Ancelotti & Capello: pelatih tanpa "komisi" 2

Senin, 15 Feb '10 12:12

"Hidup adalah sekumpulan pilihan yang berisiko. Jika kita tak berani menanggung konsekuensi dari sebuah pilihan, tak layak kita menyebut diri sang pemimpin."

Mari kita iseng-iseng menyebut berapa banyak jumlah komisi independen di negeri ini. Nyaris semua bidang kehidupan memiliki lembaganya masing-masing. Baik itu yang resmi diakui alias masuk dalam struktur bermasyarakat dan negara, maupun yang sifatnya swadaya masyarakat tanpa cap resmi dari pihak yang berwenang.

Kasus yang paling besar dan paling mengemuka hari-hari ini, misalnya, dengan gagah menempatkan Pansus Century untuk menyelidiki kasus Bank Century yang kian hari kian pelik, berbelit-belit, dan tak jelas ujung-pangkalnya. Padahal, seharusnya, bukankah masalah itu bisa diselesaikan dengan mudah oleh para pejabat yang berwenang di sektor keuangan?

Mundur ke belakang, kita ingat betapa ingar-bingarnya fenomena Koin Pritta. Sebuah komisi independen yang bergulir otomatis berangkat dari rasa simpati masyarakat terhadap arogansi sebuah lembaga pelayanan kesehatan yang didukung penuh oleh perangkat hukum dan peradilan. Jika tak ada gerakan sejuta koin itu, niscaya kasus yang kontroversial ini tak kunjung selesai - meski bisa diselesaikan dengan santun dan berperi kemanusiaan oleh pejabat kesehatan dan pengadilan tanpa perlu membakar rasa ketidakadilan masyarakat.

Terakhir, lagi-lagi lembaga resmi yang semestinya menjadi andalan masyarakat terkesan lamban dan mandul dalam memfasilitasi penanganan terhadap Bilqis Anindya Passa. Kementerian Kesehatan baru tergerak membantu ketika gerakan Koin Untuk Bilqis makin membesar di facebook dan diangkat besar-besaran oleh Media. Kabarnya, dana yang terkumpul sudah mencapai 2 M - praktis tanpa bantuan dari institusi resmi yang seharusnya menjadi pintu pertama yang diketuk.

Mari kita renungkan, betapa banyak masalah di negeri ini yang bukan hanya tidak selesai, tapi bahkan tidak ditanggapi sebagaimana mestinya oleh pihak berwenang. Jika sebuah kasus membesar, jawaban pertama yang kerap kali mengemuka adalah... "Nanti kami cek terlebih dahulu." atau... "Masalah ini sudah kami koordinasikan dengan pihak-pihak terkait."... atau... "Pemerintah akan segera membentuk tim khusus, tim independen, tim penyelidik sehingga tahu persis duduk masalahnya."

Jika setiap masalah perlu penyelidikan, dengan membentuk komisi independen... lantas di mana peran lembaga dan pejabat terkait yang seharusnya bertanggung jawab atas masalah itu? Tidakkah mereka merasa wajib mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, tepat, dan akurat? Tanpa perlu mengalihkan tanggung jawab itu kepada orang atau pihak lain dengan alasan agar obyektif dan menyeluruh? Bukankah penunjukkan seseorang menjadi pemimpin sudah memperhitungkan kemampuannya menyelesaikan krisis tanpa terlalu banyak membebani orang atau pihak lain?

Meski mengambil sikap yang berbeda, Carlo Ancelotti dan Fabio Capello sama-sama menunjukkan keteladanan bagaimana seharusnya bersikap sebagai leader dalam menyikapi kasus yang menerpa John Terry. Mencari tahu duduk soal yang sebenarnya, memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai pertimbangan, menimbang segala situasi yang akan dihadapi, lantas dengan tegas mengetukkan palu keputusan. Adil atau tidak, itu relatif. Tergantung dari sisi mana sebuah persoalan dilihat.

Ketika kasus perselingkuhan Terry terungkap di media, Ancelotti tanpa pikir panjang - dan tanpa perlu membentuk tim pencari fakta, dengan tegas mengatakan tak akan mencopot posisi mapun ban kapten Terry di tim asuhannya Chelsea. "Saya tak peduli dengan urusan pribadi para pemain," tegas Ancelotti. "Bagi saya, yang penting adalah bagaimana mereka berlatih dan bermain sebagai pemain sepak bola." Sebuah keputusan yang diambil berdasarkan kewenangannya sebagai pemimpin di Chelsea. Keputusan berani yang didasari pertimbangan matang dan terbukti efektif meredakan ketegangan dalam tim.

Lain Ancelotti, lain pula Capello. Meski sama-sama berasal dari Italia, keduanya memiliki sikap berbeda - bahkan bertolak belakang. Capello sejak awal menegaskan akan mengevaluasi kembali posisi Terry dalam tim nasional Inggris. Posisi sentralnya sebagai kapten tim, inspirasi permainan, dan tokoh yang dituakan akan menghadapi tekanan luar biasa besar dari media dan masyarakat. Setelah berbincang empat mata dengan sang kapten, Capello menegaskan mencopot ban kapten dari lengan kapten demi kepentingan yang lebih luas. Tak ada protes, tak ada riak, semua menerima dengan baik keputusannya.

Kita, bangsa Indonesia, sepertinya sangat merindukan pemimpin-pemimpin yang bukan hanya tegas dan berani, tapi juga tahu diri. Tapi, entah kenapa sebuah persoalan yang sudah jelas solusinya pun tak kunjung bisa diselesaikan. Sebutlah persoalan prestasi sepak bola kita yang tak kunjung membaik. Tuntutan reformasi, bahkan revolusi, selalu mengemuka begitu Tim Merah Putih terjerembab di lapangan hijau. Tapi, ujung-ujungnya ya tetap dipercayakan kepada banyak komisi, lembaga, komite, atau bahkan perorangan untuk mengkaji apa yang sesungguhnya terjadi, bagaimana mengatasi persoalan secara holistik, baru kemudian nanti dirumuskan bersama-sama. Ingat, itu belum implementasi dalam aksi nyata lho...

Tentu saja besaran dan level masalah-masalah yang disinggung di atas jelaslah amat jauh berbeda. Tapi, ada satu benang merah yang bisa diambil dari gambaran di atas... bahwa diperlukan pemimpin yang berani dan tegas mengambil keputusan yang cepat, tepat, akurat tanpa berlama-lama membuang waktu dan energi dengan menunggu rekomendasi komisi penyelidik yang belum tentu akan digubris juga...

Sebuah masalah bisa selesai jika ada upaya besar dari para pemimpin yang diberi kepercayaan sebagai "sang lebih"... lebih tahu, lebih pintar, dan terutama... lebih bijak...

* foto diambil dari www.telegraph.co.uk

 

 


Tag: Chelsea, Ancelotti, Capello, Terry, Timnas Inggris

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
Capello bekerja spt psikolog, dia pernah bilang gitu. Ancelotti sebagai pemimpin. Mungkin kalu Ancelotti di timnas Inggris, dia akan ngambil keputusan sama. Perbedaan level klub dan timnas yang bikin kepuutusannya juga beda.
laporan bola 0 0
Capello tetap favorit saya. Sayang, sejak ia pakai kacamata, kegarangannya jadi berkurang, tidak seperti waktu memimpin AS Roma... : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat