Unique, but unwanted 2
Selasa, 1 Des '09 19:39
"He is known for being a pacey striker with great technical ability who can play anywhere along the front line. He is also known as "SuperMario Balotelli". He is also considered a very good set-piece taker, and is regarded as one of the game's most promising prospects for the future, featuring in the international football press."
Begitulah paragraf pembuka yang kita temui saat membaca profil Mario Balotelli di situs wikipedia. Sederet kalimat penuh pujian bagi striker Internazionale Milan yang pada tanggal 12 Agustus lalu baru merayakan ulang tahunnya yang ke-19.
Ya, dalam usia sebelia itu, pemain keturunan Ghana yang lahir dan besar di Italia ini sudah ditempatkan dalam posisi yang sedemikian tinggi. Pemain masa depan yang menjanjikan pemenuhan potensi gilang-gemilang untuk tim yang dibelanya.
Catatan perjalanan pemain setinggi 189 cm ini penuh guratan tinta emas. Saat baru berumur 15 tahun, dia telah mampu menembus tim senior Lumezzane yang berlaga di Serie C1. Aksi memikat yang membuat inter Milan meminjam dan kemudian membelinya pada 2006 setelah sukses menjalani tes ketika memperkuat Inter U-17 dan U-20. Padahal, umurnya belum genap 16 tahun!
Sinar Balotelli makin mencorong saat menjalani debut di kompetisi terbaik di Italia pada musim 2006-07. Tidak sekadar tampil, striker yang memiliki kemampuan teknis sangat komplit ini mampu membobol gawang Juventus dua kali dalam partai resmi dan memberi kontribusi penting pada pencapaian scudetto I Nerazzurri musim itu. Peran vital yang terus dipertontonkannya di musim 2007-08 dengan pencapaian serupa: gelar juara liga.
Sayang, potensi muda nan menjanjikan Balotelli kini sedang terantuk kerikil tajam. Adalah mentornya sendiri, Jose Mourinho, yang menjadi "penghalang". Pelatih Inter Milan yang terkenal tegas, keras, dan tanpa kompromi itu tak segan membangkucadangkan dan bahkan mencoret nama Balotelli dari daftar nama pemain andalannya.
"Sejauh yang saya tahu, pemain semuda Balotelli tidak boleh berlatih lebih sedikit dan lebih ringan dibandingkan dengan para pemain senior seperti Javier Zanetti, Ivan Cordoba, atau Luis Figo," begitu suatu kali Mourinho berujar tentang the most promising talent di Inter itu.
Rupanya Mourinho tak menyukai attitude Balotelli yang dianggapnya sering di luar batas toleransi. Terutama justru pada kesadaran Balotelli yang tahu persis betapa dahsyat talenta yang dimilikinya. Kesadaran yang justru mendorong terciptanya sikap arogan, kurang menghargai pihak lain, dan sulit sekali diatur serta lebih mementingkan kepentingan diri sendiri.
Di lapangan, etos semacam itu terwujud dalam karakter keras cenderung kasar jika sedang dalam keadaan tertekan. Bereaksi keras saat dilanggar lawan, mudah memprovokasi lawan, dan bahkan tak jarang berbuat kasar sehingga memaksa wasit mencabut kartu kuning atau merah. Beberapa kali Inter dibuat rugi dengan kepergian Balotelli akibat dihukum wasit.
Situasi makin memanas ketika baru-baru ini Balotelli secara terang-terangan mengaku sebagai Milanista - fans fanatik AC Milan yang notabene adalah seteru terhebat Inter. Komentar yang mengundang kecaman dan antipati. Masih belum cukup, anak muda ini juga tak enggan meminta perpindahan ke klub lain karena merasa tak dipakai di Inter.
Soal bakat, Mourinho - dan nyaris semua pelatih yang mengenal permainannya - angkat dua jempol untuk keistimewaannya. Tapi, soal perilaku, rata-rata memiliki minimal satu nasehat untuk anak muda yang dipersepsikan sebagai pribadi labil yang belum siap menjadi dewasa ini.
Santer terdengar, kini Balotelli berusaha keras membujuk Inter mau melepasnya ke Arsenal. Sosok Arsene Wenger yang dikenal piawai mengentaskan pemain muda menjadi bintang rupanya menarik minat Si Bengal Balotelli. Siapa tahu di tangan Wenger, kebengalannya tak perlu menghalangi ambisinya menjadi pemain hebat.
Kehebatan seseorang biasanya diikuti keunikan tertentu yang kadang sulit dipahami oleh orang biasa. Makin berbakat, makin "aneh" kelakuannya. Ada yang mampu menyingkirkan halangan itu untuk masuk ke dalam deretan orang besar, ada juga yang akhirnya pudar dan akhirnya tenggelam karena gagal berdamai dengan keistimewaannya yang tak bisa diterima pihak lain.
Mari kita tunggu ke arah mana Balotelli akan melangkah...
* Foto diambil dari www.offthepost.info
Tag: Inter Milan, Mourinho, Balotelli
Terkait:
-
Ferrari, hedonisme, kita...
Senin, 26 Okt '09 16:58 -
Lecce 1 - Inter 0
Senin, 30 Jan '12 15:24 -
Era Baru Inter Dibawah Gasperini
Jumat, 8 Jul '11 14:23
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Informatif
-
melkisedek bola: Total Football
-
NuigeL: Total Football

Komentar:
Tapi di MU, dia akan lebih matang meski harus menunggu sekian masa seperti kebiasaan Alex Ferguson dalam menurunkan pemain dalam suatu laga.
Tentu saja, ada banyak pemain yg bisa moncer dg temperamen yang labil sekali pun, dari Gazza sampai Maradona, misalnya. Tapi, untuk sampai ke level dua pemain macam itu, Balotelli jelas harus bekerja keras, dua kali lebih banyak. Dan itu, hanya bisa dilakukan, dengan sedikit mengerem temparamen.
Sukar membayangkan ada pemain muda yg bisa berkembang pesat di bawah tekanan boo fans lawan dan teror media di setiap pekan. Perkecualian jika dia seorang dengan mental yang sangat brkualitas.
Tapi justru pada mental itulah masalah Balotelli!
Silahkan login untuk memberikan pendapat