Evolusi Skema di Antara United dan Chelsea 3

Senin, 5 Okt '09 02:10

 

Kemenangan Chelsea atas Liverpool beberapa jam lalu membuat mereka pantas diberi predikat sebagai kandidat utama juara Liga Inggris musim ini.

Mereka bermain sebagai sebuah tim dengan solid. Lini tengah mereka kokoh. Dihuni oleh para gelandang dengan pengalaman dan jam terbang di atas rata-rata (Ballack, Lampard, Deco, Essien), lini tengah Chelsea sukar ditembus. Problem tidak pernah menyatunya Lampard-Ballack-Deco di era Scolari atau Hiddink, bisa dipecahkan dengan bagus oleh Ancelotti. Mungkin baru semalam itu kita bisa melihat ketiganya bermain dengan kompak dan relatif bagus satu sama lain. Essien memberi jaminan keseimbanga dengan maksimal, setelah musim lalu menurun tajam akibat cedera yang cukup lama menderanya.

Lini pertahanan cukup bisa diandalkan. Terry makin matang setelah sempat kesulitan dengan kontrol emosinya pasca kepergian Mourinho. Carvalho yang musim kemarin harus digeser oleh Alex mulai kembali menemukan performanya. Di bek sayap, Bosingwa dan Ivanovic sama-sama levelnya. Barangkali hanya di bek kiri Ancelotti kurang pelapis yang memadai bagi Cole.

Dibandingkan kualifikasi bek-bek di klub lain, Chelsea jauh lebih merata dan berpengalaman. Mereka punya Terry, Carvalho, Alex dan Ivanovics di central. Bandingkan dengan MU yang hanya punya Rio dan Vidic yang relatif berpengalaman. Sementara Brown sering cedera dan Evans masih labil. Carragher di Liverpool mulai jauh menurun, sementara Skrtel belum menemukan performanya sebaik musim lalu. Vermaelen di Arsenal memang sangat menonjol, juga produktif. Tapi pada saat yang sama Gallas mengalami penurunan, belum lagi Clichy yang entah kenapa tampak keropos di musim ini.  

Yang paling menonjol dari itu semua adalah keberhasilan Ancelotti menyiapkan evolusi skema permainan Chelsea yang sejak era Mourinho terbiasa bermain dengan 1 striker. Ancelotti mengubahnya menjadi 4-4-2, denga Drogba dan Anelka sebagai ujung tombak. Hingga sejauh ini, evolusi skematik ini tak mengalami kendala. Drogba dan Anelka bermain baik sebagai partner. Koordinasi lancar, tahu kapan saatnya sebagai finishier dan kapan saatnya sebagai pengumpan [lihat dua asist Drogba saat menghadapi Liverpool].

Bandingkan dengan belum lancarnya evolusi United pasca kepergian Ronaldo. United di era Ronaldo adalah United yang menyerang dengan skema yang cair, permutasi gerakan yang lugas, perpindahan posisi yang fleksibel. Seiring hengkangnya Ronaldo, MU kembali bermain dengan posisi 4-4-2 yang memaksa mereka bermain lebih text-book dan kolektif. Tapi evolusi skematik itu belum lancar. Seperti yang terlihat saat menghadapi Sunderland, United bermain dengan sangat kaku, terlampau text-book, dan minim kreativitas. Terlihat kegagapan anak-anak Old Trafford menyikapi evolusi skematik ini.

 

 

 

Sejauh ini, hanya Giggs yang mampu dengan baik mengadaptasi dirinya dalam skema baru ini. Tapi ini tak mengherankan. Bagi pemain yang sudah tak mengalami masalah saat posisi aslinya digeser [dari sayap murni menjadi lebih bebas], tentu tak susah pula mengadaptasi dirinya dalam skema permainan yang baru. Lagipula, jam terbang, pengalama dan kecerdasan seorang Giggs memang sudah lebih dari cukup.

Persoalannya, sampai sejauh mana dan sampai kapan melulu mengandalkan Giggs untuk menjadi jembatan evolusi skematik ini? Jahat bener kalau Giggs dipaksa turun tiap game. Itu terlalu beresiko buat Giggs. Bisa-bisa, di Januari ia sudah habis. Lagipula, bukan gaya Fergie pula terus-terusan memporsir pemain-pemain gaeknya.   

Fergie harus segera mencari solusinya. Dan, percayalah, ia sedang berkerut-kerut memikirkannya.

Salah satu yang membuat Fergie bisa sedikit menunggu adalah Piala Afrika yang akan digelar awal tahun depan. Di tengah sanksi tak boleh membeli pemain, Ancelotti harus rela kehilangan --setidaknya-- Drogba, Essien dan Obi Mikel. Kehilangan Drogba mungkin tidak terlalu terasa, karena masih ada Anelka, dan Ancelotti bisa saja kembali ke pakem lama dengan satu striker.

Tapi kehilangan Essien yang bermain apik saat menaklukkan Liverpool adalah perkara besar. Karena Obi Mikel juga harus turun di Piala Afrika, ini benar-benar problematis. Percayalah, keberadaan Essien sangatlah vital untuk menjamin keseimbangan lini tengah Chelsea yang pemain gelandang utamanya semua berkarakter offensif. Tanpa Essien [juga Mikel], evolusi skematik Chelsea akan mengalami ujian teoritik yang sangat mendasar.

Tapi, Piala Afrika masih lama. Untuk saat ini, dalam soal persaingan Chelsea dan MU dalam soal evolusi skema permainan, pertanyaan lebih banyak tertuju pada Fergie! 

 


Tag: Manchester United, Chelsea

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

garislembut 1 suka | 0
essien hilang memang bermasalah, apalagi ga ada mikel. paling solusinya seperti dulu, alex atau carvalho digeser ke depan, atau ballack mundur jadi jangkar dan tiga pemaen tengah mungkin malouda-lampard-joe cole (yg sudah sembuh)

tapi ga ada drogba lebih bermasalah lagi, skuad chelsea itu bernilai sama dgn barca (ada peneliti pasar yg bilang). Kelas 1 A & B. tapi chelsea buruk dalam proporsi; mosok playmaker punya 3 (lampard, ballack, deco), striker kelas 1 cuma 2, gap dgn cadangan terlalu besar.
Der Kaiser 0 0
palingan Ballack ditarik mundur lebih bertahan, trus ditengah lampard-deco, didepan anelka ditopang malouda & joe cole dari sayap. : )
Tukang Tekel 0 0
sepertinya bukan masalah, ballack bisa ditarik ke belakang duet sama lampard-deco di depannya.. joe cole dan malouda main sayap dan jangan lupa masih ada pemain baru mereka yuri zhirkov yang bisa ditarik ke belakang sebagai bek kiri seperti di timnas rusia.. : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat