Salah Asuhan (1) 2

Selasa, 10 Nov '09 01:51

Ketika Liga Indonesia musim ini baru bergulir, seorang kawan merekomendasi saya untuk nonton. "Mainnya udah mendingan. Menarik!," begitu katanya.

Saya tidak mengiyakan, tapi tidak juga membantah. Saya pun tak bertanya patokan dan perbandingan mana yang dipakai hanya untuk mengatakan bahwa permainan di kompetisi kita sudah membaik.

Tapi sejak Indonesia kalah dari Singapura, termasuk tim yunior U-19, dan U-23 yang digasak Malaysia, kami berdua berdiskusi hangat hingga jam 10 tadi malam.

"Gue setuju sama lo, sepakbola nasional ga pernah berubah. Penyakitnya ada di PSSI," itu kesimpulannya.

Timnas kalah bukan lagi soal baru. U-19 yang digodok di Uruguay selama dua tahun, dengan dana lebih dari 5 miliar per tahun, kalah dari Jepang tujuh gol tanpa balas juga bukan hal yang bikin penasaran. Yang membuat miris adalah pasukan yunior kalah dari Singapura 0-1 dan di kandang sendiri!

Padahal Singapura dibentuk seadanya dan dalam persiapan yang minim. Sangat miris dan ironis.

Melalui Twitter, ada yang bertanya apakah jika dikirim ke Brasil dengan jangka waktu yang sama maka hasilnya akan sama? Saya yakin 100 persen, iya!

Sudahlah, hentikan pembentukan tim dengan cara instan begitu. Setahu saya, cuma Indonesia yang melakukannya di dunia ini. Parahnya, tak pernah berhasil. Brasil, Primavera Italia, Belanda dan terakhir, Uruguay; semuanya cuma nol prestasi. Jika dibandingkan dengan prestasi tertinggi terakhir Indonesia di SEA Games atau Asian Games, timnas cuma digembleng di dalam negeri.

Saya sudah berkali-kali menulis bahwa pembinaan olahraga di Indonesia salah kaprah. Tidak hanya sepakbola, tetapi hampir semua cabang olahraga. Satu yang agak lebih baik hanya bulu tangkis. Apa bedanya? Kompetisi!

Atlet bulu tangkis selalu bermain di kompetisi melalui super series-nya. Coba lihat apa yang dilakukan atlet atletik, bela diri, balap sepeda dan sepakbola? Hanya try-out! Ujicoba! kalau pun ikut kompetisi, sifatnya hanya sporadis.

Ujicoba berbeda dengan kompetisi murni. Tak ada penggemblengan mental di sana. Tak ada tempaan skill dan tehnik yang sesungguhnya karena lawan pun pasti menurunkan standarnya karena takut cedera dan sebagainya.

Hanya kompetisi yang menjadi satu-satunya kawah candradimuka. Di sinilah terjadi penggojlokan mental, skill, tehnik dan manajemen bermain. Ada tuntutan untuk terus mempersiapkan diri supaya tidak terjungkal di laga berikut. Ada pula tanggung jawab dan penilaian demi sebuah solusi. Ada siklus. Ada reward and punishment.

PSSI mengirim tim yunior ke Primavera atau Uruguay untuk menjalani kompetisi. Takjub! Mengapa PSSI tidak membentuk saja kompetisi tingkat yunior di dalam negeri. Dari pada membuang uang miliaran rupiah ke luar negeri, mengapa tidak digunakan untuk meneruskan kompetisi level bawah sekelas Piala Suratin, misalnya?

Sampai saat ini, PSSI tak pernah punya cetak biru pembinaan sepakbola nasional seperti yang dimiliki Singapura, Malaysia, Thailand, atau negara-negara maju lain dengan meniru Inggris atau Jerman yang punya sistem bernama Piramida Kompetisi.

Sistem Piramida menitikberatkan kompetisi paling bawah sebagai penunjang yang di atas. Inilah ajang para pemain yunior calon pemain masa depan yang masih berusia 5, 10, 12, 15, dan 17 tahun.

"Tapi sangat sulit membuat kompetisi model itu di Indonesia karena bentuk geografisnya. Belum biayanya." Untuk soal itu, biar PSSI yang berpikir. Saya yakin orang-orang di Senayan itu mampu. Masalahnya, mau atau tidak?

© image: pssi-football.org


Tag: kompetisi, PSSI, Indonesia, Piramida

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Buma 0 0
Saya setuju, namun persoalannya bukan tidak ada niatan tapi konsistensi. Dulu kita punya piala suratin dan haornas, belakangan ada piala medco & danone dan sebentar lagi ada LPI.

Untuk kasus TIMNAS U-19 sekarang, PSSI memang sejak awal tidak berniat membentuk TIMNAS, anak-anak itu hanyalah trainee yang nanti bakal dijual ke klub-klub ISL bila masa belajarnya selesai di Uruguay.
3-4-3 0 0
Buma: hehehe mayoritas pemain bakal main di pelita jaya, wong duit ke uruguay dari Nirwan Bakrie kok. Modusnya dah pernah dipake era Primavera dan Baretti, yg ga mau baru dijual.

Seharusnya memang ga susah. Kalo kompetisi tingkat usia muda sebaiknya melibatkan sekolah & lembaga. Haornas, suratin, medco, danone atau coca cola. pokoknya para pemain itu harus dibiasakan berkompetisi (dgn fair play) sejak muda.

Saya yakin timnas kita bisa berjaya lagi.

Silahkan login untuk memberikan pendapat