Belajar Menjadi Suporter 3

Selasa, 29 Sep '09 23:52

Membaca tulisan Arista, pikiran saya terbang ke Iwan Fals yang pernah saya temui sekitar 20 tahun lalu.

Kata bang Iwan, orang Indonesia itu senang berpartisipasi pada konteks yang tak perlu. Di kelas sekolah, murid senang membunyikan suara dengan memukul meja. Di konser musik, penonton ambil bagian dengan cara lempar benda ke penonton lain jika tak mau dibilang pasti ada tawuran.

Saya jadi berpikir apa yang terjadi dalam konteks suporter Indonesia? Dukungan yang "berlebihan". Menyanyi saat tim sedang bermain adalah sebuah kewajaran. Tetapi di Indonesia harus pula menggunakan gerak. Inilah partisipasi yang tak perlu.

Aremania, Pasoepati, Jakmania dan banyak lainnya selalu menggunakan pemandu untuk menunjukkan gerak. Itu tidak jelek. Bagus dan kreatif. Pembeli tiket stadion malah mendapat dua hiburan sekaligus; pemain di lapangan dan antar penonton sendiri.

Ini memang hanya terjadi di Indonesia -- itulah yang saya tahu sejauh ini. Di Inggris, penonton pun menyanyi. Bahkan suporter Liverpool salah satu "paduan suara" terkeras di dunia. Tapi tak ada gerak dan tak ada pemandu/dirigen.

Pertama, dirigen memang tak diperlukan. Penonton datang ke stadion hanya untuk mendukung tim yang berlaga secara positif dan bukan untuk ikut serta menjadi tontonan (praktis).

Kedua, jika ada dirigen maka dia harus/akan berdiri di depan kebanyakan suporter dan membelakangi lapangan. Di Inggris mungkin saja tak memungkinkan lantaran bentuk stadionnya tak mendukung. Tapi yang pasti, penonton yang berada di luar areanya sendiri kebanyakan tak diperbolehkan. Demi ketertiban.

Suporter Indonesia memang mirip tifosi di Liga Italia. Maklum saja karena orang Indonesia mengenal kompetisi antar klub, dengan segala tetek bengeknya, lebih intens setelah RCTI menjadikan tayangan siaran langsung Serie A sebagai primadona program sport mereka di awal 90-an.

Padahal persepakbolaan Italia kini mengalami keterpurukan lantaran suporter sebagai salah satu penyebab. Tawuran dan menuntut tim untuk selalu menang adalah praktek umum Italiano sebagai suporter. Tekanan berlebihan, termasuk dengan melakukan demonstrasi di markas latihan tim -- seperti yang dilakukan tifosi Lazio, justru membuat situasi dan psikologis tim makin buruk.

Di Indonesia, suporter menuntut terlalu tinggi kepada timnya. Mereka lupa bahwa pengelola sepakbola di sini justru tak pernah mau kompetisi Indonesia bergerak maju. Suporter Indonesia juga lebih senang menghujat tim lawan secara berlebihan. Atmosfir di dalam stadion tak pernah kondusif karena api sewaktu-waktu bisa muncul. Coba anda sekali-kali masuk ke stadion saat Liga Indonesia bergulir. Saya yakin anda akan dengar satu nyanyian; "Tim Tamu dibantai saja".

Mungkin maksudnya hanya sebagai pembakar semangat bagi tuan rumah dan mematahkan mental tim tamu. Tapi tidak semua orang bisa berpikir demikian. Masih banyak cara menyampaikan dukungan yang lebih positif.

Kawan saya dari Jerman pernah saya ajak nonton Persija di Lebak Bulus. Dia bilang penonton di sini kreatif dan mengagumkan tapi dia juga yakin brutal! Saya tanya apa yang menyebabkannya berpendapat begitu, terutama kesan kedua. "Karena saya lihat banyak polisi dan tentara." Saya harus mengamini pendapatnya. Jumlah aparat keamanan bergaris lurus dengan kemungkinan kerusuhan di stadion.

Lemparan ke dalam lapangan juga praktek umum, bahkan sangat umum. Keputusan wasit yang dianggap merugikan tim tuan rumah, walau keputusan itu benar, lebih sering diapresiasi dengan lemparan ke dalam lapangan, dikatai suap dan sebagainya yang negatif. Ini dilakukan secara massal, bukan individual oknum.

Tapi sedikit banyak, apa yang terjadi pada suporter Indonesia tak lepas dari potret umum masyarakat luas. Sportivitas sangat sulit dipraktekkan di sini. Saya menganggap ini perjalanan waktu karena suporter Indonesia masih menjalani masa transisi pemahaman bagaimana mendukung tim secara positif yang tak menuntut secara berlebihan.

Saya lebih senang suporter dan penonton Indonesia bisa seperti Inggris yang datang ke stadion untuk menikmati permainan. Kemenangan tentu keinginan semua orang, tapi itu bukan satu-satunya esensi di dalam stadion.

©Image: http://mbonjroth.blogspot.com/


Tag: Suporter, dukungan, Liga Indonesia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

entah1982 0 0
di indonesia suporter tidak punya nilai tawar, padahal kita sering dipakai sebagai alat dalam pilkada dan pemilu.

tapi kita tidak punya bargaining position ( sok pinter : D) yang lebih sehingga suporter indonesia selalu "dirugikan"
garislembut 0 0
kalo masalah sering dipakai menjadi massa pilkada/pemilu, yang salah suporternya. : )
wetwetbagaskara 0 0
'Gerak dan tari' yg dilakukan suporter memang tidak perlu. Dalam artian, kalo tidak ada ya nggak masalah. Tapi kalau ada..menurut saya itu bagus, Itu trademark suporter kita.., menjadi salah satu kelebihan diantara beberapa kekurangan..

Silahkan login untuk memberikan pendapat