Keterikatan Adriano 2

Kamis, 1 Okt '09 19:36

[We all need a shoulder to cry on... Pilar kekuatan yang justru akan menjadi kanker mematikan jika kitaterlalu melebur padanya, gagal mengambil jarak darinya, kesulitan memaknai pengalaman kehilangan sang bahu sandaran utama.]

 

Teman saya punya kebiasaan unik. Setiap kali dia pergi ke luar negeri, tasnya selalu penuh dengan dus-dus mie instan aneka jenis dan merk. Tak peduli berkunjung dalam dinginnya London atau panasnya Arab Saudi, bekal yang satu itu tak pernah ketinggalan. Meski harus panjang lebar menjelaskan kepada petugas imigrasi di setiap airport yang dimasuki, tak kapok dia dibuatnya.

 

"Gue nggak pernah bisa menemukan makanan yang pas buat perut gue selama di luar negeri," cerita seorang kawan yang sering bepergian ke manca negara dalam kapasitasnya sebagai jurnalis. "Pertama kali dinas luar negeri, gue hanya kuat sehari karena nggak ada makanan yang pas. Sejak itu, bini gue nggak pernah lupa ngebawain mie instan berapapun lamanya gue pergi," lanjutnya sembari menceritakan betapa tersiksanya dia memiliki kebiasaan yang sangat unik itu.

 

Keterikatan, apapun bentuk, jenis, dan macamnya, memang kerap merepotkan. Untung saja kawan saya hanya terikat pada "makanan Indonesia". Relatif masih mudah diatasi, meski menimbulkan konsekuensi yang tak ringan. Tapi, bayangkanlah jika keterikatan itu berwujud pada sesosok manusia yang akan sangat mempengaruhi keseharian kita...

 

"Sejak Ayah saya meninggal, saya didera depresi berat yang hanya bisa disembuhkan oleh alkohol. Saya hanya bisa merasa bahagia ketika minum dan mabuk. Dan saya tak pernah berhenti. Saya pergi setiap malam, menengguk semua minuman yang ada di depan saya... anggur, wiski, bir..."

 

Begitulah pengakuan Adriano baru-baru ini, membuka misteri fenomena "slump of the year" saat bakat besar pemain brilian tiba-tiba hilang tak berbekas. Christian Vieri, sahabat Adriano saat membela Inter Milan, memberi testimoni senada, "Adriano adalah pemain yang paling jarang berlatih karena dia punya talenta luar biasa. Dia selalu menghabiskan malam untuk pergi ke pub sampai jam 5 atau 6 pagi. Ketika saya tidur beberapa jam dan kemudian pergi ke lapangan untuk latihan, dia masih meringkuk di tempat tidur ditemani cemilan dan minuman penghangat badan."

 

Awal tahun 2009, Adriano akhirnya memutuskan kontrak secara sepihak dengan klub yang mengontraknya, Inter Milan. Pada bulan April, saat diijinkan pulang ke Brasil untuk memperkuat timnas negaranya, striker berumur 27 tahun itu menolak pulang - memilih tetap tinggal di kampung halaman agar bisa dekat dengan sanak familinya. Kontrak bernilai miliaran rupiah pun dilepasnya.

 

"Orang-orang berpikir bahwa saya sangat bodoh melepas kontrak sebesar itu di Inter," lanjutnya kepada R7. Tapi, sesungguhnya, tidak ada uang sebesar apapun yang bisa membeli kehangatan keluarga. Saya melepas miliaran, tapi saya mendapatkan kebahagiaan."

 

Masa gelap Adriano memang jauh dari gambaran ideal seorang pemain bola. Pemain kekar, tinggi, besar, dan tak tertahankan di masa jayanya ini tak ubahnya pecandu akut. "Saya minum semalaman dan memaksakan datang latihan esok harinya. Saya tidak tidur karena takut terlambat datang ke training camp. Hasilnya, saya datang berlatih dalam kondisi buruk. Mereka (pelatih-Red) kemudian menyuruh saya tidur di bangsal klub sambil menjelaskan kepada pers bahwa saya sedang cedera."

 

Saat itulah dia mulai meregang ketegangan dengan Roberto Mancini, pelatih Inter kala itu. Belakangan dia dipinjamkan ke Sao Paolo untuk memulihkan kondisi, November 2007. Saat Jose Mourinho ditunjuk sebagai pelatih baru menggantikan Mancini, Adriano merasa mendapat kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahannya. Memulai lembaran baru.

 

Nyatanya? "Saya pikir saya sudah bisa mengatasi perasaan kehilangan ditinggal Ayah. Tapi, saya dengan cepat kembali pada kebiasaan buruk masa lalu. Bedanya, di Milan saya tak punya siapapun untuk mencurahkan hati, beda dengan di Brasil saat saya punya seluruh keluarga yang mau menerima saya apa adanya."

 

Kepercayaan besar Inter Milan, khususnya Presiden Massimo Moratti yang menganggapnya sebagai anak sendiri, dan Mourinho yang menempatkan Adriano sebagai aset yang bisa direhabilitasi tak cukup untuk memperbaiki keadaan.

 

"Saya berusaha kembali kepada Mourinho, tetapi itu semua tidak cukup," akunya. "Saya kembali akrab dengan pesta pora, wanita, dan alkohol. Klub tidak bisa lagi mentolerir keadaan saya. Saya minta maaf kepada Mourinho yang terpaksa bersitegang dengan para direktur klub untuk memperjuangkan saya tetap di Giuseppe Meazza.

 

Kini Adriano bermain untuk klub di kampung halamannya, Flamengo, dengan penampilan yang cukup baik dan mulai dilirik masuk lagi ke timnas Brasil di bawah asuhan Dunga. Kabarnya, sudah banyak klub di Eropa, termasuk AC Milan, menyatakan ketertarikannya.

 

Tapi, jika keterikatannya pada figur sang Ayah (alm) - yang tak bisa digantikan oleh siapapun - tak kunjung teratasi, jangan bermimpi melihat Adriano bisa membuas lagi semasa jayanya jika main di luar kampung halamannya.

 

Sama seperti teman saya. Sampai dia menemukan cara untuk tidak tergantung dengan mie instan saat traveling, jangan harap tatap curiga petugas imigrasi di bandara akan lepas dari sosoknya...

 

Keterangan Foto:

Gambar diambil dari forum detik.com.


Tag: Adriano, Inter Milan, Roberto Mancini, Jose Mourinho, Massimo Moratti, Flamengo, Sao Paolo

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

garislembut 0 0
Beda kasus dan kepentingan. Bawa mie instan karena masalah selera. Sementara Adriano membawa masalah pribadi ke dalam kerjaan sebagai pemaen pro, untuk yg ini tidak pada tempatnya (utk tidak mengatakan salah) : D
injurytime 0 0
Salah juga ndak papa kok Mas hehehe... Kadang perumpamaan memang tidak bisa apple to apple... Sekadar mencoba mengambil abstraksi dari sebuah peristiwa dan berharap kita bisa menemukan benang merah dalam keseharian kita... but thanks untuk masukannya...

Silahkan login untuk memberikan pendapat