Sepakbola Indonesia, 1972 5

Jumat, 16 Okt '09 02:22

Apakah yang disebut isu nasional? Salah satunya ini: ketika orang yang tak paham, bahkan tak pernah peduli, akhirnya bisa terbawa, bahkan tercerahkan oleh sebuah topik. Jika ini adalah laporan majalah olahraga tentu wajar. Tetapi laporan utama tentang bal-balan dari sebuah majalah berita, yang biasanya sarat kbar politik dan ekonomi, tentulah soal serius.

Bahkan misalkan ini sekadar pengisi edisi gawat, ketika agen dan loper malas menjual karena hari raya, dan wartawan banyak yang cuti, pemilihan topik yang paling ringan pun butuh keseriusan. Apalagi untuk sebuah media yang sedang dan terus membangun standar kelayakan berita.

Sayang halaman laporan utama edisi ini sudah compang-camping karena foto-fotonya diguntingi. Foto-foto pemain bola nasional yang berharga. Layak kliping. Banyak orang merasa mereka itu semua hero. Bagian dari sejarah yang sedang ditulis.

Halaman tengah edisi ini memuat esei foto pertandingan Dynamo Tblisi Cruzeiro Brazil. PSSI mendapatkan Rp 38,9 juta -- jumlah terbesar untuk ukuran saat itu, ketika US$1 belum senilai Rp 400, dan seliter bensin belum Rp 57. Pertandingannya dilihat 100 ribu penonton -- jumlah terhebat setelah Asiah Games.

Saya salinkan penggalan teks dalam ejaan sekarang supaya mudah dipahami (Eyd mulai berlaku lima bulan setelah edisi ini):

Percaya atau tidak, buktinya gelombang massa yang merupakan "modal nyawa" bagi PSSI ini, bukan hanya sekedar berani merogoh kantong dalam-dalam, melainkan juga berhasil menjebol dua dari empat pintu stadion yang ditutup. Dalam luapan semangat-menonton -- yang tua, yang muda, yang bocah, yang Abri maupun preman, dengan karcis ditangan, masuk stadion dalan rangkain barisan yang lumayan sulitnya diatur. Adakah perdatan antri yang rapi belum lagi lazim. Begitulah adanya. Sehingga kawat duri maupun pagar besi runcing, bukanlah suatu rintangan. Namun demikian, hidangan permainan yang mereka tuntut tidak banyak: hanya pertandingan yang bermutu. Selebihnya, soal risiko rela ditanggung.

Tahun 1972. Tiga puluh tujuh tahun silam.


Tag: dynamo, PSSI, tempo, tblisi, brazil, senayan, cruzeiro

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

3-4-3 0 0
Dari cerita bapak saya, jacob itu jago sundulannya. Tahun segitu saya masih kriyep-kriyep, baru bisa melek, tapi saya yakin itu tahun nggenah Indonesia dalam sepakbola.

Jepang belum ada apa-apanya tuh. Di Asia, musuh Indonesia cuma Korsel & Korut. Di level sebaya mungkin Myanmar (dulu pake nama Burma). Yang lain sih ah....lewat semua.

Tapi itu dulu. Sekarang? entah kita jalan di tempat atau jalan mundur dan negara lain justru lari sprint : (
3-4-3 0 0
eh satu lagi, paman....kapan2 saya pinjem baca ya... ; )
Mas Antyo 0 0
3-4-3: itu bukan punya saya. punyanya salah satu warga bolaria. : )
Politikabol 0 0
Mas Antyo: bos kayaknya masih era Anjas Asmara ya, IMHO ; ))
Wahyu Eko P 0 0
Mas Antyo: sip banget

Silahkan login untuk memberikan pendapat