Main di (Liga) Inggris? 14

Sabtu, 17 Okt '09 04:11

Saya baru saja selesai membaca tabloid Bola edisi terbaru. Di halaman Indonesia ada profil Syamsir Alam, penyerang muda Indonesia yang bermimpi main di Eropa. Sebuah impian seluruh pemain di luar Eropa, termasuk Indonesia. :)

Alam, begitu panggilannya, sudah terlihat punya bakat dan tehnik bagus ketika kantor saya membuat turnamen sepakbola anak-anak sekitar tahun 2001 lalu. Dia masih sekolah dasar waktu itu, tapi saya dan seorang kawan sepakat bahwa dia sudah "jadi" sebagai pemain.

Gerakannya sebagai pemain depan sangat bagus. Postur bagus, larinya kencang, tehnik memadai dan naluri mencetak golnya tinggi. Kalau nggak salah, dia top scorer di turnamen itu. Sekarang ini, dia pemain nasional Under 16 Indonesia.

Tapi soal impiannya bermain di Eropa, terutama di Inggris yang diakuinya sebagai cita-cita terbesar, saya harus dan terpaksa berujar; "Kasihan, mimpi itu tak akan terwujud. Kecuali ada muzizat."

Sebagai pemain dari Indonesia, anda boleh bermimpi (walau mimpi apapun sah) main di mana saja asal jangan di Inggris. Mungkin bisa di negeri pencipta sepakbola itu, tapi bukan di divisi utama (Premiership) dan juga belum tentu di divisi satu (Championship).

Inggris termasuk ketat dalam menyaring pemain asing. Buat pemerintahnya yang berkepentingan memberi visa dan izin kerja, bukan masalah asal negaranya. Tapi bagaimana skill dan kompetensinya, apalagi jika dia dari luar Uni Eropa. Misalnya klub sekelas Manchester United atau Liverpool mau mengontrak Alam, tetap saja dia tak bisa main di Liga Premier.

Apa pasal?

Ada syarat baku untuk pemain asing di Liga Premier agar bisa dapat izin kerja. Pertama dan utama, negara asalnya sudah pernah ikut putaran final Piala Dunia FIFA. Kedua, si pemain harus sudah menjalani 75 persen karirnya di tim nasional dalam dua tahun terakhir.

Dari syarat ini, Alam hanya memenuhi syarat sek under. Dan dari syarat pertama, jelas dia tak akan mendapat visa kerja.

Dua musim lalu, tiga pemain Thailand dikontrak oleh Manchester City. Tapi satu pun tak ada yang pernah tampil di Liga Premier. Bahkan ketiganya langsung dipinjamkan ke klub lain, termasuk di luar Inggris. Itu karena ketiganya tak punya izin kerja lantaran Thailand belum pernah ikut Piala Dunia.

Pengalaman sulit mendapatkan izin kerja juga terja di pada Kleberson dan Eric Djemba Djemba saat memperkuat Manchester United bertahun-tahun silam. Izin kerja memang diperoleh, tapi sangat lama prosesnya (lebih dari 3 bulan) karena kedua pemain itu belum memenuhi syarat kedua meski negara masing-masing (Brasil dan Kamerun) sudah jamuran di Piala Dunia.

Jika syarat pertama terpenuhi tetapi syarat kedua tidak, ini masih bisa diupayakan sejauh klub dan para pengacaranya bisa meyakinkan departemen dalam negeri Inggris.

Jadi, untuk pemain Indonesia, lupakan sejenak mimpi bermain di divisi teratas Inggris. Saya lebih ingin melihat ada pemain Indonesia yang tersebar di liga Eropa lainnya. Taruhlah main di Serie A Italia, Ligue 1 Prancis, Bundesliga Jerman, Eredivisie Belanda atau La Liga Spanyol. Bahkan main di Liga Belgia, Austria, Yunani, Portugal atau Turki pun tak masalah. Dan jika itu memungkinkan, jangan mencari klub papan atas.

