Ferrari, hedonisme, kita... 1
Senin, 26 Okt '09 16:58
Usai tebak-tebakan komposisi kabinet pemerintahan kedua SBY resmi ditutup dengan pengumuman resmi, kita kembali disuguhkan pada pro dan kontra yang tak kalah seru. Bagaimana tidak seru jika topiknya menyangkut gaji para pembantu Presiden RI itu - yang oleh sementara kalangan dianggap masih berada di bawah standar dan selayaknya untuk segera dinaikkan.
Mudah ditebak... komentar miring bin sinis bersliweran di ranah publik dalam sejumlah berita dan media. Di satu sisi ada yang mengatasnamakan beban berat sebagai pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas lancar tidaknya roda pemerintahan berjalan sehingga wajar jika diberi apresiasi tinggi. Di lain sisi, tak sedikit yang mengkritik usulan itu sebagai upaya menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat - yang banyak di antaranya terpaksa terjerembab di bawah garis kemiskinan.
"Memang, gaji pokok seorang menteri hanya 18 juta yang terdiri dari gaji pokok dan tunjangan jabatan," kata seorang pengkritisi membuka kejengkelan. "Tapi, jangan lupa, seorang menteri juga mendapatkan honor-honor lainnya yang kalau ditotal jumlahnya bisa lebih dari 100 juta per bulan. Lebih dari cukup untuk sekadar hidup sejahtera. Tapi, kalau boros, bermewah-mewah, dan doyan plesiran ke luar negeri ya pasti tidak cukup dan harus cari talangan dengan cara lain."
Singkat kata, para menteri dan pejabat tinggi di negeri ini disinyalir dekat dengan dunia hedonisme. Gaya hidup yang memuja pemuasan hasrat duniawi manusia semaksimal mungkin. Dan karena kebanyakan menyangkut pemenuhan kebutuhan fisik, kasat mata, dan harus dibeli... maka tak heran jika membutuhkan biaya berkarung-karung jumlahnya.
Fenomena hedonisme ternyata juga merambah lapangan hijau. Sinyalemen itu mulai dibuka oleh Jose Mourinho, pelatih Inter Milan, yang mengkritik keras gaya hidup pemain muda sekarang yang mudah tergoda gemerlapnya dunia. "Anak muda sekarang hanya berpikir tentang Ferrari dan clubbing," katanya mengomentari sejumlah ulah buruk pemain muda.
Kebetulan Inter memang sangat berpengalaman menangani para pemainnya yang berulah. Mulai dari Adriano yang mengaku sebagai pecandu alkohol, pesta, dan wanita sampai Mario Balotelli yang sering membuat Mourinho pusing tujuh keliling akibat sikapnya yang susah diatur, meledak-ledak, dan selalu ingin diistimewakan. Dalam analisa pelatih asal Portugal itu, potensi yang dimiliki para young guns itu justru mengarahkan mereka pada kepongahan yang akan berujung pada petaka.
Pendapat yang diamini Leonardo, kolega Mourinho yang kini melatih AC Milan. "Mourinho benar," timpal Leonardo. "Tapi, harap diingat, para pemain muda dewasa ini berlaku seperti itu adalah cerminan apa yang dilakukan anak muda pada umumnya dalam masyarakat kita. Semua yang terjadi di dalam lapangan adalah cerminan peradaban kita di luar lapangan."
Filosofi yang sangat menarik betapa kita, masyarakat, juga ikut bertanggung jawab pada apa yang tertontonkan di dalam lapangan. "Tugas kami sebagai pelatih menjadi lebih berat. Setiap pemain akan mendapat pengaruh dari luar dirinya. Yang pertama-tama harus kita ubah adalah orang-orang di sekitarnya," jelas Leonardo.
Toh, jika dibesarkan dalam suasana dan arah yang tepat, kelahiran seorang juara hanya tinggal menunggu waktu saja. "Rata-rata pemain bintang dewasa ini hanya akan bertahan di puncak popularitasnya selama paling lama 3 tahun. Bandingkan dengan pemain legenda seperti Michel Platini yang mampu merentang 15 tahun kejayaan. Tapi, seorang Kaka yang didik dengan benar saya prediksi bisa bertahan lama di puncak kejayaannya. Beda dengan Adriano yang memilih bermain untuk Flamengo meski dia punya kemampuan bermain di salah satu klub terbaik dunia."
Pada akhirnya kita harus memilih akan menjadi siapa, akan melangkah ke arah mana. "Anak-anak muda sekarang bisa memilih akan mengikuti jejak Adriano atau Kaka. Tak semua pemain muda akan berakhir buruk," tutup Leonardo.
Baik atau buruk, salah atau benar, sesungguh-sungguhnya adalah pilihan pribadi. Beruntung kalau kita berada di lingkungan yang mendukung, semua akan menjadi lebih mudah. Kalaupun kita ada di masyarakat yang tak supportif, bukan berarti tak bisa menjadi baik dan benar. Perbedaannya hanya bahwa kita harus bekerja lebih keras daripada mereka yang berasal dari tanah yang subur.
Daripada mengkritik para pejabat dan petinggi negara yang dekat dengan hedonisme, jangan-jangan kita lebih baik memperbaiki diri dan masyarakat kita sendiri. Karena, jika kita tidak permisif, niscaya gaya hidup jet set yang dipertontonkan tak akan lestari...
Jakarta, akhir Oktober 09
Sumber Foto: all-luxurycars.blogspot.com
Tag: milan, Adriano, Mourinho, Balotelli, Kaka, Inter, Leonardo
Terkait:
-
Unique, but unwanted
Selasa, 1 Des '09 19:39 -
Teladan Nagatomo bagi SBY
Rabu, 23 Mar '11 18:35 -
Internazionale dan AC Milan Mengejar Scudetto
Rabu, 20 Jan '10 12:30
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
3-4-3: Playmaker

Komentar:
Tapi harusnya sih, mau ngebir atau pesta, yg penting jangan sampek mengorbankan performa di lapangan
Silahkan login untuk memberikan pendapat