Kita lebih tahu bola daripada orang Arab atau Jepang 6

Selasa, 6 Okt '09 01:38

Wartawan Antara, Sugiarto Sriwibowo yang meliput pertandingan sepak bola dalam Olimpiade Tokyo tahun 1964, menuturkan. “Orang Jepang bila menonton bola sangat geli dan tertawa bila melihat pemain menyundul bola. Mereka takut kepala pemainnya pecah. “

Waktu itu orang Jepang baru belajar menyepak bola. Apalagi bangsa Arab, tidak tahu sama sekali. Sementara Indonesia sudah malang melintang di kawasan Asia. Pemain legendaris Puskas mengenang sebuah pertandingan dilapangan Ikada, dalam pertandingan persahabatan Indonesia melawan Hongaria awal tahun 50 an.
Ia begitu kesulitan membobol gawang Indonesia yang dijaga Kiper Van der Vin asal klub UMS, Petak sinkian Jakarta. Kiper keturunan Belanda yang tampan ini selalu naik motor Harley Davidson kalau menuju Stadion, dan kerap kali berganti membonceng gadis gadis cantik seperti gaya pemain Liga Eropa saat ini.

Sepakbola adalah suara rakyat. Jangan jangan kalau ada partai politik yang berani mengkampanyekan program sepak bola nasional dan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia, akan memperoleh suara signifikan. Dalam bukunya History of Java, Gubernur Jenderal Raffles sudah menyinggung kegemaran kaum pribumi terhadap sepak bola. Berangkat dari permainan bola dari rotan, jeruk bali atau buah kelapa yang dikeringkan.

Ketika keluar dari penjara Sukamiskin, Bung Karno sudah melihat potensi public relation dari sepakbola. Ia meminta ijin kepada M. Husni Thamrin, sebagai Pembina VIJ – Voetballbond Indonesisch Jakarta – cikal bakal Persija, untuk melakukan tendangan kehormatan dalam pertandingan disana. Sementara dalam jaman modern Soetrisno Bachir sudah membuat kampanye iklan dengan mengambil setting permainan sepak bola.

Pemerintah melalui mensesneg Hatta Radjasa benar meminta PSSI menyusun proposal yang lengkap untuk pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia. Ini jadinya seperti konyol dan mimpi siang bolong kalau melihat prestasi tim PSSI. Buat apa ikut Piala Dunia kalau hanya digunduli oleh tim lain. Seperti kesebelasan Hindia Belanda yang langsung pulang setelah digunduli 6 – 0 oleh Hongaria pada Piala Dunia 1938 di Perancis.

Sepakbola bukan sesuatu yang absurd sepanjang pengelolaannya masuk akal. Jangan harap menghasilkan kesebelasan mumpuni kalau kompetisinya masih ambur adul. Dulu sehabis lari keliling senayan, saya sempat duduk bareng dengan Kurniawan Dwi Julianto – penyerang PSSI dulu – makan somay di seputaran senayan.
Sementara Arsene Wenger mengisyaratkan pemainnya diet ketat, sampai Thiery Henry sempat kesal karena dilarang makan coklat. Kalau pemain Indonesia bisa makan somay terigu di pinggir jalan setelah berlatih bola.

Ada sesuatu yang tetap tak hilang. Semangat nasionalisme rakyat yang tergambar dalam sepak bola. Cina, Arab, Jawa, Betawi, Bugis, Ambon, Kristen, Islam, Ahmadiyah, Hindu. Semuanya luruh dalam sebuah entity yang dinamakan Indonesia. Gemuruh sorak sorainya membahana dan membuat bulu kuduk merinding. Tak heran, saya selalu menyenangi atmosphere ini.

Menyelenggarakan Piala dunia bukan mustahil tetapi lebih masuk akal memilih menyelenggarakan kompetisi dan pembinaan reguler. Ketika pulang ke negeri Belanda saat gelombang eksodus dari Indonesia. Van der Vin masih selalu mengingat hawa pana dan sorak sorai penonton yang berjingkrak jingkrak ketika ia menahan tendangan penalti penyerang Hongaria, Puskas.

Juga suara raungan motor Harleynya yang membawanya dari lapangan satu ke lapangan lainnya. Petak Sinkian, Taman Sari , Deca Park ( Monas ) sampai VIOS ( Menteng ). Ia memang tak pernah bermain bola lagi di Belanda. Angin dari laut utara terlalu dingin disana.


Tag: PSSI, Puskas, Van der Vin, UMS, Nurdin Halid

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

garislembut 0 0
sejarah Indonesia dalam sepakbola memang sangat panjang, unggul dari seluruh negara asia lainnya. jika sekarang sepakbola kita hancur lebur, itu karena kerusakan struktural : D
entah1982 0 0
kita harusnya belajar dari sejarah, dan peradaban kita.
tapi karena sistem yang mengelolanya kedigdayaan masa laluu itu sirna sekarang
Klanjabriks 0 0
aku kok gemes yah kalau ngomongin sepakbola Indonesia yang sekarang....pingin ta remes-remes...
Tukang Tekel 0 0
Klanjabriks: saya juga gemes kang, : D
moopy 0 0
Klanjabriks: sebelum diremes-remes, diuyel-uyel dulu...: )
Mas Antyo 0 0
Maaf kalau lontaran saya naif bahkan bodoh. Bisa gak ya sejumlah orang kaya dan klub bikin kompetisi bagus, supaya sepakbola kta meningkat, tapi tanpa campur tangan PSSI? Maksud saya, asal kiat ngongkosin sendiri apa tetap harus melibatkan PSSI?

Silahkan login untuk memberikan pendapat