Soal Liverpool Yang Meredup 8

Kamis, 22 Okt '09 14:19

Dalam lima tahun terakhir, banyak klub Inggris berusaha mengubah gaya main dari kick and rush menjadi bernafaskan Eropa daratan yang penuh perhitungan. Salah satu caranya adalah dengan merekrut pelatih dari luar Inggris dan menyewa pemain asing bergaya latin. Empat besar Inggris; Chelsea, Arsenal, Manchester United dan Liverpool, beserta klub lainnya melakukan itu.

Tapi Liverpool menjadi satu-satunya tim besar yang gagal secara permainan -- bukan prestasi karena mereka masih bisa juara Liga Champions 2005. Lebih aneh karena The Reds ditangani oleh Rafael Benitez, latino dari Spanyol.

Benitez tidak mengubah gaya kick and rush, tapi justru menyempurnakannya. Dia menambah level pace dan speed. Dari total 67 pemain yang direkrutnya selama lima tahun di Anfield, pasti punya dua unsur itu. Kecepatan dan kelenturan tubuhnya luar biasa. Mungkin Liverpool menjadi satu-satunya tim Inggris, menurut saya, yang kecepatan permainannya sangat tinggi.

Namun Benitez lupa, gaya kick and rush murni adalah biang kegagalan klub Inggris dan tim nasional saat bertemu tim asing. Permainan umpan jauh yang sering tak akurat menjadi mudah diantisipasi lawan. Pendeknya, itu bukan gaya main efektif -- apalagi efisien.

Benitez menekankan permainan melalui sayap dan kurang membangun ketangguhan di lini tengah, kecuali gelandang bertahan yang kini rapuh sepeninggal Xabi Alonso. Dari 67 pemain rekrutannya, mayoritas berposisi full back atau sayap murni. Ketika permainan sayap dimatikan lawan, maka striker Liverpool menjadi mandul karena kekurangan pasokan bola.

Benitez juga kurang sabar pada pemain yang dibelinya. Ketika seorang pemain gagal di satu musim, dia bisa saja langsung menjualnya di musim berikut. Lihat apa yang terjadi pada Luis Garcia atau Robbie Keane. Singkatnya, Benitez kurang setia pada skuad, termasuk terlalu senang merotasi pemain di lini belakang yang jadi titik kelemahan Liverpool selama ini.

Satu yang paling krusial adalah ketergantungan tim pada sosok kapten Steven Gerrard dan striker Fernando Torres. Para penjudi sudah tahu tak akan memegang Liverpool bila dua pemain itu absen. Liverpool pasti kalah!

Mungkin Benitez tidak terlalu salah soal ketergantungan ini. Para analis dan mantan punggawa klub menyebut kesalahan ada di pundak pemain yang tak mencoba meningkatkan mental diri sendiri dan berusaha membuktikan diri bila Gerrard dan Torres absen. Sisanya biar diurus oleh Benitez dengan menjadi psikolog.

Ini jelas pekerjaan rumah besar bagi Benitez. Momentumnya sungguh tak tepat karena hari Minggu besok bakal kedatangan Manchester United. Hanya ada dua pilihan; madu atau racun?

© image: Reuters


Tag: Liga Inggris, Liverpool, Rafael Benitez

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

entah1982 0 0
kutukan sponsor minuman hehehhehehe
3-4-3 0 0
entah1982: gitu ya? kok kalo sponsor judi malah menangan : p
Der Kaiser 0 0
Saya sependapat, kalau kelemahan Liverpool karen terlalu bergantung pada Steven Gerard & Fernando Torres. Lain dengan MU atau Arsenal yang sukses karena bermain kolektif.
kakilangit 0 0
keren analisanya, setidaknya saya jadi tahu kenapa saya sering tertidur ketika nonton liverpool bertanding ; ))
3-4-3 0 0
kakilangit: sering tidur? liverpool ga jarang main jam 12 CET lho, di sini berarti jam 7 atau 8 malem...masak dah tidur : p
wetwetbagaskara 0 0
setuju banget.. Benitez 'kurang setia dengan skuad'. Inilah yg membuat Liverpool tidak konsisten. Tapi baiknya, Benitez bisa mengejutkan di laga2 krusial spt LC...

btw, MU kalah euy.. hiksss......
Rob Bass 0 0
saya setuju sekali dengan artikel ini,,
sangat akurat =D

tpi tak semua strategi kick n rush [yang telah diedit oleh benitez]

itu berbuah hasil yang jelek,, buktinya mereka bisa mengalahkan tim besar seperti MU,

tpi fakta anehny liverpool sering kalah di kandang sendiri
apa itu disebabkan oleh beban yang berlebihan diberi oleh fans ?
3-4-3 0 0
Rob Bass: tentu ga 100 persen jelek, mas...tidak absolut. konon semua tim besar yg sulit menang di kandang memang gitu. ekspektasi fans dan mental pemain yg mudah grogi menghadapi ekspektasi itu. : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat