Ketika Uang Berkuasa 5

Senin, 21 Des '09 02:57

Semenjak Roman Abramovich masuk ke Chelsea dengan karung uangnya awal 2000-an, (industri) sepakbola memang sudah berubah wajah. Bukan soal perubahan dari budaya spirit olahraga menjadi kapitalis, tetapi lebih kepada membabi buta pada kekuatan uang.

Apa yang dilakukan Abramovich, si yahudi bergelimang minyak mentah dari Rusia, sebenarnya anomali. Dia hanya menyuntikkan dana segar lebih dari 200 juta pounds di awal saja, termasuk untuk membayar hutang Chelsea yang menggunung, sebelum kemudian tak lagi membabi buta memborong pemain -- meski faktor ini pun dipengaruhi oleh stok pemain bagus yang mulai menipis.

Tetapi keberhasilan Abramovich dengan dua gelar juara Liga Premier beruntun pada 2004 dan 2005 menyilaukan banyak kaum kapitalis. Kesuksesan itu dianggap sebagai benchmark bahwa uang bisa "membeli" gelar di Inggris.

Tak heran, rombongan konglomerat dunia mulai masuk ke Liga Premier Inggris. Bahkan invasi kapitalis pun menyerang pula Manchester United, Liverpool dan Arsenal. Kini bersama Aston Villa, Birmingham City, West Ham United, Portsmouth dan Manchester City, seluruhnya dimiliki oleh para pebisnis asing.

Tak ada yang salah dengan kehadiran orang borjuis itu. Yang tak pada tempatnya adalah bagaimana mereka memperlakukan pelatih. Kasus terbaru dialami oleh Mark Hughes di Man. City. Pelatih berdarah Wales itu dipecat meski baru menuai dua kekalahan di liga, sudah berhasil memukul Arsenal dan Chelsea serta meloloskan tim ke semifinal Piala Carling.

Hughes mungkin belum terbukti sebagai pelatih bagus, meski juga tak bisa dibilang jelek. Tapi apa yang dibuat Hughes hingga 17 partai liga musim ini cukup positif. Dengan mayoritas pemain baru di dalam skuad, Hughes tentu butuh waktu. Tak ada yang instan.

Lagi pula, mantan penyerang Man. United dan Chelsea itu untuk sementara menggenapi target awal manajemen dengan berada di posisi enam besar. Rasanya, enam besar bakal bisa diamankan City hingga akhir musim melihat buruknya kinerja Everton dan Liverpool di musim ini. Hughes pun tak pernah mendapat ultimatum di tengah jalan.

Pemecatan terhadap Hughes mengundang simpati dari para koleganya di Asosiasi Pelatih Liga Inggris (League Managers Association - LMA). LMA menuduh pemilik City, konsorsium bisnis dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sengaja mengubah target dari enam besar menjadi empat besar di tengah jalan, secara diam-diam, hanya karena sudah merogoh kocek lebih dari 150 juta pounds untuk belanja pemain di musim panas.

Sikap para sheikh itu sudah sejak lama dikeluhkan para pelatih di Inggris. Mereka dianggap tak punya budaya sepakbola. Mereka tak paham bagaimana sepakbola menjadi industri tanpa harus meninggalkan sisi humanisnya. Membangun prestasi tak bisa dilakukan secara sekejap. Seperti apa yang dikatakan oleh bekas pelatih West Ham, Alan Curbishley, sepakbola adalah soal etos kehidupan, semangat dan kerja keras terus menerus. Tak ada kamus instan di sepakbola.

Para orang kaya dari Abu Dhabi itu lupa bahwa Chelsea pun kemudian mendapat resistensi dari para pemain sendiri agar tak terlalu sering memecat pelatih. Chelsea juga tak hanya melakukan investasi pada skuad, tetapi juga memperkuat pondasi klub pada sosok direktur pengelola, direktur olahraga dan sebagainya, termasuk membangun skuad usia muda.

City juga tak belajar dari tim mapan seperti Arsenal yang tetap percaya pada kemampuan Arsene Wenger kendati sudah empat tahun tak juara. Bahkan Liverpool yang tengah tak jelas masa depannya, seperti yang diklaim bek Fabio Aurelio, tak jua memecat pelatih Rafael Benitez.

Pemecatan pelatih bukan jalan keluar cespleng. Tim justru harus memulai lagi dari awal untuk memahami cara main pelatih baru. Dan ini pasti butuh waktu. Dalam kasus City, performa tim yang positif, meski lebih sering menuai hasil imbang karena pertahanan yang kurang kokoh, justru bisa runtuh akibat guncangan pergantian pelatih.

City seperti berjudi. Mereka sudah benar dengan mengincar enam besar di akhir klasemen dan baru mengejar empat besar di musim berikutnya. Tapi pergantian Hughes kepada Roberto Mancini justru bisa mengacaukan target itu. Mancini memang bukan pelatih jelek, setidaknya jika dibandingkan dengan Hughes, tetapi sang Italiano bukan tak mungkin bernasib sama dengan pendahulunya di masa depan bila perjalanan awalnya tak mulus. Sebab kini uang sudah menjadi segalanya.


Tag: Liga Inggris, Manchester City, Mark Hughes, Uni Emirat Arab

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Der Kaiser 0 0
gimana kalo City dibeli Nurdin Halid ya ?
3-4-3 0 0
Der Kaiser: memangnya NH punya duit? : p
Tegarmaji 0 0
waktu jaman kuno manusia diperjualbelikan sebagai budak,
jaman modern manusia 'diperjualbelikan' sebagai pemain bola
harrie 0 0
tim yang dibentuk secara instan walaupun berisi pemain mentereng, harus membenahi mentalnya juga, unk mengasah mental, agar jadi juara ga bisa secara instan harus punya proses.
3-4-3 0 0
Tegarmaji: lima tahun terakhir atau mungkin satu dekade, trafficking pemain bola sedang booming...terutama oleh agen2 palsu dengan jumlah korban terbanyak dari Afrika.

Silahkan login untuk memberikan pendapat