Mencari kambing hitam 1

Senin, 30 Nov '09 12:41

Sepakbola, kabarnya, adalah salah satu dunia yang dekat dengan keadilan. Siapa yang bermain lebih baik, biasanya dialah yang berhak menjadi pemenang. Tim yang bisa mencetak gol lebih banyak secara sah dianggap sebagai yang lebih baik di antara kedua tim yang berlaga. Benarkah demikian?

Bola itu bundar. Demikian kata pepatah untuk menggambarkan betapa arah sebuah bola bisa bergerak liar entah kemana. Ada sekian banyak kemungkinan ketika sang bola bergerak dari posisi asalnya. Bisa lurus ke depan, agak melengkung ke samping, keras menghentak, pun halus menggelinding. Persis seperti itulah para pelaku permainan ini menempatkan hasil akhir. Sangat mudah dipelintir sesuai kepentingan sang subyek.

Bahkan skor mencolok 0-3 pun masih bisa dipelintir menjadi frase yang sangat bias: "tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya di lapangan". Itulah yang dikatakan Profesor Arsene Wenger mengomentari kekalahan Arsenal dari Chelsea pekan lalu. Alih-alih melakukan self critic terhadap penampilan labil anak asuhnya, Wenger justru lebih suka mencermati kepemimpinan wasit.

Di menit ke-48, gol yang dicetak Andrey Arshavin dianulir wasit dengan kategori pelanggaran "dangerous play". Sebelum bola diceploskan ke gawang Chelsea, Eduardo dianggap secara tidak sah dan membahayakan lawan saat mencocor bola lepas dari penguasaan kiper Petr Cech yang lantas diumpankan kepada Cesc Fabregas yang dikonversi menjadi gol oleh Arshavin.

"Skor 2-1 sangat penting dalam pertandingan seperti ini," sungut Wenger. "Itu sebuah kesalahan besar yang dilakukan oleh wasit," lanjut pelatih yang memang kerap melontarkan komentar keras ini sambil meminta dilakukan pengujian terhadap "video replay". Bagi Wenger, jika gol itu disahkan, belum tentu Chelsea yang dinilainya bermain terlalu bertahan bisa menang sebesar itu di Emirates Stadium, kandang angker milik Arsenal.

Sikap serupa dipertontonkan oleh Manuel Pellegrini usai Real Madrid kalah tipis 0-1 dari rival utamanya Barcelona. Gol cantik Zlatan Ibrahimovic menuntaskan episode akbar partai bertajuk El Classico tersebut sekaligus mengantarkan El Barca kembali memegang tampuk klasemen sementara La Liga Spanyol yang sepekan sebelumnya dicuri oleh Real Madrid.

"Hasil seri lebih adil untuk kedua belah pihak," kata Pellegrini usai laga menarik tersebut. "Kami sangat superior. Mereka tidak melakukan tendangan dan serangan sebanyak itu. Di sisi lain, kami memiliki banyak 'clear chances" - mulai dari Cristiano Ronaldo sampai Marcelo. Bedanya, mereka mencetak gol terlebih dulu sementara kami gagal memaksimalkan peluang."

Pellegrini merasa bahwa timnya melakukan lebih banyak hal ketimbang Barcelona. "Kami kecewa tidak mendapatkan hasil akhir sesuai harapan. Kami cukup sering menekan mereka, mempertahankan level permainan, dan melancarkan banyak serangan berbahaya. Sayang, hasil akhir tak berpihak pada kami."

Hasil akhir yang mengecewakan juga membuat Ciro Ferrara menuding wasit sebagai biang keladi. Ketika timnya tertinggal 0-1 dari Cagliari, sebuah pelanggaran keras terhadap Amauri luput dari pengamatan wasit. Bukannya hadiah penalti yang didapat, Juventus malah menerima kartu kuning akibat reaksi dan protes keras yang dilancarkan Amauri.

"Saya selalu mengatakan bahwa kami memang pantas menerima semua kekalahan yang kami derita musim ini," kata Ferrara. "Tapi, tidak untuk hari ini. Kami tidak pantas kalah dari Cagliari karena kepemimpinan wasit yang tidak becus."

Kekalahan tetaplah kekalahan. Apapun alibinya. Bahkan Republik Irlandia dan Timnas Inggris pun harus menelan pil pahit dengan mengakui hasil akhir yang membuat mereka tersingkir dari Piala Dunia meski ada pengakuan bersalah dari Thierry Henry dan Diego Armando Maradona atas gol ilegal yang mereka cetak. Tak ada gunanya berlama-lama dengan kemarahan yang memuncak atas sebuah episode hidup yang tak bisa dikoreksi.

Jauh lebih penting untuk memastikan bahwa tidak ada satu kesalahan sedikit pun sehingga hasil akhir tak perlu digugat. Dalam konteks itulah sepakbola akan menunjukkan sisi keadilannya. Sepakbola memang adil, asal... tak membiarkan satu faktor penghambat pun dibiarkan muncul untuk menghambat sang keadilan terwujud dalam hasil akhir...

* foto diambil dari www.bigsoccer.com


Tag: Juventus, Real Madrid, arsenal, barcelona, Chelsea, Cagliari

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
1. Arsenal vs Chelsea; gol arshavin memang harus dianulir. eduardo mencuri bola tepat di saat bola berada dalam genggaman petr cech. Dan wenger lupa, bulan Mei di tempat yang sama, Arsenal juga menyerah dengan margin 3 gol (4-1).

2. Barca vs Madrid; kalo mau berandai-andai ga ada habisnya. kenapa tendangan ronaldo busuk dan diakui victor valdez bagai sebuah keberuntungan (bisa memblok dengan kaki). mengapa madrid tetap tak bisa mencetak gol penyeimbang meski sergio busquet udah diusir wasit.

3. Cagliari vs Juventus; ini paling lucu. semua pengamat tahu lini depan Juve lagi mandul. Faktor cedera sebagai penyebab. Amauri pun terkesan dipaksakan main karena sebenarnya belum match fit. menyalahkan wasit sudah bukan jamannya.

Silahkan login untuk memberikan pendapat