Jangan senang dulu jika dikontrak Inter Milan, Olympique Lyon, Bayern Muenchen, Ajax Amsterdam atau Valencia. Saya nggak yakin ada pemain Indonesia yang bisa tembus menjadi pemain inti di klub itu untuk sementara ini. Tidak Boaz Salossa, tidak juga Alam. Lebih baik pemain hebat Indonesia seperti mereka membela klub sekelas Genoa, Rennes, Eintrach Frankfurt, NAC Breda atau Real Valladolid. Mereka lebih dijamin tampil reguler di klub-klub mediocre begitu.

Itulah batu loncatannya. Jika bisa mencapai standar Eropa, siapa tahu ada klub Inggris yang tertarik dan pemerintah Inggris tak ragu untuk memberi izin kerja. Maju terus Alam dan pemain Indonesia lainnya. Siapa tahu ada keajaiban. :D

© image: PSSI- Football


Tag: Liga Inggris, Syamsir Alam, pemain Indonesia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Der Kaiser 0 0
Jangankan Eintracht Frankfurt atau NAC Breda, untuk ke Ascoli ataupun Energie Cottbus saja saya masih ragu : (
3-4-3 0 0
Der Kaiser: walah Ad, tambah parah dong...aku ga tega mau bilang pemain Indonesia pun belum pantes membela klub mini model Genclerbirligi (Turki) atau Cercle Brugge (Belgia). Aku hanya memberi gambaran, supaya mimpi tetap ada...asal jangan kebablasan ; )
Klanjabriks 0 0
kejam...
3-4-3 0 0
Klanjabriks: opone sing kejam, son? : p
Klanjabriks 0 0
kejamnya "monster penghancur mimpi" anak-anak seperti Syamsir Alam...
3-4-3 0 0
Klanjabriks: apa boleh bikin, realita memang penuh dengan hal2 yg ga enak ; )
Klanjabriks 0 0
kalau Syamsir Alam pindah warganegara ?
3-4-3 0 0
Klanjabriks: ya cari negara yg udah pernah maen di piala dunia, jgn pindah ke malaysia atau singapura...wah sama aja boong : D
Klanjabriks 0 0
3-4-3: hehehe....ya iya lah kang

Anak-anak seperti Syamsir Alam "diusir" aja dari Indonesia...kekeke....
Buma 0 0
Gak perlu pindah kewarganegaraan,
Sebentar lagi liga-liga di Asia juga akan jadi salah satu kiblat sepak bola dunia. Asia punya penonton.. tiap akhir tahun klub-klub eropa berebut simpati penonton Asia.. dan salah satu liga yang dapat apresiasi AFC dari sisi penonton adalah Liga Indonesia.. Jadi generasi Syamsir, Reffa Money, Alan Martha, Irvin Museng bisa bangga bila bermain di Liga Asia, utamanya ISL.. Hidup ISL.. (tahun ini saya percaya PERSIPURA akan berbicara banyak di Liga Champion Asia)
3-4-3 0 0
Buma: Indonesia dipuji AFC sebagai 8 besar sepakbola Asia, harusnya bisa lebih baik lagi...kalo bisa unggul dari jepang atau korea. Wong dulu Jepang belajar dari galatama kok : D
Buma 0 0
Yup benar sekali
Sepp Blatter juga pernah bilang kalu Indonesia dulu pernah disebut sebagai 'Brazil' nya Asia..
Tapi coba cermati pertandingan ISL akhir-akhir ini, sudah lebih menarik bukan?
3-4-3 0 0
Buma: dari dulu kompetisi Indonesia menarik, mas. atmosfirnya paling hidup di asia, nyaris stadion ga pernah sepi. tapi saya belum memberi porsi perhatian pada teknis permainan lebih besar karena hal itu bisa diurus kemudian (sambil jalan) jika infrastruktur dan manajemen kompetisi dibenahi.
Wahyu Eko P 0 0
3-4-3: kapan saya bisa nyusul juga bisa main ke Inggris?? ya???

Silahkan login untuk memberikan pendapat