Pluralisme Suporter 6

Kamis, 1 Okt '09 11:24

ada hal yang menarik bagi suporter indonesia. loyalitas dan dukungan yang diberikan kepada tim sepak bolanya luar biasa. dan ini sebenarnya modal penting bagi persepakbolaan kita. Hampir setiap daerah mempunyai sebuah Klub sepakbola, dan hampir setiap klub itu mempunyai kelompok suporter, bahkan bukan hanya satu ada beberapa kelompok suporter yang mendukungnya, Secara geografis yang memang berdekatan satu sama lainnya kadang ada sebuah “persaingan” kita sebut saja saja Jogja dan Solo, Jogja dan Sleman, jakarta dan Bandung, Surabaya dan Malang, dan mungkin ada lagi. Entah faktor apa yang melatar belakangi persaingan antar daerah tersebut.

Yang menarik di indonesia ada seperti sebuah pengkotak kotakan suporter. Blok pertama di wakili dengan Aremania, Pasoepati, The Jak, kemudian yang lainnya Bonek, Viking, Sakera atau lebih dikenal dengan BONVISA di tambah Brajamusti. Suka atau tidak memang demikianlah sebenarnya Peta Persuporteran di Indonesia, dan ini membuat setidaknya Stagnasi dalam persepakbolaan kita. Misalnya Bonek bertandang ke Jogja Maka secara Geografis dia akan melewati Solo yang nota bene merupakan “kongsi” arema dan The Jak dan secara tidak langsung potensi kerusuhan ada. Blok Blok inilah sebenarnya yang menghalangi sebuah kreatifitas suporter untuk mendukung tim – timnya. Tapi ada Suporter yang memang Tidak “tergabung” dalam blok besar itu, Slemania misalnya. lalu kemudian Suporter semarang (dengan panser dan Snexnya) Lalu singa mania palembang. dan mungkin kelompok suporter lain. Bukan menyepelekan ketiganya dalam Jumlah atau apa sehingga mereka tidak masuk dalam 2 blok tadi akan tetapi memang kenyataan mereka tidak “berafiliasi” dengan blok – blok suporter tadi. Slemania Misalnya, mungkin memang dia bermusuhan dengan Brajamusti, tapi tidak dengan Bonek misalnya.

Hubungan Ruwet
Ketidakdewasaan suporter – suporter kita membuat ada semacam gap itu tadi. padahal sebenarnya secara individu tidak ada permusuhan apa apa tapi ketidakdewasaan kita sering membuat permusuhan itu tetap dipelihara. Seorang kawan Viking pernah bilang, “anda (pasoepati jakarta) berteman baik dengan The jak, silahkan. saya mengahargai itu karena yang “bermusuhan” adalah Viking dan the Jak. Begitu Pula anda dengan Bonek, Silahkan “bermusuhan” walaupun bonek adalah kawan kami. Pfffffhhhhhh. Ruwet. Demikian sebuah kata yang bisa menyimpulkannya. Keruwetan Hubungan ini. Mungkin Keruwetan ini juga di tangkap oleh Andi Bahtiar Yususf dalam Film nya yang April nanti bisa kita nikmati di Bioskop. lewat Film Romeo*Juliet. ucup mengangkat tema tentang percintaan Cewek Viking dan Cowok The jak. Seorang Rekan Wartawan pernah aku tanya Soal Status “ke-suporter-an” ini dan dia menjawab sambil tersenyum ” Aku lahir di bandung Berarti aku Viking, Kemudian Kuliah di Jogja Berarti aku brajamusti, lalu kerja di jakarta berarti aku the jak, dan aku suka sleman berarti aku slemania” Sebuah jawaban absurd yang mungkin memang seabsurd persepakbolaan dan dunia persuporteran kita.

Baju Suporter sudah dianggap agama bagi mereka yang loyal. dan demi apapun mereka rela membela “agamanya” tapi mereka lupa dalam bangsa yang beragama juga ada sebuah sikap yang disebut sebuah sikap Pluralisme, Tolerasi, dan sikap menghargai. lalu bisakah suporter kita mengahargai kata pluralisme itu tadi. Pluralisme di dalam agama adalah, bukan menyembunyikan Keislaman kita atau kekristenan kita, tapi pluralisme adalah Saya Islam, Anda Kristen , Kalian Hindu. Silahkan jalankan agama kalian masing masing dan mari kita tetap bekerja bersama, bergotong royong, tanpa mengusik ke agamaan kita masing – masing.

Silahkan nikmati Warna klub kalian masing masing, tapi jangan jadikan itu sebuah pelegalan untuk melakukan sebuah tindakan yang disebut dengan perpecahan. Aku bangga dengan merah ku. bagai mana dengan anda? bari jadikan perpaduan warna tim kebangaan kita menjadi Sebuah pelangi cinta untuk kemajuan persepakbolaan indonesia.


Tag: pluralisme suporter

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Klanjabriks 0 0
Fanatisme adalah embrio Militansi...saya lebih suka menjadi penggemar pemain, ketimbang penggemar klub...
Tukang Tekel 0 0
filmnya bukannya sudah keluar kang..?
yang heboh di tv itu beberapa waktu lalu.. : )

saya kadang heran dengan motif fanatisme sepakbola di negeri ini. bahkan timnas bertanding aja, suporter masih pake baju klub..
entah1982 0 0
iya mas jago sliding eh Tukang Tekel itu artikel rada lama saya buatnya, saya lupa kalau ini copas dari web saya.
Mas Antyo 0 0
Meski kopas, saya merasa tercerahkan. Terima kasih. Selama ini saya gak tahu sama sekali soal peta supporter itu.
entah1982 0 0
iya mas antyo demikian adanya suporter kita, itu kopas dari web saya, jadi itu cara pandang saya, mungkin cara pandang orang lain berbeda dengan cara pandang saya
Buma 0 0
kalau konteksnya pertandingan antar klub, rasanya sulitlah mengharap ada kesadaran, toleransi atau apalah namanya yang bisa bikin suporter kita nggak bentrok.

Tapi kalau yang maen TIMNAS mereka bisa akur tuh, meski nonton pake jersey klub nya masing". Itulah sebabnya saya berani dateng ke stadion cuma kalu TIMNAS yang berlaga.

Silahkan login untuk memberikan pendapat