Lagi, Soal Piala Dunia 2022 8
Selasa, 27 Okt '09 23:31
Saya dihantam kiri-kanan, umumnya via email, setelah menulis soal rencana Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Saya dianggap tak nasionalis dan pesimistis. Sejatinya saya senang jika perhelatan itu ada di tanah air. Bukan soal timnas Indonesia pasti ikut jadi peserta, tapi efeknya.
Piala Dunia itu berkonotasi well established. Ya lapangan, stadion, tempat latihan, hotel, transportasi publik, keamanan, polusi udara & suara; seluruhnya well controlled dan berkelas bintang lima. Siapa yang tak senang jika Indonesia punya kualitas hidup bak negara maju.
Saya yakin Indonesia bisa. Sekali lagi yakin bisa! Tak ada yang mustahil di dunia.
Tapi masalahnya, bukan di situ. Mari kita runut sedikit.
Pertama, ide menjadi tuan rumah Piala Dunia selalu berangkat dari pemerintah negara bersangkutan. Sebuah hal yang wajar karena yang punya uang dan kebijakan pembangunan ada di sana. Tapi soal Indonesia menjadi tuan rumah, pernahkan pemerintah (bukan personal pejabat) bicara secara resmi soal itu, termasuk menjadikannya program utama pembangunan?
Kedua, mungkin saja PSSI serius dengan niatnya termasuk dengan mengirim proposal resmi ke FIFA. Tapi tahukah anda apa yang sudah dilakukan PSSI untuk memuluskan proyeknya? Sejauh saya cek berita-berita, TAK ADA!!! Bahkan PSSI (Indonesia) menjadi satu-satunya bidder yang tidak dan belum pernah membuat logo tuan rumah Piala Dunia 2022.
Bagi FIFA, tidak membuat logo (bahkan hingga kini) bisa berarti tak serius. Pekan lalu, saya jalan-jalan ke blog Worldcupblog.org. Ada post soal Indonesia terkait Piala Dunia 2022 di sana.
Saya jelas malu di dalam hati. Sebagai orang asing, penulisnya seperti "mengajari" apa yang harusnya dibuat PSSI (Indonesia). Dia menilai Indonesia menjadi satu-satunya negara yang pasti langsung dicoret FIFA dari kandidat pencalonan. Tapi dia menilai Indonesia punya kartu truf untuk bisa mengambil hati FIFA dan memenangi persaingan.
Yakni, dengan mengusung isu keunggulan alam. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi punya keunggulan alam yang tak dipunyai kandidat lain seperti Jepang, Australia, Inggris, atau Meksiko. Dan dia menyertakan logo pula! Saya kagum dengan kepeduliannya.
Tapi PSSI tak pernah berpikir ke arah sana -- sebuah hal yang sangat penting dalam merepresentasi keseriusan menjadi tuan rumah.
Bulan lalu, saya mampir sebentar ke PSSI dan kebetulan bertemu Nurdin Halid. Saya bertanya apa progress PSSI soal bidding tuan rumah Piala Dunia 2022. Seperti biasa, Nurdin cuma menjawab di area abu-abu. "Kita terus bekerja dan optimistis," katanya.
Saya geleng-geleng tak habis pikir. Banyak orang mendukung keinginan PSSI, termasuk saya, tapi yang didukung justru cuma omong doang. Tak salah jika kemudian ada banyak orang yang tak serius menanggapinya.
© image: worldcupblog.org
Tag: Indonesia, Piala Dunia 2022
Terkait:
-
Angan kita masih terlalu tinggi!
Selasa, 6 Sep '11 22:33 -
Boaz dan Ban Kapten Timnas
Selasa, 2 Agu '11 11:36 -
Masalah Timnas Saat Ini
Jumat, 29 Jul '11 19:19

Komentar:
Rabu lalu saya lewat jembatan semanggi, sudah ada spanduk nya, Sayang nggak 'Eye Catching'.. (malah tadinya saya kira itu banner ucapan selamat untuk SBY, soalnya yang dipampang photonya SBY).
Gimana Mas.. kalu kita bantu galang dukungan..?
Setuju (bung/sis?) 3-4-3
PD adalah even serius yg tak hanya mengandalkan mimpi dan optimisme. Hanya utk bersiap jadi calon host aja butuh duit banyak, yg sbnernya bisa dipakai utk pembangunan sepakbola di sektor lain..
Kalau serius, pastikan satu hal.. dukungan pemerintah
yang saya tulis di atas itu fakta...serius, tapi belum ada apapun yang dilakukan PSSI. masalah memang ada di sana
sekali lagi, PSSI cuma ngomong doang. kalo mau jadi tuan rumah ya bergerak dong...galang dukungan dari pemerintah dan pihak terkait. saya tau benar, mereka ga bikin apa2, termasuk logo itu.
Yang saya ingin lihat sebetulnya seberapa besar bangsa ini mau belajar berproses. Terpilih atau tidak bukanlah soal. Ikut 'biding' PD adalah soal 'proses' (state of becoming) bukan 'hasil' (state of being). Tapi rupanya saya kembali harus mengurut dada, ternyata bangsa ini masih belum berani melangkah untuk hal-hal besar. Kita rupanya lebih nyaman menjadi 'katak dalam tempurung'. entah sampai berapa ribu hari lagi. Sayang sekali....
Silahkan login untuk memberikan pendapat