapi Brazil kini punya Dunga, yang diharapkan mampu mengatasi ego bintang dalam pasukan mereka. Italy kembali ke Marcelo Lippi, yang sukses membawa Italy juara dunia di tahun 2006. Spanyol, sedang on fire di bawah asuhan Vicente Del Bosque. Dan tentu kita tiakan melupakan ancaman tim-tim lain yang bisa saja membuat kejuta, seperti Yunani di Piala Eropa 2004. Drama apa yang akan muncul, mari kita tunggu tanggal mainnya.


Tag: Piala Dunia 2010, brazil, drama, Yunani, Italy, Spanyol

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
Drama pasti muncul, aku pilih Korut aja ah : D
melkisedek bola 0 0
3-4-3: sama. aku pilih korut. komunis terakhir di sepakbola : D
Anak Siantar 0 0
Hehehe.. fans Korut pada ngumpul disini : "Yang lolos dari grup ini adalah Brazil dan Korea Utara" -Jong Tae-Se-.. Ujung Tombak Korut

Hidup Korut....!!
r30diavolo 0 0
@all: nobar yukkk pas korut tanding... siapa tau kejutan bener2 terjadi

Silahkan login untuk memberikan pendapat