Kondusif, Barang Langka Liga Super 3

Rabu, 14 Okt '09 00:31

Mayoritas media massa memasang headline positif soal matchday pertama Liga Super Indonesia. Aman dan mulus. Tak ada keributan seperti di musim lalu. Memang baru empat laga yang digelar, tapi lumayan jika mengingat betapa rentannya sepakbola Indonesia terhadap yang namanya keributan.

Secara umum, kompetisi di Indonesia relatif mulus di awal. Semua pelaku, terutama pemain dan wasit, dalam kondisi bugar baik mental maupun fisik. Permainan menjadi lebih tenang (dan wajar) serta wasit bisa mengambil keputusan dengan baik.

Seharusnya ini bisa dijaga atau diciptakan (oleh Badan Liga Indonesia). Keputusan BLI untuk membuat jadwal main yang tak jelas konfigurasinya membuat kondisi pemain atau wasit menjadi aneka ragam pula. Ada beberapa tim yang harus main di hari Sabtu/Minggu dan Rabu, tapi tak sedikit yang baru main setelah 10 hari istirahat. Jika kelelahan bisa menganggu fokus tim, kejenuhan juga bisa memengaruhi.

Konfigurasi jadwal yang tak menentu membuat akibat bisa ditebak. Kita mengacu pada liga-liga yang sudah mapan. Liga domestik selalu bermain di akhir pekan dan maksimal hanya lima pekan ada di tengah minggu. Di luar itu tentu ada kompetisi non liga, seperti kompetisi piala dan kompetisi regional.

Pasalnya mereka (pengelola liga) tahu bahwa pemain normal membutuhkan waktu ideal satu minggu untuk istirahat. Recovery fisik dan mental membaik dalam kurun waktu enam-tujuh hari. Tapi buktinya banyak pemain bisa tampil tiga kali dalam sepekan atau 10 hari? Ya jika mau tak mau tentu masih bisa, belum lagi jika ada sistem rotasi. Tapi idealnya, tidak. Lagi pula untuk ukuran pemain Indonesia jelas fisiknya tak cukup mumpuni.

Jika pemain kekurangan masa istirahat maka bisa diduga mereka akan tampil kasar, ngawur dan yang paling parah, emosinya lebih besar dari pada tenaga. Situasi ini kemudian dilengkapi oleh stamina wasit yang juga kurang istirahat. Ketika ada permainan brutal, wasit tak mengambil keputusan yang pada tempatnya.

Lalu situasi yang tak kondusif ini akan menular pada penonton. Ketika pertandingan menjadi brutal maka penonton bisa tertular. Saya tak berani membayangkan.

Kuncinya memang ada di BLI. Praktek pembuatan jadwal yang tak jelas konfigurasinya (bahkan jika dianalisa dengan logika sederhana sekalipun) memancing dugaan yang tak perlu. Keputusan abu-abu atau "titipan" menjadi mudah menghampiri pikiran orang.

Liga Indonesia punya potensi yang besar. Stadion yang tak pernah kosong ketika ada pertandingan seharusnya menjadi surga bagi pengiklan. Semoga BLI, serta PSSI, mau meninggalkan praktek-praktek tak beresnya dan mulai mendukung klub dan dirinya untuk mendapat profit.

Semoga.


Tag: Liga Indonesia, BLI, Jadwal kompetisi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

entah1982 0 0
setuju mas,......
ijin copas buat web ya mas???
3-4-3 0 0
entah1982: silahkan, mas...seneng bisa berbagi : )
Klanjabriks 0 0
kang Hedi ki pancen apik an...

Silahkan login untuk memberikan pendapat